Kutinggalkan Selingkuhanku demi Anak

by -2,108 views

Aku pria terlahir pada 1976, tahun 2000 adalah awal per­kenalanku dengan HM (teman satu kerja). Se­mula hubungan kami biasa saja, tapi makin lama kita makin dekat dan sangat akrab. Saat itu aku sudah memiliki keka­sih dan akan menikah. En­tahlah, tapi hubunganku dengan HM semakin akrab, ke­pada tunanganku aku menyebut HM sebagai sahabat.

Awal tahun 2004 akhirnya aku menikah dengan tunanganku, HM bahkan hadir di pesta pernikahanku itu. 9 bulan kemudian anak per­tamaku lahir. Barangkali karena telah berpacaran cukup lama, hubung­anku dengan isteriku biasa saja, bahkan bisa dikatakan tidak mesra.

Pada tahun 2006, aku dipindahkan ke divisi kerja HM, perpindahan posisi ini membuatku sangat senang dan kembali bergairah, tanpa sadar aku makin dekat dengan HM. Masih kuingat bulan April tahun itu aku menyatakan cintaku ke HM, dan tanpa kuduga HM juga meny­ukaiku dan menerima cintaku. Sejak saat itu aku semakin mesra dengan HM, kemana-mana kami selalu bersama, bahkan pulang pergi kerja aku yang menjemputnya… aku sampai cuek dengan isteriku sendiri.

Aku merasa sangat bahagia apabila berada dekat dengan HM, dia begitu perhatian dan pintar, aku sangat men­cintainya, sampai saat inipun aku masih sangat sayang. Kisah perselingkuhanku hanya bertahan satu tahun. Tahun 2007, affairku ketahuan istriku, rumah tang­gaku seakan mau runtuh sejak isteriku tau kalo aku berselingkuh.

Aku bingung.. bahkan sangat bingung, apakah aku harus bercerai dan memilih menikah dengan HM? jika mengikuti ego mungkin sudah kuceraikan istriku tapi yang selalu terpikir olehku adalah nasib anakku. Aku sudah punya anak dan aku tidak mau anakku terganggu mentalnya gara-gara orang tuanya bercerai. Akhirnya aku me­milih mempertahankan rumah tanggaku dan kembali ke istriku.

Pada tahun 2007 itu juga aku mulai sering bertengkar dengan HM, apapun bisa jadi masalah, berkali – kali aku dan HM mencoba untuk berpisah, tapi hati tetap tidak mau, terasa begitu sulit. Kalau dua hari saja tidak ketemu atau tidak dengar suaranya aku merasa sangat tersiksa dan sangat kangen.

Tapi apabila teringat dengan anak, maka perasaan kangen jadi hilang dan membuatku sangat ingin berpisah dengan HM. HM begitu kuat pengaruhnya dalam diriku, buatku dialah satu-satunya cewekku yang terbaik, seandainya aku belum punya anak, aku pasti menikahinya.

Ahirnya di tahun 2008 tepatnya di awal september, dengan ber­bagai cara dan perasaaan yang sangat bersalah aku memutuskan untuk pisah dengan HM, dengan berbagai cara yang aku buat-buat. Meskipun dalam hati kecilku aku tidak mau pisah tapi keadaanlah yang mengharuskannya.

Aku sangat sayang dengan HM, sampai saat inipun aku sangat menyayanginya. Aku sangat menyesali dengan apa yang telah aku lakukan kepada HM, aku telah menyakitinya. Aku berharap HM mau memaafkan aku. Aku masih bermimpi suatu saat aku kan bersama lagi dengan HM, dengan kondisi yang sangat membahagiakan. (cer)