Belum Lepas dari Defisit

by -15 views

Metropolitan – Penurunan harga komoditas utama andalan ekspor seperti batu bara dan minyak sawit memberikan dampak negatif terhadap kinerja perdagangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor RI pada Juni 2019 turun 8,98 persen secara tahunan menjadi USD 11,77 mi liar. ’’Harga batu bara turun hampir 30 persen. Kalau di banding kan tahun lalu itu dalam sekali,” ujar Kepala BPS Suhariyanto kemarin (15/7).

Ekspor kategori bahan bakar mineral yang di dalamnya terdapat batu bara memberikan kontribusi 15 persen dari total ekspor Indonesia. Sementara itu, volume ekspor komoditas minyak sawit atau HS15 masih naik 7,33 persen. Sayangnya, nilai ekspor kelompok HS tersebut turun 18,13 persen pada Januari hingga Juni 2019 secara tahunan.

Penurunan disebabkan anjloknya harga sawit 4,8 persen.Setelah batu bara, penopang terbesar kedua ekspor RI adalah mi nyak sawit. Kelompok itu memberikan sumbangan 10,89 persen terhadap total ekspor RI. Anjloknya harga komoditas mem perparah defisit neraca per da gangan pada semester pertama 2019 menjadi USD 1,93 miliar. ’’Angka tersebut merupakan defisit perdagangan semester I yang paling parah sejak 2014,’’ sambungnya.

Ketika ekspor turun, total nilai impor pada Juni 2019 malah naik 2,8 persen menjadi USD 11,58 miliar. Secara total, kinerja neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2019 masih surplus USD 196 juta. Kenaikan impor paling besar terjadi pada komoditas barang modal. Peningkatan impor barang modal menjadi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. ’’Sebab, impor barang modal menandakan aktivitas industri dalam negeri yang masih dalam fase ekspansif,’’ tambahnya.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menuturkan, surplus tipis yang terjadi pada Juni masih dipengaruhi faktor musiman. ’’Biasanya pada momen libur Lebaran terjadi penurunan ekspor dan impor,’’ ungkapnya kemarin. Faisal melanjutkan, masih ada potensi terjadi defisit pada neraca dagang beberapa bulan ke depan.

Bahkan, pihaknya memprediksi, neraca dagang pada Juli kembali defisit. ’’Itu seperti yang terjadi tahun lalu,’’ imbuhnya.Ekonom INDEF Bhima Yudhis-ti ra menguraikan, neraca dagang Juni justru menunjukkan keberlanjutan surplus yang semu. Artinya, kondisi surplus tipis itu di nilai kurang sehat. ’’Karena dipotong libur Lebaran, ekspor dan impor ini menurun.

Ini tidak sehat. Seharusnya surplus itu eks-pornya naik, impornya yang tu run,’’ urainya kemarin.

Ekspor Jatim Turun

Ekspor nonmigas Jatim pada Juni turun hampir di semua komoditas. Yang turunnya paling tajam ialah produk kayu dan barang dari kayu serta produk ikan dan udang. Kepala BPS Jatim Teguh Pramono menga-ta kan, nilai ekspor nonmigas pada Juni USD 1,42 miliar atau turun 17,4 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Namun, pada periode Januari–Juni 2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ekspornya naik 2,61 persen. ’’Penurunan ekspor non migas terjadi karena volume yang di ekspor juga turun,’’ tuturnya ke marin (15/7). (vir/ken/res/c7/oki)