Nole Juara Tunggal Putra Wimbledon

by -18 views

Metropolitan – Sejatinya, tidak ada yang layak kalah dalam laga final tunggal putra Wimbledon 2019. Novak Djokovic maupun Roger Federer sama-sama bermain spartan sepanjang 4 jam 57 menit. Tetapi, di setiap pertandingan harus ada pemenangnya. Dan kali ini Djokovic-lah yang akhirnya mengangkat trofi.’’Sungguh disayangkan, dalam pertandingan semacam ini, salah satu harus ada yang kalah,’’ ucap Djokovic dilansir ESPN.

Tegang, men de-barkan, berlangsung tanpa jeda nyaris lima jam. Pertandingan bisa saja berlangsung lebih lama jika Wimbledon tahun ini tidak membuat aturan baru. Yakni, tiebreak di saat set kelima ke-dudukan imbang 12-12. Aturan tersebut dibuat setelah tahun lalu laga semifinal berlangsung hingga 6 jam 30 menit antara Kevin Anderson kontra John Isner. Saat itu set kelima berakhir dengan kedudukan 26-24 untuk Anderson. Pemandangan tersebut tampak kontras jika dibandingkan dengan final tunggal yang mem-per temukan Serena Williams dan Simona Halep yang hanya membutuhkan waktu 56 menit. Kesalahan kecil Federer yang memukul bola de ngan ujung raketnya mengakhiri pertandingan untuk kemenangan Djokovic 7-6 (5), 1-6, 7-6 (4), 4-6, 13-12 (3). Durasi itu sekaligus tercatat sebagai final terlama dalam sejarah Wimbledon. Djokovic sama sekali tidak merayakan ke me-nangannya secara berlebihan.

Setelah melambaikan tangan kepada penonton dan memeluk Federer, dia bersimpuh di tengah lapangan, menjumputi beberapa helai rumput center court, lalu me ma kannya. Setelah itu, Federer maupun Djokovic seakan sudah me-lu p akan rivalitasnya di atas lapangan yang baru saja terjadi dan saling melemparkan guyonan. ’’Saya ingin mengatakan bahwa usia 37 tahun bukanlah akhir dari segalanya. Saya tetap bisa memberikan yang terbaik. Jadi, saya berharap bisa menginspirasi sia pa pun yang berusia 37 tahun untuk tetap tangguh,’’ ucapnya saat wawancara setelah laga.

Giliran diwawancara, Djokovic membalas per-nyataan Federer dengan kelakar khasnya. ’’Roger bilang dia ingin menginspirasi orang-orang yang berusia 37 tahun atau lebih. Dia berhasil. Kini, satu yang terinspirasi,’’ ujarnya. Federer sejatinya nyaris mampu merebut ge lar Wimbledon kesembilannya. Namun, dia gagal me-manfaatkan dua kali kesempatan championship points saat memegang kendali servis. Meski menyesali lepasnya peluang tersebut, Federer lagi-lagi masih bisa berseloroh. ’’Roger, ini adalah per tan dingan luar biasa. Kami tidak akan melupakannya sampai kapan pun.’’ Begitu ucap pewawancara di tengah lapangan. ’’Ah justru aku ingin segera me lu pakannya,’’ kelakar Federer, disambut tawa penonton.Hasil tersebut membuat pemilik 20 gelar grand slam itu gagal menahbiskan diri sebagai pemenang grand slam tertua sepanjang masa.

Federer kini berusia 37 tahun 340 hari. Se mentara itu, dengan kemenangan ini, Djokovic me-nam bah satu lagi gelar grand slam-nya menjadi 16 atau Sweet Sixteen. Pada laga itu mayoritas penonton terang-terangan mendukung Federer. Teriakan-teriakan dukungan untuk Federer terus menggema sepanjang laga. Saat ditanya mengenai hal itu, petenis Serbia itu menanggapi dengan guyon. ’’Saat banyak penonton berteriak ’Ro ger!’, aku berusaha mendengarnya seperti ’No vak!’. Kedengarannya memang konyol, tapi me mang itu yang aku lakukan,” ucapnya, lantas ter senyum. ’’Bukankah terdengar mirip, ’Roger’ dan ’Novak’,” tambahnya disambut tawa para jurnalis. (irr/c17/cak)