Arjen Robben Pilih Pensiun

by -21 views

METROPOLITAN – ”Saatnya memulai tahapan baru dan saya tidak sabar untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan istri dan anak saya, menikmati segala hal indah yang siap menanti kami,” tutur winger Bayern Munchen, Arjen Robben, seperti diwartakan de Tele­graaf, Jumat (5/7) pagi waktu Indonesia .

Robben, yang telah mengin­jak usia 35 tahun lebih tiga bulan dan 13 hari, akhirnya memutuskan gantung sepatu dari kariernya sebagai pesepak bola profe­sional. Kabar kemungkinan pensiunnya Robben memang telah berembus sejak per­tengahan musim.

Namun untuk membulatkan tekad, si pemain butuh waktu berbulan-bulan. ”Saya telah merenung sejak pertandingan terakhir bersama Bayern Mun­chen untuk membuat keputu­san terhadap masa depan saya,” tutur Arjen Robben seperti di­lansir laman resmi Bayern Mun­chen, Jumat (5/7) pagi waktu Indonesia. Kesulitan lelaki berpaspor Belanda itu bisa dimaklumi, sebab Robben adalah manusia yang ditak­dirkan hidup untuk sepak bola. Menurut ayah Robben yang juga agen sepak bola, Hans Robben, ketertarikan anaknya dengan dunia si kulit bundar sudah dimulai dari bayi. ”Dia sudah mengigau dan merengek ingin masuk ke akademi sepak bola, padahal saat itu usianya baru dua tahun,” kenang Hans, dalam sebuah wawancara radio lokal Belanda.

Hans jelas tidak sampai hati membiarkan anaknya bermain bola di usia dua tahun. Baru pada usia lima tahun, Robben diberi restu masuk ke akademi sepak bola lokal, VV Bedum.

Namun pada akhirnya, ’per­mintaan ngawur di usia dua tahun’ itulah yang bikin Hans beserta istrinya, Marjo, menya­dari anaknya ditakdirkan men­jadi atlet sepak bola. Saking ambisiusnya dengan sepak bola, sejak kecil Robben tak pernah menunjukkan keterta­rikan terhadap pendidikan.

Saat anak-anak seusianya di Belanda menghabiskan wak­tu untuk berangkat sekolah, mengerjakan PR dan belajar menjelang ujian, yang dilaku­kan Robben cuma satu: bermain sepak bola. Saat usianya me­nyentuh 12 tahun, Robben akhirnya meninggalkan aka­demi VV Bedum untuk berga­bung ke sekolah sepak bola yang lebih menjanjikan, Gro­ningan. Di FC Groningen pula Robben menjalani debut senior perdana, tepatnya pada 2000. Memperkuat klub sam­pai 2002, ia tampil 50 kali dan menyumbang delapan gol.

Tim raksasa Belanda, PSV Eindhoven, lantas meminang Robben dan memberi kesem­patan 56 kali main untuk men­cetak 17 gol. Meski tergolong haus gol untuk ukuran gelan­dang sayap di era itu, bukan produktivitaslah yang bikin Chelsea, klub Robben berikut­nya, berminat merekrut si pemain. Kecepatan berlari, kemampuan dribel dan insting menyerang yang begitu alami adalah daya pikat utama Rob­ben. Kemudian berturut-tur­ut Real Madrid dan Bayern Munchen meminangnya.

Walau merupakan klub terakhir, Munchen adalah rumah yang sebenarnya bagi Robben. ”Transfer terbaik dan terpen­ting dalam karier saya adalah ketika saya pindah ke sini (Bayern). Louis van Gaal yang memanggil saya ke sini, dia membuat saya jadi pemain penting untuk tim,” ungkap Robben. Sembilan tahun ia membuktikan komitmennya untuk The Bavarians, mengan­tarkan klub untuk meraih berbagai gelar bergengsi. Ter­masuk yang paling mewah, yakni menjadi juara Liga Cham­pions 2012-2013. Baca juga: Arjen Robben Resmi Pensiun Setelah Karier Panjang 19 Ta­hun Si Manusia Kaca

”Kecintaan saya terhadap sepak bola dan keyakinan kalau saya masih bisa menghadapi dunia terbendung dengan kenyataan bahwa segalanya tak selalu se­suai dengan yang saya harapkan,” ucap Robben saat mengumum­kan kabar pensiunnya. ”Saya sudah bukan anak 16 tahun lagi. Saya sudah tidak tahu lagi bagaimana yang harus dilaku­kan untuk melawan cedera,” imbuhnya. Walau bermain untuk klub-klub besar, rintangan terbesar Robben bukanlah pe­sepak bola-pesepak bola andal lain yang bisa mengancam ek­sistensinya di starting line-up.(tir/feb/run)