Polisi Razia Motor ke Kampung-kampung

by -8.2K views

METROPOLITAN – Razia kendaraan yang dilakukan aparat kepolisian di jalan kampung ramai diperbincang­kan warganet. Di media so­sial, banyak warganet yang menilai razia tersebut melang­gar aturan. Pasalnya, razia dilakukan Polres Sukabumi di Jalan Saolin, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Suka­bumi, yang merupakan jalur perkampungan.

Foto-foto aksi kepolisian dan motor-motor yang diangkut menggunakan pikap tersebar di Facebook. Warganet bahkan terlibat perdebatan soal boleh dan tidaknya razia itu dilaku­kan.

Warganet menganggap razia itu tidak boleh dilakukan di jalan kampung karena diang­gap melanggar aturan. Ber­bagai tangkapan layar juga memperkuat argumen me­reka. Sebagian lainnya men­dukung langkah kepolisian demi mengurangi aksi keja­hatan, sekaligus peredaran motor bodong atau hasil cu­rian.

“Ari sugan teh raziaan ngan di jalan raya wungkul,gening ayna mh k jalan kampung ge aya nya..lokasi cibancet arah saolin cikidang (Dikira razia hanya di jalan raya saja, ternyata sekarang ke jalan kampung juga ada. Lokasi Cibancet, arah saolin Cikidang),” tulis pemilik akun Rachmat Hidayat.

“Padahal mh bejakeun ka polisi na ,lian kali mh dilemur teh pasang rambu lalu lintas ,biar masuk akal klw ada rajia di lemur th ?￰ pan lucu mre­un aya rajia dilemur ?hebat ? (Padahal bilang ke polisinya, lain kali di kampung dipasang rambu lalu lintas, Biar masuk akal kalau ada razia di per­kampungan. Kan lucu kali ya kalau ada razia di kampung, hebat),” timpal akun Facebook abhy.

Namun tidak sedikit kom­entar yang membela langkah razia yang dilakukan kepoli­sian. “Bagus rajia di mana aja yg penting ada surat perintah nya mungkin karena sekarang bnyk motor hasil pencurian dan bagus nya motor bodong nya di angkut kemudian di umumin sm pihak kepolisin barang siapa yg pernah kehi­langan ambil ke polres apa ke polsek dengan sarat bw kel­engkapan surat2 nya itu yg menurut saya bagus,” kom­entar pemilik Tenti Heryanti.

Sementara itu, Kapolres Su­kabumi AKBP Nasriadi angkat bicara terkait hal tersebut. Ia mengungkapkan bahwa razia dilakukan kepolisian itu justru biasanya berawal dari laporan warga. “Itu adalah upaya pre­ventif atau pencegahan, atau bahkan ada informasi pere­daran narkoba atau warga melapor banyak beredar motor-motor hasil kejahatan di wilayah mereka. Selain dari warga, laporan ini bisa juga bersumber dari intelijen,” jelas Nasriadi.

Nasriadi mengatakan, razia yang dilakukan di wilayah Ke­camatan Cikidang atau jalan yang dikenal dengan sebutan Jalan Saolin itu disertai surat perintah beserta nama-nama anggota yang bertugas. “Itu (razia, red) resmi, ada surat perintahnya juga. Bagian dari Kegiatan Kepolisian Yang Di­tingkatkan (KKYD). Dari hasil razia itu petugas menemukan pemilik motor yang tidak bisa menunjukkan surat-suratnya. Kita amankan, ketika pemiliknya datang dan bisa menunjukkan surat-surat akan kita berikan kembali,” ucapnya.

Nasriadi juga meminta war­ganet tidak asal membagikan posting-an di media sosial sebelum informasinya terve­rifikasi. Sebab, ada jerat pi­dana untuk posting-an terse­but. “Polri saat ini menuju arah profesional modern dan ter­percaya atau promoter. Kami akan terbuka dan transparan menjelaskan ketika masyara­kat ingin mengetahui kegia­tan kepolisian. Ketika dimun­culkan, apalagi dengan na­rasi yang belum tentu benar dan nada memprovokasi, akan ada pasal yang dikenakan,” imbuh Nasriadi.

Dalam kesempatan itu, Nas­riadi kembali meyakinkan razia tersebut digelar dengan berbekal surat perintah dan memasang plang pemberita­huan. Petugas juga mengena­kan seragam lengkap. “Ada surat perintah, ada plang pemberitahuan, jadi tidak asal-asalan. Ini menjawab koreksi dari warganet ya. Pe­negakan hukum itu sama, tidak hanya di perkotaan, bahkan sampai ke perkam­pungan, selama di wilayah hukum Negara Republik In­donesia,” bebernya.

