12 TAHUN BELAJAR DI BANGUNAN LAPUK

by -27 views

Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) di Jalan Sani’in, RT 01/06, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, kondisinya makin memprihatinkan. Enam ruang kelas kondisinya rusak, satu di antaranya bahkan nyaris ambruk.

Madrasah tersebut berdiri sejak 1997 silam. Menurut salah seorang tenaga pendidik, Dedeh Jubaeda, madrasah itu dibiar­kan rusak sejak 12 tahun silam. Sempat ada bantuan perbaikan pada 2018 namun hanya satu ruangan saja. ”Sempat ada per­baikan, namun hanya satu ruangan kelas yaitu kelas dua saja. Nilai bantuan pun sekitar Rp20 juta,” tutur Dedeh.

Di lokasi, tulang-tulang penyangga atap kondisinya sudah lapuk dimakan zaman. Sebagian plafon bilik bahkan sudah bolong, kayu-kayunya lapuk terlihat menjulur keluar dari dalam lubang.

”Kondisi paling parah ruang saya mengajar di kelas satu, ruang kelas tiga belum ada perbaikan total. Adapun rehab-rehab kecil, kalau mengandal­kan anggaran madrasah tentu sangat jauh dari harapan. Kami saja pendidik hanya bergaji Rp199 ribu melalui bank sete­lah dipotong pajak,” lirihnya.

Pihak sekolah bukan tanpa upaya. Berulangkali mereka mengajukan proposal untuk rehabilitasi sekolah, dari ting­kat kota sampai provinsi, namun belum ada tanggapan.

”Kami hanya berharap ada bantuan, karena ini menyang­kut pembangunan karakter keagamaan anak didik kami. Bagaimana anak-anak ini bisa mendapatkan pendidikan agama dengan nyaman tanpa dihantui ancaman sewaktu-waktu bangunan ini roboh. Jujur saja, siswa kami ketakutan dengan kondisi sekolah se­perti ini,” keluhnya.

Jumlah siswa di MDTA kini 80 orang. Pihak sekolah menga­kui jumlahnya makin berkurang setiap tahunnya. “Wajar saja orang tua khawatir dengan ke­selamatan anak-anaknya ka­rena kondisi bangunannya seperti ini. Apalagi kalau hujan, percikan air pasti masuk ke ruangan kelas. Mereka takut sewaktu-waktu bangunan am­bruk. Tahun lalu madrasah tersebut memiliki 150 anak didik, tahun sekarang 86 dan tentu akan terus berkurang seiring kondisi bangunan yang terus lapuk,” ujarnya.

Terpisah, Kasi Pendidikan Diniyah dan Pontren Kemen­terian Agama Kota Sukabumi, Ludi Jalaludin, mengaku belum menerima laporan soal adanya kerusakan bangunan di MDTA Percontohan Amaliyah.

”Belum ada laporan menge­nai kerusakan bangunan untuk MDTA Percontohan Amaliyah. Dan kalau tidak salah, dulu juga MDTA Amaliyah itu pernah mendapatkan bantuan sekitar Rp10 juta. Tapi untuk yang se­karang nanti akan coba kita cek dulu,” tutur Ludi.

Ludi mengungkapkan, jika memang nanti setelah dicek MDTA Percontohan Amaliyah ini masuk prioritas, maka akan coba kita usahakan untuk mendapat anggaran bantuan di 2020.

”Ada anggaran rutin per tahun dari pemerintah daerah untuk satu kecamatan satu madrasah, dan alokasinya Rp10 juta. Namun untuk 2019 ini sudah teraloka­sikan, semoga bisa masuk di 2020. Tapi akan kita cek dari sekarang,” sambung Ludi.

Ludi menyebutkan, di Kota Sukabumi terdapat sekitar 180 madrasah dan MDTA Percon­tohan Amaliyah, termasuk madrasah yang standar dari segi peserta ujian tahun ini. ”MDTA Percontohan Amaliyah termasuk madrasah yang stan­dar dari jumlah peserta ujian, yaitu 21 orang,” pungkasnya. (de/skb/feb/run)