Politik Sudah Selesai, Serahkan pada Hukum

by -7 views
JALIN KERUKUNAN: Para tokoh dan elemen lainnya saat buka bersama dan berbagi bersama yatim di Vihara Dhanagun, Kota Bogor.

Para tokoh berbagai lintas menggelar buka bersama di Vihara Dhanagun Kota Bogor, Selasa (21/5). Momen itu menjadi penyejuk di tengah perbedaan yang ada, termasuk soal politik. Sejumlah tokoh dan pemuka agama yang hadir sepakat pemilu telah usai dan waktunya merajut kebersamaan dalam bingkai perbedaan.

METROPOLITAN – Panitia  acara, Arifin Himawan, mengatakan bahwa soal tensi politik yang kini masih memanas dirinya menyarankan agar demokrasi dipercayakan kepada institusi yang sudah mengatur, seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Baginya, semua pihak yang berkumpul di Dhanagun itu tidak lagi melihat latar belakang politik karena pemilu telah usai. “Saya kira demokrasi kita percayakan ke institusi yang sudah mengatur. Kalaupun ada permasalahan, ada Mahkamah Konstitusi (MK). Saya kira di sini kami tidak lagi melihat politik. Bagi kami, politik sudah selesai,” kata lelaki yang akrab disapa Ahim.

Yang jelas, dirinya berharap siapa pun presiden terpilih bisa memakmurkan dan menyejahterakan rakyat Indonesia. Pemimpin terpilih harus mampu membawa Indonesia menjadi negara yang tidak berpangku tangan. “Siapa pun presidennya, itu simbol negara kita. Harapan kita siapa pun yang terpilih bisa memakmurkan, menyejahterakan Indonesia. Tidak lagi menjadi negara yang mengharapkan orang lain membantu, tetapi bagaimana kita bisa berkiprah dan bisa membantu negara lain. Yang pasti rakyat Indonesia harus lebih makmur dari sebelumnya,” harapnya.

Menurut Ahim, tidak semua yang datang dalam buka puasa bersama ini merupakan umat muslim. Namun, semuanya bisa duduk bersama dan saling berbagi kapada saudara-saudara umat muslim. Tentunya kondisi ini menjadi contoh baik yang harus dirawat, termasuk di tengah perbedaan politik. “Di sini bisa kita lihat persatuan dan kesatuan menjadi penting.

Walaupun kita berbeda, kita bisa duduk bersama. Kami harapkan Bogor menjadi kota kondusif dan bersatu. Jangan lagi lihat perbedaan, biar perbedaan jadi kekuatan kita. Bagaimana dalam perbedaan bisa bergotong-royong dan saling membantu,” harapnya. Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor KH Abdullah Mustofa bin Nuh menjelaskan, satu-satunya jalan terbaik untuk menempa kedamaian dan keamanan di tengah situasi politik saat ini adalah dengan mengikuti hukum.

“Hukum sudah ada, perangkatnya lengkap, apa lagi? Kalau keluar dari hukum namanya petualang, yang digunakan hukum rimba,” kata pria yang akrab disapa Kiai Toto saat menyikapi aksi di Jakarta yang sempat berlangsung panas. Dirinya pun menyayangkan soal aksi yang sempat rusuh. Menurutnya, kegaduhan tidak perlu terjadi jika semua sayang dengan bangsa Indonesia.

“Itu tadi yang saya sayangkan, kan sudah ada perangkat hukum. Kenapa harus membuat kegaduhan seperti itu. Apa tidak sayang dengan bangsa Indonesia ini,” herannya. Meski demikian, Kiai Toto bersyukur Kota Bogor menjadi miniatur keberagaman Indonesia lewat buka bersama di Vihara. Dirinya berharap kebersamaan seperti ini ditiru siapa pun karena kerukunan, kedamaian dan keharmonisan merupakan satu keniscayaan di rumah besar NKRI. Usai buka bersama, mereka juga berbagai kepada 400 yatim dari berbagai wilayah di Kota Bogor. (fin/run)