Tak Hanya Pedofil, Pembunuh Bocah Diduga Idap Kelainan Seksual Lainnya

by -20 views
Barang bukti dan pelaku pembunuhan bocah di Megamendung Bogor diamnkan kepolisian. (Sandika/Metropolitan)

MENTROPOLITAN.id – Psikolog Universitas Pancasila, Aully Grashinta angkat bicara soal kasus pembunuhan bocah mungil, FAN (7) di Megamendung, Kabupaten Bogor. Menurutnya, perlu ada pemeriksaan lebih jauh terhadap orientasi seksual pelaku karena kemungkinan pelaku tak hanya mengidap pedofilia atau kecenderungan menyukai anak di bawah umur.

Menurut Aully,jika dilihat dalam kasus tersebut, pelaku juga mengoleksi celana dalam wanita. Sehingga, orientasi seksual pelaku tidak selalu pedofilia.

“Untuk menetapkan seseorang merupakan pedofil, memiliki kecenderungan seksual pada anak yang usianya jauh lebih muda, memang harus dilakukan pemeriksaan lebih jauh. Karena jika dilihat dia juga memiliki koleksi celana dalam wanita, mungkin orientasinya tidak selalu pedofil,” kata Aully.

Tak hanya itu, dalam pemberitaan, pelaku disebut melampiaskan nafsunya ketika korban sudah tidak bernyawa. Dorongan untuk melakukan tindakan seksual dengan jenazah sendiri dikenal dengan istilah necrophilia.

“Begitu juga dengan tindakan pencabulan saat korban sudah meninggal. Kelainan seksual ini disebut necrophilia Tapi hal tersebut dapat dikatakan kelainan jika memang dilakukan berulang kali dengan pola yanng sama,” terangnya.

Barang bukti yang diamankan kepolisian salah satunya berupa celana dalam perempuan yang dikumpulkan pelaku. (Sandika/Metropolitan)

Dalam kasus ini, Aully lebih melihat adanya dorongan seksual dan fantasi yang tinggi namun tidak terlampiaskan dengan tepat. Pada usia 23/23 seperti usia pelaku, dorongan seksual memang tinggi. Sehingga, saat ada korban yang dianggap lemah dalam arti mudah dibujuk, mudah diajak dan lainnya maka pelaku akan berani melampiaskan nafsunya.

“Karenanya saat korban menolak, tindakan yang dilakukan adalah memasukkan ke ember sehingga suara korban menjadi tidak terdengar oleh lingkungan sekitar. Saat kemudian dicabuli ya karena memang dorongan seksualnya sedang butuh penyaluran. Tidak terlalu peduli korban sudah meninggal, yang penting tidak berteriak,” ungkap Aully.

Selain itu, dirinya menjelaskan banyak kondisi yang membuat seseorang merasa lebih aman berbuat seksual dengan anak-anak. Misalnya, anak lebih mudah diiming-imingi, mudah dibujuk dan takut melapor pada orang dewasa apalagi jika diancam

“Nah tampaknya pada kasus ini kan korban tinggal berdekatan dengan kontrakan pelaku, tak sulit baginya untuk melakukan tindakan ini. Perlu juga diperiksa lebih jauh apakah dia melakukan hal ini hanya kepada korban saat ini atau sebelumnya sudah pernah melakukannya pada anak-anak yang lain di tempat lain,” tandasnya.

Sebelumnya, Polres Bogor telah menetapkan Haryanto (23) sebagai tersangka pembunuhan bocah mungil (FAN) 7 di Megamendung, Kabupaten Bogor. Berdasarkan hasil penyidikan, polisi memastikan motif pembunuhan tersebut lantaran pelaku memiliki kelainan seksual karena memiliki kecenderungan menyukai anak di bawah umur.

“Adapun motif pelaku adalah masalah kelainan seksual. Pelaku memiliki kecenderungan menyukai anak di bawah umur,” kata Kapolres Bogor AKBP AM. Dicky saat rilis di Mapolres Bogor, Jumat (5/7).

Pelaku membunuh korban pada Sabtu, 29 Juni 2019 pagi hari menjelang siap. Saat itu, usai berjualan bubur, korban datang ke kontrakan pelaku yang tak jauh dari rumahnya. Korban sempat meminta uang dan pelaku memberikan uang sebesar Rp2.000. Pelaku lalu mengiming-imingi akan memberikan uang sebesar Rp5.000 agar korban mau mencium pelaku.

“Pelaku meminta agar korban menciumnya dengan diiming-imingi uang Rp5 ribu,” terangnya.

Namun karena korban menolak, pelaku akhirnya membunuhnya dan melampiaskan nafsunya usai korban meninggal. Pelaku juga diketahui mengoleksi ribuan celana dalam perempuan yang sering digunakan untuk memuaskan fantasinya. (mul/c/fin)