Kemendikbud Gerakan Budayakan Baca sejak Dini

by -21 views

METROPOLITAN – Budaya Gawai (gadget-red) sangat jelek bagi anak karena dengan gawai anak akan kecanduan. “Jadi anak-anak akan lekat sekali dengan itu waktunya menjadi terbuang percuma dilayar, padahal masa anak-anak yaitu untuk bergerak motorik itu sangat penting pertumbuhan otot itu tidak akan bertumbuh sempurna” demikian Harris Iskandar Dirjen Pauddikmas Kemendikbud, di Jakarta, Sabtu (27/7 2019) dalam acara “Gernas Baku ” Gerakan Nasional Membacakan Buku Sejak Dini.

Kalau anak dari awal sudah dikenalkan oleh gawai makan pertumbuhan tidak normal, kedua adalah kesehatan mata tidak bagus. Bagi anak banyak sekali dampak-dampak kesehatan selain yang saya sebutkan tadi dan juga secara sosiologis psikologi nggak bagus internet.

“Memang ada khusus bagi anak untuk internet ini tapi tidak semua orang tua mengikuti petunjuk dari kita kebanyakan yang saya perhatikan itu mereka membebaskan yang begitu” demikian Harris .

Itu sangat tidak  “parental guidance” yang ada di menu tidak pernah digunakan tidak mau ribet mereka juga orang tua itu karena orang tua itu juga kecanduan sama gawai nya dan dia tidak mau diganggu.

“Daripada mengganggu emak dan bapaknya anaknya dikasih gawai,itu  musibah, bener itu ini kita semua harus sadar betapa ini bahaya sadarkanlah semua orang tua ini marilah kita kembali ke baca buku” ujar Harris.

Kurangi gawai, kalau memang tidak bisa mengetikkan sama sekali kita kurangi dan jangan menunjukkan di depan anak jangan terlalu demonstratif. Dalam setiap kesempatan orang tua coba kendalikan diri di lingkungan anak jadi lah orang-orang tua yang betulan yang real yang bisa diajak bicara.

Jangan di depan anak kita bawa gawai anak akan mengikuti anak yaitu fotokopi yang paling baik mereka akan mereplikasi apa aja yang kita lakukan kalau kita lakukan dengan gawai dia kan begitu juga,ujar Harris.

“Kami minta untuk mulai membiasakan ini jadi himbauan bukan sekedar imbauan tetapi juga disertai dengan strategi penyebarannya ke semua masyarakat yang bergerak dan disadari penting jadi saya kira ini hanya semacam orkestra.”tandasnya.

“Ayo sama-sama dan saling menyemangati Kenapa kita lakukan pada hari yang sama sehingga serentak supaya semangat aja kita tidak sendiri. Seluruh keluarga Indonesia yang jumlahnya mencapai 42 jutaan sudah mendengar gernas baku dan terinspirasi dan mengikuti kebiasaan baru di rumahnya .”

Terutama untuk keluarga muda dan itu juga hanya bukan kewajiban ibu tapi bapaknya juga. Sebaiknya kebiasaan yang cuma kita kembangkan mudah-mudahan ini menjadi kebiasaan yang baik.

“Membacakan anak sejak dini  ini adalah praktek baik di kalangan keluarga sebagian kecil saya ingin ingin seluruh warga Indonesia.”

Mengkampanyekan gerakan orang tua membacakan buku bagi anaknya ini adalah praktek baik di kalangan keluarga sebagian kecil kami ingin seluruh keluarga Indonesia karena praktek baik ini akan menumbuhkan anak pada cinta buku akan memudahkan juga bagi kita dalam menumbuh kembangkan karakter-karakter baik melalui tokoh-tokoh dalam cerita dan yang paling penting melekatkan hubungan emosi antara anak dengan ibu dan bapaknya kedekatan emosi ini kami percaya sebagai dasar yang utama bagi penumbuhan dan lain-lainnya jadi itu syarat utama, demikian Harris.

Karena itu, kata Haris  tidak boleh salah satu lepas apalagi diserahkan kepada pengasuh diserahkan kepada orang lain  Harus orang tuanya langsung baik ibunya maupun bapaknya kesempatan ini jangan disia-siakan karena umur anak 5 tahun 6 tahun itu umur yang sangat baik.

Bahkan SD pun juga yang sangat baik sekali untuk menumbuh kembangkan karakter-karakter baik yang kita inginkan. Dengan hal itu anak mau dijadikan apa terserah dari pada orang tuanya itu memang begitu Jadi kita bimbingan atau mau ke mana disitu.

Salah satunya ini kami ingin mengembalikan kesadaran orang tua memulai membudidayakan salah satunya untuk melawan gelombang gawai ini yang sudah melanda hampir juga ke desa-desa jadi orang tua itu dengan senang hati memberikan gawai kepada anak. Selain itu orangtua jangan terpaku ajarkan anak baca, tulis dan berhitung untuk anak usia Taman Kanak-kanak (TK).

“Kita tahu kecerdasan anak bukan hanya calistung. Jadi jangan terburu-buru mengajarkan anak calistung, jika dalam kondisi mendesak dengan teknik bermain. Bahkan sampai anak usia 8 tahun atau klas 2 SD itu masih saatnya bermain,” ujar Harris Iskandar.

Haris menjelaskan seharusnya belajar calistung saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) klas 3 atau usia menginjak 9 tahun. Bukan terburu-buru mengajarkan pada tingkat PAUD, bahkan mengikutkan les membaca.

“Untuk tingkat PAUD, baru pada tingkat praliterasi. Bahkan kelas satu, dua hingga tiga SD pun cara mengajarkannya (calistung) berbasis pada permainan.”tegasnya.

Harris memberikan contoh bagaimana seorang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang ketika masuk SD belum bisa calistung. Padahal, Anies menghabiskan waktu empat tahun di TK. “Meski belum bisa calistung waktu kelas satu SD, tapi bisa jadi Mendikbud, jadi gubernur,” kata Harris.

Karena itu, dia meminta TK untuk tidak mengajarkan calistung terburu-buru. Setiap tahun ajaran baru, pihaknya memberikan surat edaran agar lembaga PAUD tidak mengajarkan calistung. Mengajarkan anak calistung sejak dini, memberikan dampak negatif pada anak. Dampak negatif tersebut, kata Harris, seperti penurunan fungsi kognitif pada kelas empat SD, perkembangan kecerdasan terganggu dan juga pemborosan. “Untuk apa dimasukkan ke PAUD, kalau hanya untuk dirusak,”cetusnya.

Jika ada sekolah untuk masuk ke jenjang Sekolah Dasar (SD) menggunakan test calistung itu melanggar. “Pemerintah (Kemdikbud -red) sudah mengeluarkan peraturan tentang ini,oleh karena itu sebaiknya guru TK (PAUD) menyadari dan tahu akan hal ini “,demikian Harris.

Karena itu, dia meminta TK untuk tidak mengajarkan calistung terburu-buru. Setiap tahun ajaran baru, pihaknya memberikan surat edaran agar lembaga PAUD tidak mengajarkan calistung. Mengajarkan anak calistung sejak dini, memberikan dampak negatif pada anak. Dampak negatif tersebut, kata Harris, seperti penurunan fungsi kognitif pada kelas empat SD, perkembangan kecerdasan terganggu dan juga pemborosan. ”Untuk apa dimasukkan ke PAUD, kalau hanya untuk dirusak,”cetusnya. (*/feb)