Krisis Air Bersih Meluas

by -

SUKABUMI – Krisis air bersih di wilayah Kabupaten Sukabumi kian meluas. Dari semula hanya tujuh kecamatan, kini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat ada 12 kecamatan yang mengalami krisis air.

Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Sukabumi Eka Widiana mengatakan, wilayah tersebut mencakup Kecamatan Cikembar, Warungkiara, Bantargadung, Palabuhanratu, Gegerbitung, Gunungguruh, Ciracap, Surade, Parungkuda, Cicurug, Cisolok dan Simpenan.

“Dari 12 kecamatan yang kekeringan, ada beberapa yang terdampak cukup parah. Yaitu di Kecamatan Cibadak, Warungkiara, Simpenan, Bantargadung, Gegerbitung, Palabuhanratu dan Gunungguruh. Bahkan di Kecamatan Bantargadung hampir semua desa terdampak,” tuturnya.

Menurutnya, dampak dari kemarau tahun ini dirasakan cukup ekstrem. Sebab jika dua hari saja tidak turun hujan, masyarakat sudah kesulitan mendapatkan air bersih.

Namun berbagai upaya telah dilakukan dalam menangani permasalahan tersebut. Yakni dengan menyalurkan bantuan air bersih dan meng-cover wilayah yang tidak terjangkau BPBD yang bekerja sama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sebab berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau saat ini akan berlangsung cukup lama jika dibandingkan pada 2018 lalu.

“Diperkirakan kemarau akan berlanjut sampai November. Bantuan dan pendistribusian air bersih dilakukan setiap dua hari sekali untuk wilayah terdampak, dengan pasokan sebanyak 5.000 liter untuk setiap wilayah,” katanya.

Sementara itu, selain persoalan krisis air, BPBD juga mencatat bencana yang terjadi di sepanjang semester pertama 2019. Eka mengatakan bahwa bencana longsor masih mendominasi. “Dari Januari hingga Juni 2019, bencana longsor tercatat sebanyak 223 kejadian,” jelasnya.

Jumlah tersebut paling banyak dibandingkan dengan jenis bencana lainnya. Menurut Eka, bencana terbanyak kedua ditempati angin kencang atau puting beliung sebanyak 59 kejadian. Berikutnya kebakaran sebanyak 54 kejadian, banjir 28 kejadian dan pergerakan tanah 12 kejadian.

Ia menerangkan, bencana tersebut sudah mendapatkan penanganan dari pemerintah. Meskipun penanganan terkendala dengan keterbatasan yang dimiliki dan luasnya wilayah Sukabumi.

Pada rentang enam bulan itu, lanjut Eka, bencana yang paling menyorot perhatian adalah pergerakan tanah di tiga Kampung Gunungbatu yang terdiri dari RT 01, 02 dan 03/09 Kedusunan Liunggunung, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung. Kini pemda tengah berupaya membangun hunian sementara (huntara) bagi warga yang menjadi korban di sana.

Koordinator Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi Daeng Sutisna mengatakan, setiap bulannya bencana longsor memang paling tinggi kasusnya. Ia mencontohkan, pada Februari 2019, dari sebanyak 53 kejadian bencana, sebanyak 23 kejadian di antaranya adalah longsor.

Menurutnya, kejadian bencana terbanyak lainnya adalah kebakaran tujuh kejadian dan angin kencang delapan kejadian. Berikutnya gempa bumi yang dirasakan sebanyak lima kejadian dan pergerakan tanah tiga kejadian serta banjir satu kejadian. (ade/re/feb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *