Bukan Capaian Instan

by -18 views

Metropolitan – Di kualifikasi Piala Dunia 2018, Peru sukses mendongkel Cile dari lima perwakilan asal Conmebol. La Blanquirroja –julukan Peru– lolos bersama negara yang memang punya reputasi bagus seperti Brasil, Argentina, Uruguay, dan Kolombia. Kejutan itu ternyata diulang Peru dalam ajang Copa America 2019. Paolo Guerrero dkk me-nyingkirkan Cile dalam semifinal di Arena do Gremio kemarin WIB (4/7). Tidak tanggung-tanggung, Cile menghajar juara dua edisi terakhir tersebut dengan skor telak 3-0.Gol-gol dari Edison Flores pada menit ke-21, Yoshimar Yotun (38’), dan Paolo Guerrero (90+1’) berhasil mengakhiri da-haga Peru kembali menembus final Copa America setelah 44 tahun. Sebelumnya, Peru hadir di partai puncak turnamen ter-akbar di Amerika Latin tersebut pada edisi 1975 (dan memenanginya).

Melihat Peru melaju sampai final memang terasa aneh. Tidak hanya karena mampu mengalahkan Cile dengan skor absolut. Te-tapi juga karena Guerrero dkk hanya lolos dari fase grup berkat status sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik. Bahkan, Peru dihajar Brasil –yang sekaligus lawannya da-lam final di Estadio do Maracana pada Senin mendatang (8/7)– dengan skor 0-5.Ajaibnya, pada perempat final (30/6), Peru berhasil melewati tim tersukses Copa America atau kolektor 15 ge-lar, Uruguay. ”Ketika kami mampu mengalahkan Uruguay, orang hanya melihatnya sebagai keberun-tungan (Peru menang adu penalti 5-4, Red),” kata Guere-ro, kapten sekaligus striker an-dalan Peru, seperti dilansir Goal.”Namun, setelah keberhasilan ini (lolos ke final Copa America 2019, Red), kami jelas tidak meraihnya secara kebetulan,” imbuh pemain 35 tahun tersebut.Pernyataan top scorer sepanjang masa Peru (37 gol) itu benar adanya. Lolos ke putaran final Piala Dunia 2018 lalu menem-bus final Copa America 2019 bukan hasil instan.

Tapi, ada proses panjang yang dirin-tis pelatih Peru saat ini, Ricardo Gareca.Menangani Peru sejak Februari 2015, pelatih berkebangsaan Argentina berjuluk El Flaco tersebut berhasil mengubah gaya bermain Peru sekaligus meregenerasi pemain. Gareca membuat La Blanquirroja bukan lagi tim dengan permainan umpan-umpan panjang. Tactician 61 tahun itu mendoktrin Guerrero dkk lebih konfiden melakukan umpan-umpan pendek dan meng ontrol permainan. Ga-reca juga punya gaya kebapa-kan dalam melakukan pende-katan kepada pemain. ”Gareca punya kebiasaan berbicara empat mata dengan para pemain.

Bukan cuma soal teknik permainan, namun juga soal karir dan masa depan,” tulis ESPN Deportes.Misalnya, pengakuan gelandang serang Peru Christian Cueva. Dalam wa-wancara dengan La Nacion Plus, Cueva dibentuk sebagai gelandang yang tak hanya apik dalam me-nyerang. Namun, juga harus berjibaku be-rebut bola. ”Ketika dia berbicara, apa yang dikatakannya terdengar seperti pesan ayah atau ibu saya. Dia selalu menempatkan para pemain sebagai sosok manusia yang utuh,” kata Cueva. ”Seperti seorang psikolog bagi pemain,” tambah pemain yang mem-bela klub Brasil, Santos, itu. Pendekatan apik Gareca pun membuat striker semau gue seperti Guerrero berubah menjadi penurut di lapangan. Guerrero tidak lagi malas untuk mengorbankan diri sebagai pemain pertama dari Peru yang selalu melakukan pressing tinggi saat tim-nya terkena serangan balik. ”Di tim sekarang, semua pemain berjibaku ketika bertahan dan ketika kami melakukan serangan, se-muanya juga membantu. Laga ini (melawan Cile kemarin, Red) menunjukkan bahwa kami memang bermain lebih kolektif dan sangat solid,” tutur striker yang bermain untuk klub Brasil lainnya, Internacional, itu kepada El Tiempo. (dra/c6/dns)