Ubah Tanah Sepetak Jadi Lahan Duit

by -9 views

Punya lahan sempit dan serba terbatas tak jadi halangan bagi Dede Abdul Halim untuk mengembangkan bisnis pertanian.

PETANI muda asal Kabupaten Ka­rawang ini sukses mengubah sepetak tanah di belakang rumahnya men­jadi kebun dan persemaian buah tin yang mendatangkan untung berkali lipat. Tanah berukuran 10×12 men­jadi tempat Dede mengolah buah tin. Bekas lahan yang dulunya tak terurus sukses dimanfaatkannya untuk mengembangkan bisnis. “Daripada mubazir, lahan belakang rumah ini saya buat kebun dan tempat perse­maian buah tin,” kata Dede.

Ia terdorong menanam buah tin karena buah itu disebut dalam kitab suci Alquran. Selain itu, buah tin di­kenal punya banyak manfaat keseha­tan. ”Terlebih bisnis buah tin masih prospektif karena tergolong jarang, sedangkan peminatnya banyak,” ujar Dede. Setiap bulan, ia mendapat or­der paling sedikit Rp1.000 batang bibit buah tin. Dengan harga jual Rp20.000 per batang, Dede bisa me­raup untung rata-rata Rp20 juta setiap bulannya. ”Saya kirim bibit buah tin ke Bandung, Purwakarta, Subang ba­hkan sampai Lombok,” tuturnya.

Keuntungan yang diraih Dede makin berlipat jika pohon tin berbuah. Di pasaran, harga jual buah tin cukup tinggi. Untuk satu kilogram buah ma­sak bisa mencapai Rp200.000 hingga Rp300.000. ”Merawat pohon tin tidak merepotkan. Hanya perlu disiram dua hari sekali. Tidak perlu perawatan yang ribet,” katanya. Keuntungan berlipat ganda bagi yang mengulik bisnis pohon tin lebih dalam. Untuk jenis pohon tin tertentu, harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah per batang. ”Selalu ada kolektor yang mencari pohon tin langka. Biasanya menghasilkan buah dengan warna unik, ada garis- garisnya,” kata Dede.

Dede memulai bisnis buah tin em­pat tahun lalu. Lantaran memiliki urat petani dari ayahnya, ia memutuskan tak bekerja setelah kuliah jurusan pertanian. ”Saya memulai bisnis ini dengan modal dengkul. Ngumpulin informasi dan modal dari teman-teman komunitas petani buah tin,” tuturnya.

Dede kemudian berkecimpung da­lan jaringan komunitas petani tin dari Karawang, Purwakarta hingga Subang. Mereka kerap bertukar in­formasi dan seluk-beluk tanaman tin. Kebanyakan anggotanya petani pe­mula usia muda. ”Kami berbagi ba­nyak hal dan saling bantu satu sama lain,” tuturnya.

Empat tahun berjalan, bisnis Dede mulai berkembang. Dia menyediakan berbagai jenis tin seperti Brown Turkey, Green Jordan dan Purple Jordan. Untuk merawat tanaman-tanaman itu, Dede mempekerjakan empat pemuda. Salah satunya Cahya Ningrat (19).

”Di sini saya belajar sambil bekerja, supaya tidak merepotkan orang tua,” kata lulusan SMK jurusan mesin itu. Cahya pun harus menunda cita-citanya menjadi pegawai pabrik lantaran tak juga dipanggil bekerja. (de/feb/py)