Belajar di Lantai dan Gunakan Meja Rusak, Murid SD di Bogor Sering Kesakitan

by -50 views
Murid SD Negeri Kertajaya 2, Desa Kertajaya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor belajar dengan kondisi seadanya.

METROPOLITAN.id – Kondisi Sekolah Dasar Negeri Kertajaya 2, Desa Kertajaya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor sangat memprihatinkan. Siswa-siswi di sekolah tersebut terpaksa duduk di lantai dan menggunakan meja rusak saat kegiatan belajar mengajar. Akibatnya, para murid kerap mengalmi sakit di badan seperti nyeri di pinggul karena keseringan duduk di lantai.

Salah seorang siswi kelas 5, LW mengaku sering mengalami sakit badan karena belajar di lantai. Dirinya merasa tidak nyaman ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar.

“Sering sakit badan bagian pinggul saat belajar. Nggak nyaman jadinya kalau lagi belajar, Mejanya juga sudah rusak dan menulisnya sangat sempit, “ kata LW.

Sementara itu, salah seorang guru di SD Negeri Kertajaya 2, Enjeh membenarkan jika sejumlah siswa kerap mengalami kesakitan saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Dirinya juga tak memungkiri aktivitas belajar di lantai membuat muridnya kedinginan dan bajunya cepat kotor.

“ada aja siswa yang mengeluh sakit badannya karena duduk di lantai, pada pegel kelamaan. Kalau duduk dilantai juga suka kedinginan dan baju-bajunya juga pada kotor, “ terang Enjeh.

Enjeh sendiri merasakan hal serupa ketika sedang mengajar.

Sebelumnya, kondisi pendidikan di Kabupaten Bogor nyatanya masih jauh dari kata layak. Terbaru, puluhan siswa sekolah dasar (SD) di SD Negeri Kertajaya 2, Desa Kertajaya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor harus belajar dengan kondisi seadanya. Mereka terpaksa duduk di atas lantai dan menggunakan meja rusak lantaran sekolah kekurangan meja dan bangku.

Karena keterbatasan ruang, pihak sekolah juga membagi rombongan belajar menjadi dua sesi. Siswa kelas I,2, 4 dan 6 masuk pagi sementara siswa kelas 3 dan 5 masuk siang.

Salah seorang wali murid, Nur Hamah (43) menceritakan, kondisi belajar siswa dengan duduk di lantai dan menggunakan meja rusak sebagai alas menulis sudah berlangsung lama. Ia pun mengeluhkan kondisi tersebut karena baju anaknya cepat kotor akibat belajar di lantai.

“Masa dari rumah bajunya bersih sampe di sini pada kotor karena belajarnya di lantai,” kata Nur.

Menurutnya, persoalan tersebut sudah seringkali diadukan ke kepala sekolah. Pihak sekolah mengaku akan mengusulkan namun tak kunjung ada perubahan.

“Waktu itu semua wali murid diminta iuran sebesar Rp25 ribu untuk membeli kursi dan meja, tapi masih kurang. Rencananya mau diminta lagi sebesar Rp85 ribu per-murid untuk beli bangku dan meja. Di sini juga susah kalau siswa mau buang air besar, harus pulang ke rumah,” Keluhnya. (sir/fin)