Aku Dicampakkan Selingkuhanku (2)

by -75 views

Dia memenuhi semua fantasi sex ku yang tak pernah aku dapatkan dari wanita mana­pun. Entah sudah berapa kali kami melakukan perbuatan bejat itu. Perselingkuhan yang kujalani tentu saja butuh modal yang tidak sedikit hingga aku harus bekerja extra keras untuk mendapatkan uang lebih.

Aku bahkan berani korupsi di kan­tor dan meminjam uang teman atau atasanku bahkan seorang rentenirpun aku datangi untuk meminjam uang demi kebutuhan biaya selingkuhku. Aku sudah dibuat buta oleh perem­puan itu.

Hal ini membuat perusahaan tem­pat kerjaku jengah dan membuat atasanku marah besar ketika rekan perusahaannya menagih hutangku ke kantor. Tentu saja aku harus me­nerima konsekuensi dipecat dari pekerjaan karna perusahaan merasa malu salah satu karyawannya berhu­tang besar tanpa instruksi pimpinan.

Aku menarik nafas panjang dan ham­pir pingsan manakala usaha samping­anku menjual produk daur ulang pun digondol anak buahku sendiri Sebagai penyiar pun aku mengundurkan diri. Aku pulang dengan lusuh dan kuyu. Sesaat sampai dirumah istriku terisak sambil memegang hp.

Ya Allah kartu hapeku diambil istri­ku dan dia tengah mengobrol dengan selingkuhanku. Dia terisak karna tak sanggup lagi berkata kata karna dia sudah tau semua cerita dari wanita cantiku yang kuanggap surga dunia­ku itu. Istriku marah dan tak ingin lagi kujamah selamanya.

Aku kesepian hingga satu tahun lebih tanpa perhatian seorang wa­nita. Hingga suatu hari, aku mencari kesempatan kedua untuk menemui si cantik. Aku kumpulkan kekuatan untuk menemuinya kembali, namun sayang dia sudah punya pacar baru meski statusnya sendiri masih istri orang. Aku pun undur diri sambil mengatakan padanya jangan hadir kembali dalam hidupku, terimakasih sudah membahagiakanku.

Waktu berjalan, tiba-tiba suatu hari dia menghubungiku dan ingin bertemu denganku, aku menolaknya karna tak sudi wanita yang aku cintai bersama lelaki lain apalagi dia bukan suaminya.

Tapi, satu waktu hatiku luluh me­nerimanya kembali, namun kondisiku tak sekuat dulu lagi yang setiap kali aku bisa bermesraan bersamanya. Dia mengumpat, menghardik men­caci maki bahkan berani menghina­ku dengan kata kata yang sangat me­nyakitkanku seperti tolol dan goblok.

Ya Allah ternyata aku selama ini te­lah dimabukkan dengan wajah dan keindahan tubuh wanita dan bela­kangan aku tau dia masih bersama laki laki itu jika ia tak mendapatkan uang atau kesenangan dariku. Setiap kali aku katakan kangen padanya dia selalu keluarkan syarat padaku untuk memberinya uang. Jika aku tak punya uang dia memarahiku dengan kalimat yang sangat menyakiti hatiku. “Heh aku gak mau ya hidup susah, enak saja kamu kangen sama aku tapi ke­butuhanku tak mampu kau penuhi”. (Bersambung)