Aku Anak yang tak Diharapkan

by -141 views

PERNAHKAH kalian sadari betapa beruntungnya hidup yang kalian jalani? kalian mesti mensu­kurinya karena tidak men­jalani hidup seberat hidupku saat ini. Aku berusia 20 tahun dan dibesarkan dari se­buah keluarga yang sangat kolot, yang ha­nya mengidamkan anak lelaki karena menurut mereka anak perem­puan tak banyak bergu­na untuk meneruskan usaha keluarga ku.

Tahun-tahun ku jalani hidup bagai seorang pembantu, di caci maki oleh ortu dan saudara-saudara lelaki (aku anak perempuan satu-sa­tunya). Semua pekerjaan rumah aku kerjakan tanpa terkecuali tapi mereka selalu merasa belum puas jika belum mengada-ada masalah untuk dapat memakiku setiap hari.

Aku merasa muak, bosan, benci pada me­reka. Per­cayalah b a ­hwa se­mua orang menganggap kami keluarga terpandang dan har­monis, tapi tidak bagiku. Yang mereka inginkan hanyalah kesempurnaan da­riku tanpa mempedulikan aku seutuhnya. Sejak duduk di bangku sekolah aku me­mang telah berhasil memuaskan me­reka dengan menyodorkan predikat tertinggi di sekolah, hal itu lah yang menunda mereka sejenak untuk tak me­nyiksa batinku.

Tapi setelah itu? sejak kecil mungkin karena merasa tak pernah dianggap dan dipedulikan, aku mencoba me­menuhi kebutuhanku sendiri, berdagang barang ke teman-teman,apa yang ku pakai dari ujung kepala hingga kaki adalah hasil kerjaku sendir. Mereka pun tak pernah sekalipun mengurus SPP sekolahku, beda dengan kakak dan adik ku yang sangat dipenuhi apapun per­mintaan dan kebutuhannya.

Aku selalu memendam kesedihanku sendiri, aku tak pernah bisa terbuka pada mereka terhadap semua masalah yang ku hadapi, aku tertekan dan be­rusaha mencari penyelesaian sendiri.

suatu pagi di kamar mandi, aku ber­darah, yaa, mulutku mengeluarkan banyak darah, kusadari penyakit ku semasa kecil semakin parah dan begi­nilah jadinya.

Tiap pagi aku terus mengeluarkan darah dan semakin banyak, aku mulai jatuh sakit, tapi mereka tetap meny­iksaku dan malah menyalahkanku, sungguh remuk rasanya menangis se­tahun penuh pun tak akan bisa mengem­balikan kekecewaanku selama ini.

Untungnya aku masih memiliki seorang malaikat yang sangat mencintaiku dan selalu berusaha membuatku bahagia. dialah yang mempedulikan kesehatanku dengan membawa ku aktif check up ke dokter. Dan suatu pagi, tak sengaja mama memergoki ku saat kembali memunta­hkan darah, kulihat dari sorot matanya begitu terkejut.

Baru kali ini aku melihatnya menangis tersedu-sedu seumur hidupku. tapi sudah terlambat, sakitku hanya tinggal menunggu waktu, kenapa baru mem­pedulikan aku setelah aku terbaring? Tapi apapun yang terjadi, aku sangat menyayangimu mama, papa, dan kakak – kakak ku serta adik ku, meski kalian tak pernah menyadari betapa sakitnya hatiku kau lukai. (cer)