Sma 5 Bogor Ngarep Kuota Japres Ditambah

by -19 views
ILUSTRASI: Seorang guru memberikan piala kepada siswi Juara 2 saat upacara di Lapangan SMAN 5, Kota Bogor. Kuota siswa yang mengikuti seleksi melalui jalur prestasi bakal ditambah 5 hingga 15 persen.

METROPOLITAN – Kuota siswa yang mengikuti seleksi melalui jalur prestasi bakal ditambah 5 hingga 15 persen. Ini menyusul adanya revisi jumlah kuota dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Kepala SMA Negeri 5 Kota Bogor, Dewi Suhartini, berharap kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu segera terwujud. “Kami sangat berharap kebijakan Mendikbud mengenai penambahan kuota japres itu segera direalisasikan, sehingga penerimaan siswa baru melalui jalur prestasi bisa ditambah,” katanya. Dewi mengatakan, semua kepala sekolah juga sama. Mereka berharap penambahan kuota itu segera terealisasi. “Bingung juga merekap para siswa yang akan dijaring masuk ke SMA Negeri 5 ini. Yang mendaftar melalui jalur prestasi banyak sekali, sementara kuotanya hanya delapan orang. Sayang kan prestasi mereka jika tidak terakomodasi,” ujarnya.

Menurut Dewi, pihaknya masih menunggu juklak dan juknis dari Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat. Jika penambahan kuota japres itu segera diberlakukan, maka kuota japres pastinya akan ditambah dari delapan bisa menjadi sepuluh atau 12 orang. Meski begitu, penambahan kuota ini jangan ada kuota yang dikurangi dan tidak mengganggu kuota yang sudah ada. “Misalnya mengganti kuota jalur perpindahan dinas orang tua yang tidak terpenuhi bisa dialihkan menjadi tambahan buat kuota japres misalnya,” sarannya.

“Untuk PPDB Online 2019, SMA Negeri 5 Kota Bogor menerima pendaftar yang mengambil nomor antrean sebanyak 895 orang, tapi hanya 633 pendaftar yang terverifikasi. Sisanya mungkin tidak berani melanjutkan daftar di SMA Negeri 5, sementara kuota untuk siswa baru SMA Negeri 5 sebanyak 324 siswa. Tapi jumlah itu pastinya dikurangi juga dengan jumlah siswa kelas X yang tidak naik,” bebernya. Dewi menyebutkan, ketidakberanian orang tua mendaftarkan anakanaknya diakibatkan imbas dari jalur zonasi. “Biasanya kan orang tua itu lihat-lihat dulu jumlah pendaftarnya, kemudian lihat juga jarak zonasinya. Kalau yakin masuk, mereka siap mendaftarkan diri. Tapi kalau nggak yakin masuk ya mereka banyak yang mengundurkan diri,” ungkapnya. (ber/ar/feb/py)