Saum dan Kepedulian Sosial (Habis)

by -1 views
DR. H. ADE SARMILI, M. SI

METROPOLITAN – Kalau  kita lacak dalam sandaran teologisnya, ibadah Saum sarat dengan faham humanisme yang amat kental. Alquran sebagai sumber utama dalam menyampaikan pesan Saum mengajarkan kepada kita, bahwa hidup menyendiri tanpa memperhatikan dan peduli kepada lingkungan sosialnya tidak ada referensi ilahiyahnya.

Hidup sendiri dan mandiri dalam ketunggalan yang mutlak dan dalam keesaan yang tidak mengenal ketergantungan apa pun, hanyalah sifat bagi Allah semata. Dari titik tolak keimanan yang demikian ini manusia disadarkan untuk mengenal hakikat kehidupannya dan lingkungan sosialnya. Manusia yang mencapai kesadaran batin yang tinggi memandang alam semesta di sekitarnya sebagai suatu kesatuan, di mana kehadiran yang satu terkait, tergantung dan berkepentingan dengan kehadiran yang lain.

Dalam hubungan ini, Alquran memberikan petunjuk untuk selalu memelihara petunjuk untuk selalu memelihara kebersamaan sebagai makhluk sosial dan menempatkan nilainilainya ke dalam pola hubungan kemanusiaan dengan tetap saling menghormati, menjaga, melindungi, mengasihi dan menyantuni sebagaimana diatur dalam sistem ajarannya. Saum sebagai salah satu ajaran yang mempunyai dimensi teologis dengan kekuatan pesan moralnya yang humanis, harus dijalankan berdasarkan tingkat keikhlasan yang tinggi.

Kesadaran batin yang tinggi karena adanya iman yang tumbuh dan berkembang dalam menjalankan ibadah Saum mempercepat proses terwujudnya paham humanisme, khususnya kepedulian kepada sesama. Kepekaan social shaim (orang yang bersaum) yang dilatih melalui pengembaraan spiritual selama saum, seperti menahan haus dan lapar menuntut diaplikasikan dalam wujud memahami perasaan kaum fakir, miskin dan orangorang tertindas lainnya. Shoim akan segera ikut merasakan kepedihan yang mendalam seperti kaum (kelompok) yang setiap harinya mendapatkan kesulitan-kesulitan penghidupan. Wallahu a’lam bishsawab. (*)