Kutinggalkan Dia karena Materi (1)

by -631 views

Aku seorang wanita mandiri yang tidak mau bergantung hidup ter­hadap orang lain maupun orangtuaku,aku terlahir dalam keluarga sederhana yang mem­punyai adik perempuan kedua duanya masih bersekolah dibang­ku SMA dan SMP.

Orangtuaku sakit sakitan tidak bisà mencari nafkah buat kami semua.Maka, kewajibanku lah yang menggantikan mereka. Saat itu aku berusaha untuk mencari uang sebanyak2nya utk biaya pengobatan orang tua dan sekolah adik-adikku. Saat itu aku berusia 23 tahun dan mempunyai pacar yang sangat setia

Aku mencintainya begitupun dia sebaliknya. Tidak ada kera­guan dalam hati kami akan menghianati cinta kami satu sama lainnya. Aku bekerja di sebuah hotel bintang lima yang ada di daerahku.

Setahun kemudian, hotel tempatku bekerja menga­presiasi caraku bekerja,pengabdianku terhadap peker­jaan. Akhirnya pihak perusahaan memberiku peluang untuk bekerja di salah satu cabang hotel mereka yang ada di Amerika. Aku pun senang setelah mengetahui kabar tersebut. Aku berteriak girang memanggil pa­carku dengan sebutan ”yank,,, yank…yank,…..!”

Dia kaget Dan menoleh, ”ada APA yank ?” tanyanya.

Aku bilang,….”aku ditawarkan untuk bekerja di luar negeri karena INI juga merupakan impianku ,,jadi aku mohon kamu mendukungku agar aku sukses Dan kamu bisa menunggu ku sampai ku kembali,,,

Dia sangat senang dengan berita tersebut.

Aku menelpon orang tuaku yang kebetulan me­reka baru mengaktifkan hanphone nya.merekapun sangat senang.adik2 ku apalagi,senangnya bukan kepalang,aku menjanjikan pengabdian yang be­gitu besar buat adik2ku dengan mencari uang buat biaya sekolah nya.waktu tidak terasa sudah 3 bulan berjalan setelah aku menerima kabar keberang­katanku.

3 bulan proses aku menunggu visa dan kontrak kerjaku beres. Dan aku siap untuk berhijrah. Tangis orangtua,adik-adikku,serta kekasihku mengiringi langkahku sampai di airport.Dan setahun bekerja di sana aku merasa bahagia bisa mencukupi kebutuhan rumah serta biaya sekolah adik-adikku. Bahkan, sebagian keluargaku bisa aku bantu sedikit demi sedikit. Akupun lupa bahwa itu sekedar titipan dan di luar niatku aku telah berubah menjadi sombong serta menganggap remeh orang lain.

Suatu hari pacar ku membicarakan tentang perni­kahan kami. Rencananya dia mau datang melamar aku setelah kontrakku di luar negeri habis. Aku dengan lantang menjawabnya (i wont to marry you,with small money ). Dia menangis dengan kata-kataku, saat itu tanpa rasa bersalah aku menyuruhnya untuk men­cari wanita lain dan menikahinya. Saat itu aku me­rasa berada di puncak. Aku tidak mau tahu apa yang dia rasakan.berhari hari,berbulan bulan dia beru­saha menghubungiku via telephone ,sosial media, bahkan lewat mimpi sekalipun aku menolaknya. (Bersambung)