PAN, Golkar Kehilangan Kursi di Dua Dapil

by -

METROPOLITAN – Dari sumber data yang diperoleh Harian Metropolitan hingga Jumat (3/5) malam, total suara masing-masing partai politik (parpol) dan calon legislatif (caleg) di Dapil I, II dan IV sudah berhasil direkap sesuai hasil pleno Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) di kecamatan. Di Dapil II misalnya yang meliputi delapan kelurahan, Bantarjati, Tegalgunduk, Kedunghalang, Ciparigi, Cibuluh, Ciluar, Tanahbaru dan Cimahpar, suara tertinggi (ranking 1) diraih Gerindra dengan total 18.796 suara atau sebesar 18,21 persen. Suara tersebut merupakan akumulasi suara partai dan caleg Gerindra. Setelah dibagi dengan beberapa bilangan ganjil, diprediksi Gerindra di Dapil II akan meraih dua kursi DPRD Kota Bogor. Yakni petahana Sopian Ali Agam (kursi 1) dan Azis Muslim (kursi 8).

Sedangkan di urutan kedua, PKS memperoleh 16.671 suara (16,15 persen). Dengan demikian, partai berlambang padi dan bulan sabit itu berhasil merebut dua kursi setelah dibagi beberapa bilangan ganjil. Yakni pada kursi kedua diraih Atang Trisnanto dan kursi kesembilan diraih Endah Purwanti. Sedangkan di posisi tiga besar ada PDI Perjuangan yang memperoleh 12.408 suara atau 12,02 persen. Dengan suara tersebut, partai pengusung capres 01 itu mendapat jatah satu kursi sesuai penghitungan menggunakan motode sainte lague.

Jika melihat posisi tiga besar tersebut, perolehan suara partai mengalami pergeseran dibanding pada pemilu 2014. Seperti Gerindra dan PKS yang berhasil merebut suara di Dapil II, hingga membuat kursi PAN yang sebelumnya berhasil dikuasai caleg incumbent Romdoni terpaksa hilang. Khusus di Dapil II Kota Bogor, PAN terpaksa gigit jari karena harus kehilangan kursi. Sedangkan PPP dan Demokrat masih bisa mempertahankan masingmasing kursinya berjumlah satu.

Terkait hilangnya kursi PAN Kota Bogor di Dapil Bogor Utara, Ketua DPD PAN Safrudin Bima mengaku akan menunggu hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bogor. “Kami memilih menunggu hasil resmi dari KPU. Karena pleno kan belum selesai, masih berproses,” tegasnya. Sementara salah satu caleg PAN yang berjuang di Dapil Bogor Timur Tengah, Fajari Aria Sugiarto, mengatakan bahwa selama ini seluruh kader PAN telah bekerja maksimal mendongkrak suara partai. “Ya untuk pileg tahun ini mungkin belum rezeki PAN mewakili Dapil Bogor Utara. Tapi bagaimana juga kader-kader PAN di Bogor Utara sudah berjuang semaksimal mungkin,” katanya.

Apa yang dialami PAN juga sama persis dengan apa yang dirasakan Golkar di Dapil IV Bogor Barat. Dari kuota sepuluh kursi, Golkar yang pada pileg 2014 bisa meraih dua kursi justru merosot. Berdasarkan rekapitulasi penghitungan suara, Golkar hanya bisa mengantarkan Heri Cahyono kembali menduduki kursi DPRD Kota Bogor.

Sedangkan kursi dewan yang sebelumnya diisi Atmaja, terpaksa harus hilang direbut PKS yang memperoleh suara terbanyak. Perolehan suara akumulasi partai dan caleg yang berhasil diraih sebesar 12.621 suara. Posisinya berada di urutan keempat sebagai partai dengan suara terbanyak, setelah di posisi teratas ada PKS (29.566 suara), peringkat kedua diduduki PDI Perjuangan (20.244 suara) dan di peringkat tiga dikuasai Gerindra (17.825 suara). Dengan raihan suara tersebut, tak heran bila PKS berhasil merebut kursi Golkar yang sebelumnya memiliki dua kursi. Dikonfirmasi hal tersebut, Ketua DPD Golkar Kota Bogor Tauhid J Tagor enggan berkomentar banyak. Tagor mengaku pihaknya masih menunggu hasil keputusan rapat pleno pada Sabtu (4/5).

