Proyek Tol BORR Minta Tumbal

by -749 views

Kecelakaan kerja di proyek Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) kembali terjadi. Kini menimpa pekerja Tol BORR Seksi 3A Simpang Yasmin-Simpang Semplak di Jalan Soleh Iskandar, Kecamatan Tanahsareal, kemarin. Akibatnya, dua pekerja mengalami luka ringan hingga berat.

PERISTIWA itu terjadi seki­tar pukul 05:15 WIB. Penye­babnya, ada dugaan kelalaian pihak pekerja saat melakukan pengecoran pier head ke-109. Balok penyangga cetakan di­duga tidak kuat menahan beban sehingga memunculkan len­gkungan yang berujung tum­pahnya material beton.

Namun, warga sekitar mengait-ngaitkan kejadian tersebut dengan mistis. Proyek Tol BORR diduga meminta tumbal ka­rena sudah dua kali terjadi kecelakaan kerja dan hampir merenggut korban jiwa. “Iya, ini mah ada nuansa mistisnya,” kata warga Kayumanis, Iqbal.

Sedangkan menurut Ga­bungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi), kecelaka­an itu diakibatkan kontraktor terburu-buru dalam penger­jaan pembangunan, sehingga mengalami kecelakaan kon­struksi. Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Gapensi, Andi Rukman, menilai pembangunan proyek dikebut bakal menyebabkan kecelaka­an lantaran terjadi kelalaian dalam prosesnya.

”Jadi tujuannya ingin perce­patan, tapi pertama harus menjaga kualitas dan keselama­tan kerja. Tidak boleh dilalaikan,” katanya. ”Sering kita minta jangan terlalu mengejar target untuk percepatan tapi mela­laikan keselamatan kerja,” la­njutnya.

Menurutnya, kejadian itu memang karena kelalaian ma­nusianya yang menggarap proyek tersebut. Ia menilai ada prosedur yang tidak dipenuhi. ”Jadi lagi-lagi ini kejadian pada human error, kelalaian. Jadi kenapa pentingnya konsultan itu harus hadir sebelum mulai pekerjaan, itu pelaksanaan untuk mengecek persiapan-persiapan itu,” ucapnya.

Konsultan itu bertugas me­mastikan pekerjaan proyek sesuai pedoman yang ada guna memastikan keselamatan kerja. ”Jadi mereka harus melaksanakan pekerjaan se­suai metode kerjanya. Cara pengecoran seperti ini, meto­denya seperti ini kan. Bobotnya seperti ini. Nah, (misalnya, red) ini bobotnya nggak boleh lebih sekian ton. Kalau naik kan bobot sekian, ya pasti roboh,” tam­bahnya.

Menanggapi hal itu, anggota Komite Keselamatan Kon­struksi pada KemenPUPR, Lazuardi Nurdin, mengaku belum bisa memastikan penye­bab runtuhnya coran yang belum kering tepat di depan Perumahan Tamansari Per­sada itu, sebelum ada hasil investigasi yang bakal dijalan­kan beberapa waktu ke depan.

“Nggak lama. Kita belum bisa sebut itu kelalaian atau tidak. Sebab ada tiga poin, bisa karena unsafe condition, bisa unsafe action atau kesa­lahan saat menjalankan pro­sedur. Nah, ini yang kita investi­gasi,” katanya usai meninjau lokasi, kemarin.

Ia mengatakan, peristiwa itu bukan yang pertama terjadi di Indonesia. Namun juga terjadi di beberapa proyek wilayah lain. Yang paling besar yakni disebabkan ambruknya peran­cah. Karena itu, pihaknya tidak menetapkan target, namun mengklaim secepatnya akan memanggil perusahaan ter­kait sebelum mengeluarkan rekomendasi. “Ada tiga orang tim kami, kita ambil data lalu uji. Kemudian panggil pihak terkait, bahasan, baru keluar rekomendasi,” ucapnya.

Untuk itu, sambungnya, proyek pembangunan jalan layang sepanjang 2,86 kilome­ter itu harus terhenti semen­tara secara total, dengan wak­tu yang tidak bisa ditentukan. Sembari menunggu hasil in­vestigasi KemenPUPR untuk mencari ‘kambing hitam’ am­bruknya coran pembangunan jalan. “Data-data yang kita dapat hari ini (kemarin, red), soal perencanaan hingga pelaks­anaan, akan kami bawa ke rapat komite. Kita investigasi secara menyeluruh. Setelah (bahasan, red) itu baru nanti ada hasil berupa rekomen­dasi,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Di­rektur Utama PT Marga Sarana Jabar (MSJ) Hendro Atmodjo. Menurutnya, untuk semen­tara pekerjaan dihentikan total guna mengevaluasi (kegiatan, red) proyek. Evaluasi meny­eluruh, sampai ada kejelasan penyebabnya. “Bisa sehari, bisa seminggu atau sebulan. Ya kita tunggu saja, mudah-mudahan tidak lama. Ini kan tiang kesepuluh dari 57 ke­seluruhan,” katanya.

