Petani Waswas Gagal Panen

by -19 views

Dampak kemarau, kelompok petani Cibeureum, Kota Sukabumi, terancam gagal panen. Sebab, beberapa lahan pertanian di Kota Sukabumi mulai kekurangan pasokan air. Bahkan untuk musim kali ini, Kelompok Tani Mutiara mengalihkan lahannya untuk menanam palawija.

KAMI mulai khawatir dengan kemarau saat ini. Apalagi kelompok kami bukan petani pemilik tapi petani penggarap,” tutur Ketua Kelompok Tani Mutiara, Fajri Hasan, saat di­temui di ruang kerjanya, Ming­gu (30/6).

Menurutnya, petani peng­garap berbeda dengan pemilik. Sebab, mereka ada perjanjian bagi hasil atas sewa lahan.

“Khawatir kalau musim kering begini hasil produksinya nggak bisa menutup biaya untuk pe­milik lahan,” ungkapnya.

Sebab, bisa diperkirakan dengan kondisi saat ini per­tumbuhan padi tidak akan maksimal dan hasil produksi­nya bisa menurun sampai 60 persen.

“Sedangkan jika pada bulan normal, biasanya dalam 1 hek­tare lahan padi bisa mengha­silkan tujuh ton beras. Bisa diperkirakan musim ini hanya bisa mencapai kurang dari 3,5 ton,” keluhnya.

Sementara itu, Kasi Penyulu­han DKP3 Kota Sukabumi Kus­maya menyebutkan ada dua kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan. Yakni Kecamatan Cikole dan Cibeu­reum. Tahun lalu tercatat dua hektare sawah mengalami ke­keringan dan gagal panen.

“Dan untuk wilayah paling rawan berada di Kelurahan Sindangpalay, Kecamatan Ci­beureum, Kota Sukabumi. Te­patnya di Daerah Cibuntu,” imbuhnya.

Kusmaya menuturkan, untuk mengantisipasi hal tersebut, Dinas Pertanian Kota Suka­bumi telah menyiapkan bebe­rapa langkah, yaitu dengan memberikan bantuan pompa air yang fungsinya untuk mem­bantu mengairi lahan perta­nian mereka.

“Selain itu, para petani mela­lui wadah kelompok tani diha­ruskan untuk mengikuti asu­ransi usaha tani padi. Jadi jika terjadi kekeringan mencapai batas 75 persen, bisa menda­patkan ganti rugi sebesar Rp6 juta untuk setiap 1 hektare dari usaha tani padi,” tuturnya.

Kusmaya memaparkan, fung­si asuransi tersebut tidak hanya untuk masalah kekeringan. Namun termasuk untuk ben­cana banjir dan serangan hama. Untuk mengikuti asuransi ter­sebut, petani hanya membay­ar premi Rp36 ribu per hek­tare untuk sekali tanam.

“Kemudian kita pun mengatur penyuluhan sistem tanam. Ke­pada kelompok tani yang wilay­ahnya rawan kekeringan diara­hkan untuk tidak menanam padi tapi dialihkan ke palawija,” tutupnya. (dna/ade/feb/run)