Novel: Polisi Indonesia Kalah Sama Turki

by -3,243 views

METROPOLITAN – Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Novel Baswedan menemukan fakta bahwa ada tiga orang tidak dikenal yang menjadi terduga penyerangan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu.

Juru Bicara TGPF Novel Baswedan, Nur Kholis mengatakan, pihaknya telah melakukan reka ulang TKP dan menganalisa isi CCTV di sekitaran kediaman Novel. “Wawancara ulang saksi-saksi dan saksi tambahan, juga analisis pola. TPF cenderung pada fakta lain, 5 April 2017 ada satu orang tidak dikenal mendatangi rumah Saudara Novel. Kemudian 10 April 2017 ada dua orang tidak dikenal datang, diduga berhubungan dengan penyerangan,” tutur Nur Kholis di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (17/7) kemarin.

Untuk itu, hasil investigas tersebut juga berisikan rekomendasi kepada Kapolri Jendral Tito Karnavian untuk membentuk tim pengejar sosok tersebut. “TPF merekomendasikan pendalaman fakta satu orang tidak dikenal yang datang ke rumah korban pada 5 April 2017 dan dua orang tidak dikenal yang berada dekat rumah korban dan Masjid Al Ihsan pada 10 April 2017 dengan membentuk tim spesifik,” jelas Nur Kholis.

Selain itu, Nur Kholis menyampaikan, ditemukan fakta kuat bahwa tinggi kemungkinan penyerangan tersebut berkaitan dengan penanganan kasus yang digeluti Novel. “TPF meyakini adanya probabilitas bahwa serangan pada wajah bukan untuk membunuh, tapi membuat korban menderita. Bisa untuk membalas sakit hati atau memberi pelajaran korban. Atas sendiri atau disuruh orang lain,” tutur Nur Kholis.

Menurut Nur Kholis, air keras yang digunakan untuk menyiram Novel Baswedan adalah jenis asam sulfat H2SO4 yang berkadar larut tidak pekat. Efeknya pun memberikan kerusakan pada bagian tubuh namun tidak mengakibatkan kematian. “Fakta terdapat probabilitas adanya penanganan kasus yang dilakukan korban, akibatnya adanya dugaan penggunaan wewenang secara berlebihan. TPF meyakini serangan itu tidak terkait dengan masalah pribadi, tetapi terkait pekerjaan korban,” jelas Nur Kholis.

Sementara itu, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan meminta Polri mengungkap pelaku lapangan penyiraman air keras dalam rilis hasil investigasi tim gabungan bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Rabu (17/7) kemarin.

Pengungkapan aktor di lapangan menurutnya bisa jadi langkah awal mengungkap detail perkara penyiraman air keras yang menimpa dirinya, April 2017 silam. “Saya berharap hasilnya bisa mengungkap pelaku lapangan,” ujar Novel saat ditemui di kediamannya.

Novel pun membandingkan penanganan kasusnya dengan pembunuhan jurnalis asal Arab Saudi, Jamal Ahmad Khashoggi. Kata dia, seharusnya Polri dapat belajar dari langkah kepolisian Turki dalam mengusut kasus pembunuhan Kashoggi.

Tuntasnya penanganan kasus Kashoggi, tutur Novel, karena pengungkapan dimulai dengan memantau langsung tempat kejadian perkara (TKP) dan mengejar pelaku lapangan. Mereka, tambah Novel, menghindari hal-hal yang dapat mengaburkan pokok perkara, seperti diumumkannya motif, motif politik, spekulasi, dan keterlibatan seseorang di dalam proses penanganan. “Nah, kita semestinya bisa mencontoh itu. Masa polisi Indonesia kalah dengan polisi Turki? Saya tidak yakin kalah, saya yakin lebih baik dari polisi Turki,” ungkapnya. (cn/mam)