Kampung KB Ditinggalkan Pencetusnya

by -39 views

METROPOLITAN – 2016 silam adalah awal masuknya program Kampung Keluarga Berencana (KKB) ke Kota Bo­gor. Kelurahan Pasir Jaya di Kecamatan Bogor Barat ada­lah daerah perdana yang me­rasakan dampak dari program tersebut. Seiring berjalannya waktu, KKB terus bermunculan disejumlah wilayah di Kota Bogor. Hingga tahun ini, dari 68 kelurahan di Kota Bogor, 25 diantaranya sudah memi­liki program yang digagas Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tersebut.

Kepala Seksi dan Penyuluhan pada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Na­sional (BKKBN) Kota Bogor, R. Diana Rahmita, mengaku, memonitoring dan mengeva­luasi sejumlah wilayah terting­gal. Semua itu dilakukan se­bagai langkah yang harus diambil pemerintah daerah.

Berdirinya KKB sendiri tidak dipilih secara sembarang. Angka kepadatan penduduk tertinggi, rendahnya indeks pendidikan masyarakat, hing­ga buruknya lingkungan di wilayah adalah sedikit gam­baran kriteria untuk berdiri­nya KKB.

“Kalau syarat utamanya itu harus ’ter-ter’. Mau terkumuh, terbelakang, tertinggal. Po­koknya itu syarat utamanya. Jadi, tidak semata-semata untuk KB saja. Semua aspek sosial kita sentuh” kata Diana, saat ditemui wartawan koran ini, beberapa waktu lalu.

Namun, sayangnya kebera­daan kampung ini tidak ber­jalan sesuai dengan apa yang dicanangkan, baik oleh Pe­merintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat, maupun Pemerin­tah Kota (Pemkot) Bogor.

Terpisah, Ketua Kampung KB, Kampung Pangkalan Raya, RT04/02, Kelurahan Cibuluh, Kecamatan Bogor Utara, Dody Rochyadi, menceritakan sejarah berdirinya KKB di wilayahnya. Menurutnya, te­pat Januari 2019, dirinya di­tawarkan untuk menjalankan program dari pemerintah provinsi tersebut. Dody yang juga menjabat sebagai ketua RW 02, dengan tegas menga­ku siap menjalankan hal ini.

“Kami berdiri belum lama baru awal tahun kemarin, saya ditawarkan sanggup tidak kalau untuk membentuk KKB dibawah naungan BKKBN Provisi Jawa Barat. Saya jawab saja sanggup. Begitu awal mula adanya KKB ini,” beber­nya.

Dody pung mengamini, jika hingga awal dibentuk perha­tian dari BKKBN sangatlah kurang. Bahkan, para pengu­rus KKB harus merogoh kocek pribadi demi terlaksaananya sejumlah program yang di­canangkan.

“Rp10 ribu setiap pekan dan perkumpulan, para pengurus saling patungan demi meno­pang program yang ada,” be­bernya.

Dody juga tak menyangkal, jika kehadiran BKKBN ke wi­layahnya hanya pada saat persemian KKB, tepatnya pada saat pemasangan ga­pura selamat datang di Kam­pung KB.

“Sampai saat ini dana yang kita gunakan untuk kegiatan masih menggunakan swadaya dari warga. Alhamdulillah, setiap kali ada pertemuaan dalam satu minggu kita iuran Rp10 ribu/warga,” tukas Do­dy. (ogi/c/yok)