Kemarau Panjang, Tegalbuleud Berburu Air ke Hutan

by -15 views

METROPOLITAN – Dampak kemarau dirasakan warga Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Su­kabumi. Warga mulai kesulitan mencari sumber air untuk kebutuhan rumah tangga, seperti man­di dan mencuci.

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Tegalbuleud Yudiansyah menjelaskan ada beberapa kampung yang terdam­pak kekeringan, diantaranya Kampung Puncak­malanding dan Gerendel di Desa Sumberjaya, Kampung Pasirsalam di Desa Nangela, Kampung Cibangkoak di Desa Rambay dan Kampung Cilame di Desa Buniasih. “Di kampung-kampung tersebut warga mengambil air dari sungai, dari sumur yang ma­sih ada airnya dan resapan air dari hutan,” jelasnya, Ka­mis (11/7).

Sementara warga Kampung Pasirsalam, Desa Nangela, Imat (50), mengaku hampir dua bulan terakhir langganan mengambil air dari resapan air hutan Citeureup. Untuk mendapatkan air bersih, warga harus berjalan kurang lebih dua kilometer. “Kadang-kadang pakai motor, kadang-kadang pakai mobil bak ter­buka. Biasanya kalau pagi dan sore, bisa ngantre panjang di lokasi ini,” kata Imat.

Di tempat yang sama, warga Kampung Gerendel, RT 01/08, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tegalbuleud, Irmawati (40), mengatakan bahwa lokasi resapan air yang bisa diakses warga berada di lahan PTPN VIII Cikaso. Setiap tahun saat kemarau, warga memang biasa mengambil air di lo­kasi tersebut. “Sumber air itu bisa bertahan sampai kema­rau sembilan bulan. Anehnya kalau musim kemarau airnya semakin banyak. Ini andalan di kala musim kemarau,” ujar­nya.

“Memang di Kampung Ge­rendel ada dua sumber air. Yang pertama sumur pening­galan zaman Belanda, ukuran 2×4 meter, kedalaman sekitar 11 meter. Namun sekarang disedot pakai mesin untuk kebutuhan karyawan dan satu lagi di sumber air Citeu­reup,” terangnya.

Kepala Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggu­langan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi Daeng Sutisna mengatakan, sudah ada tujuh kecamatan pada musim kemarau ini yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. “Kesu­litan air bersih ini karena dampak bencana kekeringan yang sudah terjadi sejak Juni,” kata Daeng di Sukabumi, Rabu (10/7).

Kecamatan yang terdampak kekeringan di antaranya di Cidadap, Gegerbitung, Tegal­buleud, Waluran, Cikembar, Gunungguruh dan Cicurug. Namun tidak menutup kemun­gkinan jumlah kecamatan yang warganya kesulitan air bersih itu bertambah. Karena itu untuk meringankan pende­ritaan warga yang terdampak, BPBD sudah menyalurkan air bersih ke sejumlah lokasi, seperti di Desa Cijurey, Ke­camatan Gegerbitung.

Di desa tersebut, ratusan warganya sudah kesulitan mendapatkan air bersih. Ba­hkan warga harus berjalan hingga beberapa kilometer untuk mencari air. Sumur milik warga sudah kering. Meskipun ada airnya, kon­disinya keruh dan mengelu­arkan bau sehingga tidak bisa digunakan.

Untuk menyalurkan air ber­sih itu, Daeng menyiagakan enam unit truk tanki berka­pasitas 5.000 liter milik BPBD, Pemkab Sukabumi maupun Palang Merah Indonesia (PMI). “Untuk pipanisasi, kami ma­sih berkoordinasi. Sebab pe­masangannya harus ada sumber air dahulu dan dise­suaikan dengan kebutuhan warga,” katanya.

Di sisi lain, hingga kini ia ma­sih menunggu Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk se­gera menetapkan status tang­gap darurat bencana yang bia­sanya setelah ada penetapan di tingkat provinsi, kepala daerah di tingkat kabupaten atau kota segera menyesuaikan dengan menetapkan status tersebut. Namun, BPBD Kabu­paten Sukabumi tetap mela­kukan penanggulangan dan memberikan bantuan kepada warga yang mengalami kesu­litan air bersih. (re/feb/run)