Tertembak di Dada, Farhan Tinggalkan Dua Balita

by -16 views
DEMO KEDAULATAN RAKYAT, 7 TEWAS, 200 LUKA-LUKA

Suasana duka begitu terasa saat memasuki rumah Nomor 51, RT 02/07, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo. Isak tangis keluarga pecah saat jenazah Farhan Safero (31), yang merupakan korban kerusuhan di gedung Bawaslu Petamburan, Jakarta Pusat, atas protes hasil pemilu 2019, tiba di rumah duka.

METROPOLITAN – Farhan  Safero merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Ia memang kerap mengikuti pengajian majelis taklim, bukan Organisasi Masyarakat (Ormas). Farhan mengikuti Majelis Nurul Mustofa untuk mengikuti pengajian dan dikenal pecinta habib. “Saya tidak menyangka anak saya menjadi korban,” ujar ayah korban, Syafri Alamsyah, kemarin.

Namun, kepergian Farhan untuk menunjukkan kebenaran membuat Syafri bangga dan meyakini Farhan mati syahid karena berada di jalan kebenaran. Ada dua titik bekas peluru yang mengenai badan Farhan, satu titik berada di bawah leher depan serta titik kedua di bagian dada hingga menembus bagian belakang. Syafri menjelaskan, sejak Farhan menikahi Komariah dan memiliki dua anak, yakni Khairen Dzakira Shaquila (5) dan Izzatul Maula Shaqila (1,5), Farhan tinggal di Cikarang. Namun, Farhan datang ke Depok untuk mengunjungi keluarganya.

Syafri tidak menyangka polisi tega menembak anaknya. Padahal, ia mengaku anaknya tidak ikut dalam kerusuhan tersebut. “Anak saya tidak ikut dalam kerusuhan, namun Farhan berjaga di rumah habib,” terang Syafri. Syafri menuturkan, Farhan berangkat pada Selasa (21/5) dari Cikarang menuju rumah Habib Rizieq untuk berjaga di markas FPI. Namun saat mendegar terjadi kerusuhan pada malam hari, ia masih berada di rumah Habib Rizieq.

Namun entah kenapa anaknya menjadi korban. Bahkan, Syafri mendapat informasi tersebut setelah kerabatnya menelepon dan pihak Rumah Sakit Budi Kemuliaan memberitahukan bahwa Farhan akan dikirim ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Syafri mengapresiasi dukungan moral yang diberikan kepada keluarganya atas kepergian Farhan, baik dari aparatur pemerintahan setempat hingga Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang mengirimkan karangan bunga sebagai belasungkawa atas meninggalnya Farhan. “Terima kasih kepada semua yang telah memberikan dukungan moral kepada kami,” ucap Syafri.

Di tempat yang sama, kerabat Farhan Safero, yakni Syarif Al Idrus, mengatakan bahwa Farhan bersama dirinya berjaga di markas besar FPI Petamburan yang berangkat sekitar pukul 24:00 WIB bersama 20 orang lainnya dari Bekasi Timur. Saat berada di sekitar lokasi kejadian, ia bersama Farhan melihat aksi massa yang dipukul mundur aparat keamanan. Bahkan, aparat masuk ke Markas FPI hingga terjadi keributan. Pada peristiwa tersebut, sambung Syarif, terdengar suara tembakan hingga selongsong peluru berjatuhan.

Diperkirakan sekitar 15 selongsong yang berserakan di sekitar lokasi. Setelah reda, ia pun berusaha menelepon Farhan. Namun, didapati sekuriti rumah sakit yang memberitahukan bahwa Farhan berada di rumah sakit tersebut. “Saya langsung mendatangi rumah sakit untuk melihat kondisi Farhan,” ujar Syarif. Sesampainya di rumah sakit, Syarif mengaku mendapat penjelasan bahwa Farhan telah meninggal akibat luka tembak. Setelah melakukan pengurusan jenazah, Syarif ikut mengantarkannya ke rumah orang tua Farhan di Kampung Rawakalong, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo. “Saya sangat sedih, Farhan merupakan orang baik. Insya Allah mati syahid,” tutup Syarif.

