Berangkatkan Haji Kedua Orang Tua

by -381 views

Lantunan doa terus dilafalkan Sunak Mutiha Djumakah, nenek 64 tahun asal Kota Probolinggo, Jawa Timur, yang sehari-harinya berjualan kacang. Nenek Sunak akhirnya berkesempatan menunaikan ibadah haji, sekaligus mewujudkan impiannya sejak dulu. “Alhamdulillah… Alhamdulillah… Semoga di sana sehat dan menjalankan ibadah dengan baik,” ujar Nenek Sunak ketika ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Selasa (9/7).

Warga Jalan Cokroaminoto itu berjualan kacang setelah suaminya meninggal dunia 14 tahun lalu. Ia bahkan tak me­nyangka bisa menunaikan ibadah haji karena dagangan­nya pernah tak laku saat awal-awal berjualan. Nenek Sunak yang kini dikaruniai dua cucu dari anak semata wayangnya itu kemudian belajar kepada salah seorang temannya cara membumbui kacang agar laku dijual.

“Saya beli kacang 1 kilogram, lalu saya kupasi kulitnya. Ke­mudian diberi bumbu, dikemas pakai plastik dan saya jual Rp400, dengan dititipkan ke warung-warung kopi sekitar rumah. Warung-warung yang saya ti­tipi menjualnya Rp500,” tutur­nya.

Penghasilan Nenek Sunak per hari sekitar Rp20 ribu. Uang itu dikelolanya untuk membeli bahan jualan keesokan harinya dan sisanya ditabung. Sekitar sepuluh tahun lalu, tutur Nen­ek Sunak, ketika tabungannya mencapai Rp1 juta, kemudian langsung mendaftar ibadah haji. “Saya tidak tahu cara daf­tarnya. Ada seorang teman yang mengantarkan mendaftar ke BRI. Anak saya sendiri semula tidak tahu kalau mendaftar haji,” ungkapnya. Total biaya haji Rp36 juta tidak terasa di­lunasinya dengan cara mengangsur selama berbulan-bulan setiap tahun, dari sedikit uang hasil berjualan kacang yang dikumpulkannya.

Nenek Sunak mengaku mem­bayar angsuran dengan jumlah yang tidak pasti, terkadang Rp300 ribu per bulan, bahkan pernah berbulan-bulan tidak bisa mengangsur karena uang­nya belum terkumpul. “Bayar angsuran biaya haji itu bisa sampai tiga bulan sekali atau lebih. Terakhir saya melunasi biaya haji membayar Rp3,5 juta saat mendapat panggilan mau berangkat haji,” katanya.

Selain menabung haji untuk dirinya, Nenek Sunak juga memberangkatkan haji kedua orang tuanya. “Alhamdulillah, Mas, dengan niat tulus dan sungguh-sungguh, saya juga bisa memberangkatkan haji kedua orang tua,” kata Nenek Sunak.

Nenek Sunak mengaku ba­hagia dan sedih. Bahagia ka­rena bisa berangkat haji, sedih tidak bisa berangkat haji ber­sama kedua orang tuanya ka­rena sudah meninggal. “Jadi saya hanya bisa menghajikan kedua orang tua dengan haji badal. Saya sedih tidak bisa berangkat haji bersama kedua orang tua,” ujarnya. Nenek Sunak mengatakan, biaya haji badal untuk kedua orang tuanya senilai Rp10 juta. Jum­lah yang harus dibayar memang tidak sedikit, tetapi bisa mem­berangkatkan haji orang tua merupakan kebahagiaan yang tidak ternilai. “Tapi Alhamdu­lillah, saya masih bisa mengha­jikan orang tua. Bahkan jika anak saya ingin mendaftar haji, saya mampu jika hanya untuk mendaftarkan,” jelasnya.

Nenek Sunak berbagi tips untuk bisa berangkat haji, ya­kni dengan rajin menabung dan bersedekah. Ia mengundang anak yatim ke rumahnya setiap bulan. Anak yatim yang diun­dang akan diberi makanan dan uang jajan. “Saya sangat senang tahun ini dipanggil ke Tanah Suci. Allah itu maha adil, orang seperti saya yang tidak berpen­didikan ternyata dipangggil juga oleh Allah,” ujarnya sam­bil meneteskan air mata.

Nenek Sunak akan beribadah khusyuk setibanya di Tanah Suci. Ia mengaku hanya ingin mendapat rida Allah. “Di usia saya yang sudah tua ini, apala­gi yang ingin saya minta ke­cuali mendapat ridanya Allah, dan dijauhkan dari sombong dan riya,” jelasnya. Sementara itu, Nenek Sunak tergabung dalam Kelompok Terbang (Klo­ter) 9 Embarkasi Surabaya yang pada Senin (8/7/2019) malam memasuki Asrama Haji Suko­lilo, Surabaya. Berdasarkan jadwal, Nenek Sunak akan ter­bang ke Tanah Suci melalui Bandar Udara Internasional Juanda di Sidoarjo pada malam ini sekitar pukul 21:25 WIB. (med/mam/run)

Loading...