Perempatan Cileungsi Semrawut

by -99 views

CILEUNGSI – Semrawut. Itu adalah kata yang cocok untuk menggambarkan kondisi lalu lintas di perempatan Cileung­si, Kabupaten Bogor. Banyak faktor yang menyebabkan kemacetan parah selalu ter­jadi. Mulai dari angkutan kota (angkot) yang ngetem sembarangan, padahal sudah ada Terminal Cileungsi seba­gai wadah. Lalu, Pedagang Kaki Lima (PKL) Pasar Ci­leungsi yang membuka lapak sampai memakan badan jalan.

Ditambah lampu lalu lintas yang tidak berfungsi. Ini adalah faktor utama penyebab kema­cetan yang sering terjadi. Pengendara jadi tak mau men­galah satu sama lain, saling sodok ingin menang sendiri. Kondisi ini makin diperparah saat jam sibuk seperti berang­kat kerja dan pulang kerja.

Menurut seorang pengen­dara Sam (39), fungsi lampu lalu lintas sangat vital untuk mengatur kendaraan yang melintas. Tujuannya, pengen­dara tak saling berebut saat melewati persimpangan jalan.

Apalagi, ini sudah diatur UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang menyebut Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas atau APILL merupakan lam­pu yang mengendalikan arus lalu lintas yang terpasang di persimpangan jalan, tempat penyeberangan pejalan kaki (zebra cross) dan tempat arus lalu lintas lainnya.

“Ada lampu lalu lintas tapi cuma pajangan. Sudah lama tidak berfungsi. Saya berharap lampu lalu lintas di perem­patan Cileungsi ini difungsi­kan sebagaimana mestinya,” katanya. Selain kemacetan, kondisi fly over Cileungsi yang kumuh juga masih jadi ma­salah. “Kami mendesak bu­pati Bogor segera mengambil langkah dalam pembenahan perempatan Cileungsi,” ung­kap Tenor, salah seorang ak­tivis lingkungan Bogor.

Apalagi, kata dia, Bupati Bo­gor Ade Yasin dan Wakil Bu­pati Iwan Setiawan sudah ber­janji akan secepatnya membe­nahi fly over perempatan Ci­leungsi dalam waktu dekat dan mempercepat pembangunan di wilayah timur. “Kami juga memohon Pemkab Bogor me­relokasi PKL depan Ramayana, karena menimbulkan kema­cetan dan kecelakaan, ”katanya. (gr/bu/els/py)