Daftar Sekolah Mirip Antrean Pasien BPJS

by -25 views

Hari pertama Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB), sejumlah SMA/SMK negeri langsung diserbu orang tua murid. Mereka rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan kursi sekolah. Bahkan, tak sedikit yang nekat menunggu pendaftaran dibuka sejak subuh, mirip pendaftaran pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

METROPOLITAN – Antrean panjang mewarnai suasana pendaftaran pada hari pertama PPDB tingkat SMA di Kota Bogor. Di SMA Negeri 1 Kota Bogor, orang tua siswa sudah mendatangi sekolah sejak dini hari. Petugas keamanan sekolah mengatakan bahwa para orang tua murid sudah tiba di SMA Negeri 1 Kota Bogor sekitar pukul 02:00 WIB. Namun pihak sekolah baru membuka registrasi pendaftaran sekitar pukul 04:30 WIB.

”Saya datang jam 06:00 WIB tapi tadi saya pas datang sudah banyak yang antre. Sudah ada yang nunggu antrean. Pas saya tanya, itu memang sudah dari pagi pukul 05:00 WIB,” katanya di sela-sela pendaftaran, Senin (17/6). Ia pun mengaku sengaja datang di hari pertama untuk menghindari antrean. Namun, rupanya peserta PPDB di hari pertama membeludak. “Ini udah mirip antrean BPJS,” sindirnya. Di sejumlah rumah sakit, khususnya milik pemerintah, pasien BPJS terbiasa mengantre sejak subuh demi mendapatkan nomor antrean. Ini pula yang terjadi di RSUD Kota Bogor. Setiap pasien BPJS sudah rela menunggu pendaftaran dibuka. Bahkan sejak pukul 05:00 WIB, biasanya pasien BPJS sudah berjajar demi mendapatkan nomor pasien.

Kondisi itu dianggap serupa dengan proses PPDB 2019. Di mana setiap orang tua murid harus rela mengantre dari pagi agar mendapatkan urutan lebih awal. Warga Kelurahan Sindangbarang, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Dewinta (50), mengaku sudah mengantre sejak pukul 06:30 WIB. Namun, hingga pukul 11:30 WIB berkas anaknya belum juga diverifikasi. “Antreannya membeludak sekali. Kita tahu memang pendaftarannya sampai Sabtu, tetapi kita sengaja daftar hari pertama supaya bisa mengambil langkah lain kalau terlempar dari SMAN 1,” ujar Dewinta.

Salah seorang pendaftar PPDB lainnya, Nita (53), dari Desa Ciapus, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, mengaku dibuat pusing oleh sistem PPDB 2019. Menurut Nita, PPDB 2019 terbilang cukup rumit dan menyusahkan calon siswa dan orang tua. ”Pusing, belum ngerti banget. Anak kita bisa masuknya ke mana belum ngerti. Kalau SMP kan online dulu, jadi kelihatan. Ya ini coba-coba saja, siapa tahu ada rezekinya,” kata Nita.

Humas SMA Negeri 1 Kota Bogor Yusuf Sulaeman mengatakan, hampir mayoritas pendaftar PPDB di SMA di Kota Bogor membeludak. Hal tersebut terjadi lantaran ada informasi yang tidak benar terkait prioritas yang diberikan pihak sekolah kepada pendaftar PPDB hari pertama. “Ya mungkin ada kabar yang daftar duluan lebih diprioritaskan sehingga berbondong-bondong datang, padahal informasi itu tidak benar. Kami juga tadi sampaikan kepada peserta untuk tidak usah datang pagi-pagi. Sesantainya saja karena buka sampai Sabtu,” kata Yusuf.

Menurut Yusuf, hingga pukul 11:00 WIB, pendaftar di SMA Negeri 1 Kota Bogor mencapai 300 lebih. Sementara kuota peserta didik hanya 324 siswa. Dibanding tahun lalu, sistem PPDB 2019 tidak jauh berbeda. Pemerintah Provinsi Jawa Barat tetap menerapkan 55 persen kuota jalur zonasi jarak, 20 persen jalur zonasi siswa tidak mampu dan anak berkebutuhan khusus 20 persen, jalur zonasi kombinasi 15 persen, jalur prestasi ujian nasional 2,5 persen, jalur prestasi non-UN 2,5 persen dan jalur perpindahan tugas orang tua sebanyak 5 persen.

“Semua peserta didik di sini ditentukan melalui sistem. Sekolah juga tidak bisa menentukan. Kuota tetap diutamakan yang zonasi, jadi tidak ada itu istilah titip-titipan,” ucap Yusuf. Membeludaknya pendaftar PPDB juga terjadi di SMK Negeri 3 Kota Bogor. Kepala SMK Negeri 3 Kota Bogor Uus Sukmara mengaku kebanjiran pendaftar.

Untuk hari pertama saja, pendaftar sudah mencapai 500 hingga 600 orang. “Sebenarnya target kami per hari hanya melayani 200 pendaftar. Bagi pendaftar yang belum terlayani, kita akan dilayani keesokan harinya hingga hari berikutnya. Insya Allah bisa terlayani hingga akhir pendaftaran PPDB berakhir Sabtu nanti,” kata Uus.

Untuk melayani pendaftar PPDB Online, pihak sekolah mengerahkan tak kurang dari 40 guru sebagai tenaga penguji dan proses seleksi PPDB yang dimulai dari pukul 07:00 hingga 14:00 WIB. “Dibatasinya seleksi pendaftar hanya 200 orang per hari dikarenakan kami butuh energi ekstra untuk bisa melayani pendaftar enam hari berturut-turut,” ujarnya. Sementara pelaksanaan PPDB di SMAN 1 Cibinong sempat diwarnai ketegangan. Salah satu orang tua murid, Dace Maulana, mengeluhkan panitia yang tidak siap menggelar verifikasi data pendaftar, sementara antrean cukup membeludak.

“Kacau nih yang daftar membeludak, panitia tidak siap. Akhirnya kacau balau. Saya sendiri antre dari jam enam pagi tidak dapat nomor,” kata Dace. Hal tersebut juga terjadi di SMAN 5 Bogor. Orang tua yang tak sabar menunggu nyaris ribut. Itu juga dipicu adanya kesalahpahaman informasi atas sistem zonasi yang diterapkan dalam PPDB. “Masyarakat beranggapan jika tempat tinggalnya dekat dengan sekolah, semakin cepat datang ke sekolah, maka semakin cepat juga proses pendaftaran, serta mendapatkan perlakuan khusus dengan memprioritaskan sistem zonasi,” bebernya.

Padahal, penerapan sistem zonasi pada PPDB tahun ini lebih mengharuskan calon peserta didik untuk bersekolah di sekolah yang memiliki radius terdekat dari domisilinya masingmasing. “Masyarakat jadi gagal paham soal zonasi sekolah di PPDB tahun ini. Makanya antrean panjang sudah terjadi sejak subuh tadi,” ungkapnya. Sekadar diketahui, dalam PPDB 2019 ini, 14.745 calon siswa baru SMA dan SMK se-Kota Bogor memperebutkan 5.256 kursi. (ogi/c/feb/run)