Mahasiswa tidak Mampu Bebas Uang Pangkal di IPB

by -18 views

METROPOLITAN – Pada 13-14 Juli 2019, IPB menyel­enggarakan tes masuk Jalur Mandiri melalui Ujian Tulis Mandiri Berbasis Komputer (UTM-BK) untuk Program Sarjana dan Sekolah Vokasi. Pelaksanaan ujian pada 13 Juli untuk Program Sarjana dan 14 Juli untuk Sekolah Vokasi. Ujian tersebut dilaks­anakan di sejumlah Kampus IPB, mulai dari Kampus Dra­maga, Kampus Sekolah Vo­kasi, Kampus Sekolah Bisnis juga melibatkan sejumlah sekolah menengah di wilayah Kota Bogor.

Wakil Rektor Bidang Pendi­dikan dan Kemahasiswaan, Drajat Martianto, menyam­paikan bahwa pendaftar S1 jalur UTM-BK semakin me­ningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun ini, jumlah pe­serta yang mendaftar ke Pro­gram Sarjana melalui jalur mandiri berjumlah 12.009 orang atau meningkat 20 persen dari tahun lalu. “Rinciannya, sebanyak 3.268 peserta mengik­uti tes UTMBK dan yang meng­gunakan skor UTBK sebanyak 8.713. Pendaftar untuk kelas internasional sebanyak 28 orang,” kata Drajat.

Ia menambahkan, pendaf­tar UTM-BK Sekolah Vokasi sebanyak 2.320 orang. Pe­serta yang mengikuti tes ma­suk Sekolah Vokasi jalur UTM-BK sebanyak 1.015 yang meng­gunakan Skor UTBK (saintek) sebanyak 791 peserta dan untuk Skor UTBK (Soshum) sebanyak 514 orang. “Peserta umumnya berasal dari Jabo­detabek, namun ada juga dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan daerah lainnya,” tuturnya.

Drajat menyebutkan, ma­hasiswa baru yang lolos se­leksi masuk IPB melalui jalur mandiri akan dikenai Biaya Pengembangan Institusi dan Fasilitas (BPIF). BPIF dibay­arkan hanya satu kali saat registrasi sebagai mahasiswa baru IPB. BPIF tersebut di­maksudkan untuk memberi­kan kesempatan kepada orang tua mahasiswa selaku masy­arakat dalam berkontribusi bagi peningkatan kualitas pendidikan. “Namun khusus bagi mahasiswa IPB yang ter­verifikasi tidak mampu, me­reka akan dibebaskan sama sekali dari kewajiban mem­bayar BPIF,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor IPB, Arif Satria, mengatakan, se­lama ini IPB telah menunjuk­kan komitmen besar pada pemberian kesempatan dan ketuntasan belajar maha­siswa dari keluarga tidak mampu. Di antaranya dit­unjukkan dengan jumlah penerima beasiswa Bidik­misi program sarjana seba­nyak 868 mahasiswa pada 2015 (25 persen dari mahasiswa baru), 770 mahasiswa 2016 (21 persen dari mahasiswa baru), 770 mahasiswa pada 2107 (21 persen dari maha­siswa baru) dan 825 maha­siswa pada 2018 (23 persen dari mahasiswa baru). “Pada 2019 akan diberikan kepada 1.144 penerima Bidikmisi dan ditambah beasiswa alumni berbagai angkatan, sehingga totalnya bisa mencapai 30 persen dari mahasiswa baru,” ungkapnya. “Bagi mahasiswa yang lolos jalur mandiri dari kalangan ekonomi tidak mampu akan dibebaskan dari pembayaran Biaya Peng­embangan Institusi dan Fa­silitas (BPIF),” sambungnya.

Menurut Arif, apa yang dila­kukan IPB sejalan dengan Per­menristekdikti Nomor 39 Tahun 2017 agar penetapan uang pangkal (BPIF) memperhitung­kan kemampuan ekonomi masyarakat. (*/feb/py)