Meskipun dipastikan molor lantaran menunggu hasil in­vestigasi, Hendro mengklaim pekerjaan masih bisa selesai tepat waktu sesuai Kerangka Acuan Kerja (KAK), yakni De­sember 2019. Apalagi proyek dengan nilai kontrak sekitar Rp1,165 triliun itu masuk proy­ek strategis nasional yang harus rampung tepat waktu. “Lagi­pula sejak awal desain itu di­rencanakan dan diasistensikan dengan komite itu. Jadi kami tunggu evaluasi, baru lanjut. Mereka tahu sejak awal desain­nya seperti apa,” ujar Hendro.

Di lain hal, dua korban am­bruknya tiang beton tersebut, Acil dan Hanif, harus menja­lani perawatan intensif di Rumah Sakit (RS) Hermina. Saat dite­mui di lokasi, pihak rumah sakit mengaku tidak bisa memberi keterangan rinci terkait krono­logi kejadian yang dialami kedua pekerja itu.

Berdasarkan keterangan pihak rumah sakit, memang kedua­nya saat ini tengah dirawat di ruang IGD. Namun dari kedua pasien yang dirawat, salah sa­tunya sudah diperbolehkan pulang sejak pukul 08:00 WIB.

Sebelum mengizinkan pulang, pihak RS Hermina juga sempat melakukan perawatan luka kepada pasien, sekaligus mela­kukan foto rontgen di bebera­pa bagian untuk memastikan tidak mengalami patah tulang atau luka dalam yang dialami pasien. “Pasien pertama dinya­takan aman, hanya luka ringan saja yang tidak mengakibatkan cedera serius hingga pasien sudah bisa boleh pulang,” kata Penanggungjawab IGD RS Hermina, Rezanda.

Namun, satu pasien lainnya mengalami luka cukup serius di bagian kepala, yang menga­kibatkan pasien harus dirawat intensif di IGD. “Kalau pasien yang satunya lagi mengalami luka yang cukup serius, maka­nya perlu penanganan khusus dari kami,” terangnya.

Ia mengaku masih belum bisa menyimpulkan kondisi pasien saat ini lantaran pihaknya mesti menunggu hasil obser­vasi yang baru bisa keluar 1×24 jam. “Artinya dalam waktu 24 jam ini pasien mesti kami rawat di ruang khusus untuk kami lakukan observasi. Setelah 24 jam, apabila kondisi mulai membaik, baru pasien bisa dipindahkan ke ruang perawa­tan,” jelasnya.

Disinggung soal kemungkinan terburuk kepada pasien, pihak RS Hermina enggan berspeku­lasi terlalu dalam lantaran mesti menunggu hasil obser­vasi yang saat ini tengah dila­kukan. “Kalau untuk dampak, saat ini tidak ada. Dia masuk ruang intensif atas indikasi cedera kepalanya dan juga bu­tuh penanganan khusus saja. Perlu dipantau, observasi ketat dan monitoring ketat agar bisa dipastikan pasien tidak men­galami cedera tambahan dalam 24 jam ini,” tuturnya.

Rezanda juga membenarkan bahwa pasiennya mengalami luka sobekan dan memar di sejumlah tubuh. “Selain luka di kepala, pasien juga menga­lami luka sobek, memar, mul­tiple kalau istilah kitanya. Mun­gkin karena kena benda berat, tapi kami fokus kepada cedera kepala pasien,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Humas PT MSJ Fery Siregar enggan membeberkan identitas korban dan kondisi terkininya. “Pasti ada tanggung jawab dari kon­traktor,” singkat Fery kepada Metropolitan, kemarin. Sebe­lumnya diberitakan, kecelakaan kerja juga pernah menimpa proyek pembangunan Tol BORR atau lingkar luar jauh pada Kamis (26/10/2017). Crane proyek pembangunan jatuh ke jalan raya hingga nyaris menimpa mobil dan motor yang tengah melintas. (dtk/ryn/ogi/c/rez/run)