Kepercayaan Investor Pulih

by -18 views

Metropolitan  – Tensi dan situasi politik yang mulai melandai disambut positif oleh pelaku usaha. Hal tersebut dianggap penting untuk mengembalikan kepercayaan investor setelah wait and see di musim pilpres lalu. Bukan hanya investor luar negeri, melainkan juga pelaku usaha dalam negeri.”Situasi politik yang cepat reda membuktikan bahwa Indonesia sudah matang berdemokrasi. Itu bagus di mata investor,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani.

Menurut dia, stabilitas politik akan diikuti dengan kepercayaan investor. Harapannya, hal tersebut dapat tecermin pada penguatan rupiah atau sinyal positif di indeks harga saham gabungan (IHSG) di lantai bursa.Menurut Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani, optimisme investor yang dibangun dari situasi politik sangat penting. Rosan menyebut investasi Indonesia masih cenderung tertinggal. ”PR kita meningkatkan investasi karena kontribusinya 34–35 persen dari pertumbuhan perekonomian,” ujar Rosan. Cara menggenjot investasi itu adalah mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Dengan begitu, defisit transaksi berjalan (CAD) akan berkurang.Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance Bhima Yudistira menyebutkan bahwa rekonsiliasi politik akan membawa angin segar bagi perekonomian di Indonesia. ’’Ini menjadi sentimen yang positif bagi stabilitas makroekonomi. Jadi, pemerintah bisa lebih fokus untuk mendorong kinerja jangka menengah seperti menggenjot ekspor, menarik lebih banyak investasi, menurunkan defisit transaksi berjalan, dan stabilitas rupiah,’’ ucapnya.

Pasar Afrika Timur

Sementara itu, potensi ekspor produk Indonesia ke Afrika Timur terbuka. Selama ini, nilai perdagangan kedua negara menunjukkan tren positif. Salah satu negara di Afrika Timur yang potensial untuk perluasan pasar produk Indonesia adalah Burundi. Dubes RI untuk Tanzania Ratlan Pardede menyatakan, hubungan ekonomi antara Indonesia dan Burundi mulai menunjukkan perkembangan positif.Nilai perdagangan Indonesia dengan Burundi meningkat sangat signifikan dari USD 948,1 ribu pada 2017 menjadi USD 2,1 juta pada 2018.

Terjadi peningkatan 131 persen. ’’Ruang untuk mengembangkan hubungan perdagangan antara Indonesia dan Burundi masih sangat besar. Selain menunjukkan adanya tren positif, juga belum tersentuhnya potensi ekonomi di Burundi,’’ kata Pardede kemarin (14/7).Burundi merupakan negara di kawasan Afrika Timur yang memiliki akses ke Danau Tanganyika dengan penduduk sekitar 10 juta jiwa. Negara itu berbatasan dengan 4 negara, antara lain, Tanzania, Kongo DRC, Zambia, dan Rwanda. Selama ini, produk Indonesia yang diekspor ke Burundi, antara lain, kelapa sawit, mesin, ban, aki, dan produk plastik.

Impor Indonesia dari Burundi adalah beberapa produk yang masuk ke golongan kopi, teh, dan rempah.Burundi berminat dengan produk Indonesia lain. Misalnya, kertas, sereal instan, minyak atsiri, gula merah (palm sugar), dan pengemasan makanan (food packaging). Tidak hanya kerja sama perdagangan, perusahaan Indonesia mempunyai potensi investasi di Burundi. Di antaranya, transportasi danau, pengolahan hasil pertanian, pertambangan, dan perhotelan.’’Hubungan perdagangan Indonesia dengan Burundi perlu mendapat perhatian sehingga mem bawa keuntungan bagi rakyat kedua negara. Kedua pihak perlu untuk bekerja sama untuk menjaga tren perdagangan yang positif,’’ katanya. (agf/res/c17/c19/oki)