Keluhkan Capek sampai Disumpahi Kena Azab

by -8 views
SIBUK: Sejumlah operator atau petugas Situng saat mengentri data hasil suara.

METROPOLITAN – Yuniazma Zeliana alias Elin datang kembali ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta Selatan selepas kuliah, Jumat sore, pekan lalu. Wajah lelah tak mampu ia sembunyikan. Elin diminta KPU Jaksel membantu mengentri data ke sistem real count atau Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng).

Mahasiswa  universitas swasta di Jakarta itu tak bekerja sendiri. Di KPU Jaksel, saat ini masih ada sekitar 20 relawan pengentri Situng. Elin bertugas sebagai verifikator. Ia jadi garda terakhir Situng sebelum dikirim ke server KPU dan kemudian muncul di hadapan publik. Ia menjelaskan, biasanya bekerja bersama delapan hingga sembilan rekan dalam satu tim. Tim itu terdiri dari satu orang verifikator, tiga orang pemindai dan sisanya menjadi petugas entri data. Mereka bertugas menangani data dari dua kecamatan.

Timnya menerima salinan formulir C1 yang berisi rekapitulasi penghitungan suara pemilih di TPS dari Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Pihaknya kemudian mengecek kelengkapannya, lalu dipindai dan diinput. Setelah itu muncul di bagian verifikasi. “Tim verifikasi mencocokkan hasil input dan scan, sama atau tidak, baru bisa diverifikasi,” kata Elin.

Rekan Elin, Ilham Munniam, menyebut alur kerjanya memang sederhana. Namun pada praktiknya sering kali tak semulus yang direncanakan. Ilham yang bertugas sebagai pemindai sering kali mendapati salinan C1 diberikan tak tepat waktu. Selain itu, C1 yang diterima juga belum tentu lengkap. Sehingga petugas entri Situng harus mengembalikannya ke petugas KPPS atau PPK untuk diperbaiki. Ilham dan timnya pun harus menunggu kembali hingga berkas lengkap. Masalah tak berhenti di situ. Meski sudah lengkap, beberapa kali Ilham menemukan salinan C1 lecek ataupun hanya fotokopian.

Proses unggah ke server KPU juga sering terkendala jaringan. Para petugas terpaksa menunggu bahkan mengulang pekerjaan mereka. Ilham mengaku harus siaga hampir 24 jam pada awal masa entri Situng. Namun, saat ini jam kerja dibagi dua shift. Pukul 08:00-16:00 dan 16:00-08:00 WIB. Ilham biasanya mendapat shift malam karena harus mengunggah pindaian C1 yang membutuhkan kecepatan internet memadai. “Ada beberapa proses pengulangan kerja yang dari situ bikin capek. Kemudian terjadi human error. Benar-benar pengulangan beberapa kali itu bikin capek,” kata Ilham.

Elin menambahkan, masalah lainnya adalah kedisiplinan administrasi petugas TPS. Sering kali tim entri Situng mendapat salinan yang tak sesuai standar. Misalnya salinan C1 yang diserahkan tidak ditandatangani saksi atau bahkan tak ada data yang ditulis sama sekali. Elin juga sering menemukan salah penghitungan di salinan yang ia terima. “Kesalahan angka C1, publik mengiranya kecurangan, kesengajaan. Padahal nggak ada kesengajaan, karena kita riil dari sini (salinan C1, red). Misalnya ditulis 2+3=10, kita nggak boleh mengubah walau sudah tahu karena nggak ada wewenang,” ucapnya. (cnn/els/run)