Sementara itu, 42 jam lebih aksi unjuk rasa dilakukan segelintir orang di kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jalan MH Thamrin. Aksi ujuk rasa yang semula berjalan damai pada Selasa (21/5) itu kian memanas usai Salat Tarawih. Bentrokan dengan kepolisian pun tak dapat dihindarkan. Bahkan akibat bentrokan tersebut, ratusan korban luka-luka berjatuhan, enam di antaranya harus meregang nyawa akibat tertembak. Pihak Rumah Sakit Budi Kemuliaan membenarkan adanya korban jiwa akibat tertembak di depan Pasar Blok A Tanah Abang.

Korban tewas itu bernama Farhan Safero, warga Kampung Rawakalong, Kelurahan Grogol, Kota Depok. Direktur Rumah Sakit Budi Kemuliaan Fahrul W Arbi mengatakan, saat ini korban tewas tersebut sudah dibawa ke RSCM Cipto Mangunkusumo. ”Korban waktu datang belum meninggal, jadi sempat diresusitasi. Kemudian tidak tertolong dan kita menghubungi keluarga. Dan kita kirim ke RSCM Cipto,” ujar Fahrul di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, Jakarta, Rabu (22/5).

Fahrul mengatakan, korban meninggal karena mendapat tembakan di bagian dada. Ketika dilakukan penanganan pertama, nyawa korban tidak tertolong. ”Meninggalnya karena ada luka tembak tembus ke belakang dari dada. Mungkin mengenai paru-paru. Kan ada pneumotoraks. Pneumotoraks itu selaput paru robek sehingga udara terkumpul di sana dan kena pembuluh darah besar,” terangnya. Ia melanjutkan, sampai pukul 06:15 WIB, pihaknya sudah menerima 17 pasien. Mereka dibawa ke rumah sakit karena berbagai macam sebab, seperti terkena tembakan. Dua di antaranya sudah dirujuk ke RS Tarakan.

”Korban lainnya ada yang terkena luka tembak di betis, tangan, sendi bahu, ada yang dikirim ke Rumah Sakit Tarakan karena perlu ada tindakan bedah,” bebernya. Fahrul mengaku belum bisa mengungkapkan lebih detail terkait permasalahan jenis peluru yang menembus dada Farhan. ”Laporan yang saya dapat, tidak dilakukan tindakan pengeluaran peluru dari dalam karena waktu sebentar. Jadi tidak tertolong. Nanti ada tim ahli lagi autopsi untuk memastikan penyebab kematiannya,” kata Fahrul.

Sementara saat dikonfirmasi terpisah, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan, polisi sejak jauh hari telah mewanti-wanti akan ada pihak ketiga yang memanfaatkan aksi unjuk rasa tersebut. Dedi mengaku pihaknya masih mengecek kabar adanya korban tewas yang tertembak. Ia mengklaim tim pengemanan unjuk rasa tidak dibekali peluru tajam dan senjata api. ”Masih dicek (korban tembak, red). Yang perlu disampaikan bahwa aparat keamanan dalam pengamanan unjuk rasa tidak dibekali peluru tajam dan senjata api,” kata Dedi. Dedi juga mengaku masih menyelidiki temuan dugaan peluru tajam yang diklaim ditemukan massa aksi dalam mobil polisi di ruas Jalan Brigjen Katamso, Jakarta Barat, Rabu (22/5) siang, tepatnya di dekat Flyover Slipi Jaya arah Kemanggisan.

Massa mengaku menemukan peluru tersebut di mobil Toyota Rush milik Brimob yang diletakkan dalam sebuah peti kayu. Peluru itu lantas disita massa, namun tidak sedikit juga yang berserakan di jalan raya. Sebagian peluru juga banyak diambil warga yang melintas. Pihak Mabes Polri saat dikonfirmasi menyatakan bakal mengecek temuan peluru tersebut.

”Masih dicek. Yang perlu disampaikan bahwa aparat keamanan dalam pengamanan unjuk rasa tidak dibekali peluru tajam dan senjata api,” ujar Dedi Prasetyo. ”Oleh karenanya masyarakat tidak terprovokasi. Polri sudah mengidentifikasi bahwa pelaku provokator pertama warga dari luar Jakarta. Saat ini aparat kepolisian sudah mengamankan lebih dari 62 orang yang diduga pelaku provokator dan melakukan tindak pidana lainnya,” ungkap Dedi. (cn/dic/mam/run)