Ia mengaku ada 16 personel yang dilibatkan dalam razia tersebut. Mereka bertugas dibekali surat perintah dari Kapolsek Cikidang AKP Sunar­to. Hasilnya, enam unit motor diamankan saat razia tersebut. “Motor warga kami amankan karena mereka tidak bisa menunjukkan surat-surat resmi.

Ada juga yang kita amankan karena warga tidak dibekali dokumen kelengkapan saat berkendara. Semuanya kami amankan di Polsek Cikidang. Kalau mau diambil mudah saja, tinggal menunjukkan bukti kepemilikan dan doku­men berkendara saja,” tutup­nya. (dtk/rez/run)

Nagrak

raya saja, ternyata sekarang ke jalan kampung juga ada. Lokasi Cibancet, arah saolin Cikidang),” tulis pemilik akun Rachmat Hidayat.(Dikira razia hanya di jalan

“Padahal mh bejakeun ka polisi na ,lian kali mh dilemur teh pasang rambu lalu lintas ,biar masuk akal klw ada rajia di lemur th ?￰ pan lucu mre­un aya rajia dilemur ?hebat ? (Padahal bilang ke polisinya, lain kali di kampung dipasang rambu lalu lintas, Biar masuk akal kalau ada razia di per­kampungan. Kan lucu kali ya kalau ada razia di kampung, hebat),” timpal akun Facebook abhy.

Namun tidak sedikit kom­entar yang membela langkah razia yang dilakukan kepoli­sian. “Bagus rajia di mana aja yg penting ada surat perintah nya mungkin karena sekarang bnyk motor hasil pencurian dan bagus nya motor bodong nya di angkut kemudian di umumin sm pihak kepolisin barang siapa yg pernah kehi­langan ambil ke polres apa ke polsek dengan sarat bw kel­engkapan surat2 nya itu yg menurut saya bagus,” kom­entar pemilik Tenti Heryanti.

Sementara itu, Kapolres Su­kabumi AKBP Nasriadi angkat bicara terkait hal tersebut. Ia mengungkapkan bahwa razia dilakukan kepolisian itu justru biasanya berawal dari laporan warga. “Itu adalah upaya pre­ventif atau pencegahan, atau bahkan ada informasi pere­daran narkoba atau warga melapor banyak beredar motor-motor hasil kejahatan di wilayah mereka. Selain dari warga, laporan ini bisa juga bersumber dari intelijen,” jelas Nasriadi.

Nasriadi mengatakan, razia yang dilakukan di wilayah Ke­camatan Cikidang atau jalan yang dikenal dengan sebutan Jalan Saolin itu disertai surat perintah beserta nama-nama anggota yang bertugas. “Itu (razia, red) resmi, ada surat perintahnya juga. Bagian dari Kegiatan Kepolisian Yang Di­tingkatkan (KKYD). Dari hasil razia itu petugas menemukan pemilik motor yang tidak bisa menunjukkan surat-suratnya. Kita amankan, ketika pemiliknya datang dan bisa menunjukkan surat-surat akan kita berikan kembali,” ucapnya.

Nasriadi juga meminta war­ganet tidak asal membagikan posting-an di media sosial sebelum informasinya terve­rifikasi. Sebab, ada jerat pi­dana untuk posting-an terse­but. “Polri saat ini menuju arah profesional modern dan ter­percaya atau promoter. Kami akan terbuka dan transparan menjelaskan ketika masyara­kat ingin mengetahui kegia­tan kepolisian. Ketika dimun­culkan, apalagi dengan na­rasi yang belum tentu benar dan nada memprovokasi, akan ada pasal yang dikenakan,” imbuh Nasriadi.

Dalam kesempatan itu, Nas­riadi kembali meyakinkan razia tersebut digelar dengan berbekal surat perintah dan memasang plang pemberita­huan. Petugas juga mengena­kan seragam lengkap. “Ada surat perintah, ada plang pemberitahuan, jadi tidak asal-asalan. Ini menjawab koreksi dari warganet ya. Pe­negakan hukum itu sama, tidak hanya di perkotaan, bahkan sampai ke perkam­pungan, selama di wilayah hukum Negara Republik In­donesia,” bebernya.

Ia mengaku ada 16 personel yang dilibatkan dalam razia tersebut. Mereka bertugas dibekali surat perintah dari Kapolsek Cikidang AKP Sunar­to. Hasilnya, enam unit motor diamankan saat razia tersebut. “Motor warga kami amankan karena mereka tidak bisa menunjukkan surat-surat resmi.

Ada juga yang kita amankan karena warga tidak dibekali dokumen kelengkapan saat berkendara. Semuanya kami amankan di Polsek Cikidang. Kalau mau diambil mudah saja, tinggal menunjukkan bukti kepemilikan dan doku­men berkendara saja,” tutup­nya. (dtk/rez/run)

Nagrak