Sempat Jadi Guru Honorer dan Main Film

by -17 views
BERPOSE: Ketua MK Anwar Usman akhirakhir ini menjadi perbincangan karena memimpin sidang sengketa pilpres 2019.

Nama Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman akhir-akhir ini ramai dibicarakan, terlebih saat dirinya memimpin persidangan sengketa pilpres 2019. Begitu juga saat mengatakan dirinya hanya takut kepada Allah pada sidang sengketa pilpres, Kamis (27/6) kemarin.

METROPOLITAN – Anwar  Usman juga sempat meminta maaf karena sidang mundur selama 15 menit dari jadwal yang ditentukan. Ia membuka sidang dengan mengatakan dirinya dan hakim lainnya hanya takut kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. “Seperti yang kami sampaikan sebelumnya, bahwa kami hanya takut kepada Allah,” kata Anwar Usman di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat.

Anwar mengatakan, MK telah berijtihad, berusaha sedemikian rupa untuk mengambil keputusan dalam perkara sengketa pilpres tersebut. Pengambilan putusan, didasarkan pada fakta-fakta yang terungkap dan terbukti dalam persidangan. “Kami akan mempertanggungjawabkan kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa sesuai dalam surat An Nisa 58 dan 135, surat Al Maidah Ayat 8 sebagaimana yang diungkapkan pemohon dan pihak terkait,” ujarnya.

Ia juga berpesan agar semua pihak bisa menerima putusan yang diberikan, walaupun ada pihak yang tidak puas. “Kami menyadari sepenuhnya bahwa putusan ini tidak mungkin memuaskan semua pihak,” kata Anwar. “Untuk itu kami mohon jangan dijadikan ajang untuk saling menghujat dan saling memfitnah,” ujar Anwar. Anwar Usman adalah pria kelahiran Bima, 31 Desember 1956. Dalam hidupnya, ia tak pernah membayangkan bahwa dirinya kini menduduki jabatan ketua MK.

Pria yang mengawali karier sebagai seorang guru honorer pada 1975 di Jakarta itu dibesarkan di Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Bima, Nusa Tenggara Barat. Ia mengaku terbiasa hidup dalam kemandirian. Lulus dari SDN 03 Sila, Bima pada 1969, Anwar harus meninggalkan desa dan orang tuanya untuk melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) selama enam tahun hingga 1975.

“Selama sekitar enam tahun hidup terpisah dari orang tua, saya banyak belajar tentang disiplin dan kemandirian, karena memang sebagian hidup saya habiskan di perantauan,” jelas putra asli Bima, Nusa Tenggara Barat itu. Lulus dari PGAN pada 1975 Anwar Usman merantau ke Jakarta. Hal itu tentu setelah mendapat restu Ayahanda (Alm) Usman A Rahim beserta Ibunda Siti Ramlah.

Ia merantau ke Jakarta untuk menjadi guru honorer pada SD Kalibaru. Selama menjadi guru, Anwar pun melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1 dan memilih Fakultas Hukum Universitas Islam Jakarta dan lulus pada 1984. Kala itu teman-temannya memilih melanjutkan pendidikan ke IAIN, mengambil fakultas tarbiyah, fakultas syariah atau fakultas lainnya, namun dirinya mantap untuk melanjutkan di bidang hukum.

Selama menjadi mahasiswa, Anwar ternyata menyukai dunia seni. Ia aktif dalam kegiatan teater di bawah asuhan Ismail Soebarjo. Selain sibuk dalam kegiatan perkuliahan dan mengajar, Anwar tercatat sebagai anggota Sanggar Aksara. Bahkan, keseriusannya di dunia teater membawanya ke dunia film.

Ia sempat diajak untuk beradu akting dalam sebuah film yang dibintangi Nungki Kusumastuti, Frans Tumbuan dan Rini S Bono, besutan sutradara ternama Ismail Soebarjo pada 1980. “Saya hanya mendapat peran kecil, namun menjadi suatu kebanggaan bisa menjadi anak buah sutradara sehebat Bapak Ismail Soebarjo. Apalagi film yang berjudul ’Perempuan dalam Pasungan’ menjadi Film Terbaik dan mendapat Piala Citra,” ungkapnya. (lip/mam/run)