Terusir karena Kebijakan Instan

by -

METROPOLITAN – Jebolan akademi tidak selalu beruntung. Jangankan tersisih ke bangku cadangan karena ketatnya persaingan menembus posisi inti di tim utama. Mereka harus siap-siap terusir karena kebijakan instan. Yakni, lebih tertarik membeli pemain yang sudah jadi ketimbang menunggu pemain akademi berkembang.

Ironisnya, klub dengan akademi yang bagus seperti Real Madrid dan FC Barcelona menempuh cara tersebut. Dari Real, striker Raul de Tomas menjadi contoh terbaru. Sejak promosi ke tim utama pada 2014, De Tomas hanya sekali ’’mencicipi’’ kesempatan bermain di tim utama. Itu pun menggantikan Karim Benzema melawan UE Cornella di ajang Copadel Rey.

Setelah itu, empat musim beruntun dilaluinya dengan status pinjaman ke Cordoba, Real Valladolid, dan Rayo Vallecano. Meski performa De Tomas selama masa peminjaman lumayan, rata-rata mencetak 15 gol per musim, entrenador Real Zinedine Zidane tidak memberinya tempat di tim utama Real musim ini.

Dia dilepas ke Benfica dengan biaya transfer EUR 20 juta (Rp 311,9 miliar) ke Benfica. Nah, dana penjualan De Tomas lantas dipakai Real untuk membeli Luka Jovic dari Eintracht Frankfurt. Striker 21 tahun itu ditebus dengan mahar EUR 60 juta (Rp 935,5 miliar).

’’Membuang striker potensial dari produk akademi sendiri (De Tomas, Red) demi striker yang lebih muda (Jovic, Red),’’ sindir Tribuna. Barca tak kalah disorot. Satu per satu talenta dari akademi La Masia justru hengkang ke klub lain. Xavi Simons, gelandang 16 tahun yang empat kali meraih Youth Ballon d’Or, berhasil dicomot Paris Saint Germain.

’’Xavi (Simons) adalah talenta belia terbaik di Belanda saat ini,’’ klaim Mino Raiola, agen Simons, kepada Foot Mercato. Dari Italia, AC Milan menjadi yang terdepan dalam mengorbankan produk sendiri. Musim ini dua pemain jebolan akademi dilepas. Masing-masing bek Stefan Simic ke Hajduk Split dan Patrick Cutrone ke Wolverhampton Wanderers. (io/c19/dns)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *