Dakwah Ramadan Terapi Patologi Sosial

by -7 views

Sesungguhnya Islam adalah agama Samawi, ia berfungsi sebagai Rah­mat dan Ni’mat bagi manusia seluruhnya. Maka Allah SWT me­wahyukan agama ini dalam nilai kesempur­naan yang tertinggi, ke­sempurnaan yang meli­puti segi-segi fundamen­tal dunia dan ukhrawi, guna menghantarkan manusia kepada kebahagiaan lahir batin dunia dan akhirat.

Sebab itu, Dienul Islam bersifat universal dan eternal lagi pula sesuai fitrah manusia dan cocok dengan tuntuntan dhamir (hati nurani) manusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang mulia dalam men­ghadapi dan menerima agama Allah SWT yang haq.

Maka konsekuensinya Islam menjadi agama dakwah, yakni agama yang harus disampaikan kepada seluruh manusia, yang telah ditegaskan pula dengan nash yang jelas pula dalam sumber ajarannya yaitu Alquran dan As-sunnah.

Ajaran-ajaran Islam perlu di­terapkan dalam segala bidang hidup dan kehidupan manusia, dijadikan juru selamat yang ha­kiki di dunia dan akhirat, men­jadikan Islam sebagai nikmat dan kebanggaan manusia. Seperti yang dicontohkan dalam penye­baran Islam pertama, zaman Rasulullah SAW di abad VII, ke­mudian di zaman pengganti-pengganti beliau dari Khulafaur­rasyidin, menyusul zaman ke­emasan Islam.

Sejarah membuktikan bahwa kedatangan Islam di zaman itu betul-betul menjadi juru selamat dan kebanggaan tiada taranya, manusia menikmati Islam sebagai karunia dan rahmat Illahi. Namun demikian, kita yang hidup dalam abad ini tidak boleh terpesona saja dan dinina bobokan oleh ja­man keemasan yang lampau.

Kita sendiri harus bangkit dan memikul tugas, yaitu tugas dan tanggung jawab dakwah Islami­yyah dan ini diawali dengan pe­mahaman dengan sebaik-baiknya, kemudian pengenalan terhadap problematika Islam guna mem­berikan kemampuan dakwah Islamiyyah untuk menjawab tan­tangan dunia modern kini.

Untuk suksesnya risalah suci dalam kondisi dunia modern tentu harus ditopang oleh ilmu pengetahuan seperti telah dileta­kan dasar-dasarnya oleh firman-firman Allah SWT dan sabda-sabda Rasulullah SAW. Karena itu, dasar-dasar keislaman bukanlah merupakan ajaran dogmatic yang mati, tetapi dapat didukung dan dianalisa dengan ilmu. (*)