”Kami tidak akan berkomentar banyak soal kabar ini. Kami akan menunggu hasil pleno. Baik dua atau satu kursi,” jelasnya saat dikonfirmasi Harian Metropolitan, Jumat (3/5). Meledaknya suara PKS) di Kota Bogor yang berimbas pada bertambahnya raihan kursi di sejumlah dapil dinilai berkaitan dengan efek pemilihan presiden (pilpres) 2019. Di Kota Bogor sendiri, pasangan yang diusung PKS yaitu Prabowo-Sandi menang dengan perolehan suara yang cukup signifikan.

Direktur Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Yusfitriadi mengatakan, ada tiga hal yang menyebabkan suara PKS melonjak di Kota Bogor dan wilayah lain. Pertama, isu yang dibangun di pilpres 2019 adalah isu identitas. Partai yang mengusung pasangan nomor urut dua disebut sebagai pendukung ulama dan hal lainnya yang berkaitan. Kondisi itu menguntungkan PKS yang mengambil momen dengan mencitrakan diri secara tegas mendukung 02.

“Gerindra juga mendapat efek yang sama, khususnya faktor pilpres. Karena isu yang dibangun adalah isu identitas, otomatis partai yang mengusung capres tersebut mengalami kenaikan. Ada sebutan partai pendukung ulama dan lainnya dan ini berpengaruh kuat. Di Kota Bogor pun sama, isu identitas nyatanya masih berpengaruh dan PKS mampu memanfaatkan momentum itu,” kata Yusfitriadi. Yang kedua, Yusfitriadi menilai ada limpahan suara dari eks HTI dan FPI yang pada pemilu kali ini memilih dan mendukung 02. Di Jawa Barat, jumlah keduanya dinilai cukup banyak sehingga cukup menyumbang suara untuk PKS.

“Segmen tertentu seperti HTI dan FPI, termasuk kalangan habib, ikut menyumbangkan suaranya di pemilu kali ini. Kalau dulu mungkin kebanyakan golput. Ini otmatis akan menaikkan suara PKS dan Gerindra karena keduanya sangat kental dengan calon yang diusung di pilpres,” terangnya. Ketiga, partai pendukung 02 di pilpres di luar PKS dan Gerindra seperti PAN tidak banyak mendapat efek ekor jas dari pilpres 2019. Musababnya, PAN terlihat tidak setegas Gerindra dan PKS dalam mendukung 02. Kondisi itu menyebabkan mayoritas pemilih 02 melimpahkan suaranya ke PKS dan Gerindra.

Bagi Yusfitriadi, mayoritas warga tidak melihat figur caleg di pemilu 2019 dan diuntungkan dengan partai. Terlebih, sistem yang rumit juga memaksa pemilih lebih melihat partai dibanding caleg. “Kalau isu yang dikembangkan masing-masing partai seperti SIM (Surat Izin Mengemudi, red) seumur hidup atau penghapusan pajak, rasanya tidak berpengaruh besar. Jadi bukan karena ini. Selanjutnya semangat dari 2014 untuk Jokowi tidak manggung lagi mengkristal di PKS dan Gerindra, yang kesolidannya diprediksi akan terus berlanjut sampai nanti,” ungkap Yusfitriadi.

Kondisi terbalik justru dirasakan PAN Kota Bogor. Seperti di atas, Yusfitriadi menyebut PAN tidak terlalu kebagian efek pilpres dibanding PKS dan Gerindra. Ditambah meskipun kader PAN saat ini yaitu Bima Arya menjadi wali kota Bogor, kondisi itu tidak terlalu berpengaruh lantaran Bima sendiri kurang mencitrakan diri sebagai kader PAN selama ini. “Nggak berpengaruh meskipun Bima Arya jadi kepala daerahnya. Sejauh ini Bima Arya tidak menjadi simbol PAN atau selama ini tidak mencitrakan diri sebagai kader PAN secara gamblang. Sehingga kemudian tidak terlalu berpengaruh ke masyarakat,” tandasnya. (yos/c/fin/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *