2 Minggu 82 Kali Gempa Guncang Bogor

by -39 views

METROPOLITAN – Gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Bogor terus berlanjut. Kemarin, gempa kembali dirasakan warga Bumi Tegar Beriman, tepatnya di Kampung Talahab, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung. Kekuatan gempa mencapai 4.0 skala richter.

Dari data yang dihimpun Metropolitan, gempa sudah terjadi sejak Sabtu (10-23/8). Total guncangan mencapai 82 kali. Kekuatan gempa pun bera­gam, dari 2.0 hingga 4.0 skala richter. Guncangan paling be­sar dirasakan pada Jumat (23/8) sekitar pukul 11:10 WIB pada titik koordinat 6.7 Lintang Se­latan-106.51 Bujur Timur, dengan posisi kedalaman gempa terletak pada 5 kilome­ter di dalam permukaan tanah.

Adapun beberapa wilayah yang merasakan guncangan sejak 10-23 Agustus itu di an­taranya wilayah Nanggung, Pamijahan dan beberapa lagi yang masih dalam pendataan Badan Penanggulangan Ben­cana Daerah (BPBD) Kabupa­ten Bogor.

Sementara akibat gempa sen­diri sebagian warga ada yang memilih mengungsi di tempat aman dan ada juga yang kem­bali ke rumah karena terpaksa (harus menjaga rumah, red). “Secara umum warga masih lebih memilih beristirahat di luar rumah ketimbang di ru­mahnya masing-masing,” kata Kepala BPBD Kabupaten Bogor Yani Hasan.

Pihaknya juga tidak bisa me­mastikan kapan trauma warga akan hilang. Pasalnya, hingga kini warga lebih memilih ber­malam di luar rumah ketimbang di rumah. Dengan alasan takut adanya gempa susulan yang bisa terjadi kapan saja.

“Mereka masih tidak berani tidur di dalam rumah dan lebih memilih untuk bermalam di tenda. Tapi kalau siang hari mereka beraktivitas seperti biasa. Kami tidak tahu sampai kapan warga akan memilih bermalam di luar rumah. Inti­nya sampai tidak ada getaran,” bebernya.

Yani mengaku dalam waktu dekat ini bakal melakukan ko­ordinasi dengan sejumlah pihak untuk segera mengirimkan bantuan makanan dan sejum­lah perlengkapan lainnya. Mengingat dirinya tidak bisa memastikan kapan warga akan kembali tinggal di rumahnya masing-masing.

“Kita akan berkoordinasi ke­pada Dinas Sosial untuk sese­gera mungkin mengirimkan bantuan. Kami takut di sini cadangan makanan diperlukan, mengingat aktivitas warga pada malam hari berpusat di tenda,” ucapnya.

Pihaknya juga menerjunkan enam hingga 12 personel untuk mendampingi masyarakat yang masih trauma pascagempa di sepanjang Agustus ini. Dua tenda berdaya tampung 40 orang juga didirikan pihaknya untuk melayani warga yang terdam­pak gempa.

Sementara itu, Bidan Puske­smas Nanggung Ayu Wahyuni menuturkan, getaran gempa terasa sebelum Jumat siang. Saat itu dirinya sedang berada di luar untuk menemui teman­nya. ”Iya, tadi ada (gempa, red) cuma kalau nggak salah lihat jamnya sebelum jumatan tadi. Pada di luar dan kebetulan lagi nggak ada pasien,” kata Ayu.

Ayu memastikan tak ada ke­rusakan berarti di puskesmas tersebut. Namun, terjadi kepa­nikan warga lantaran khawatir bangunan rumah mereka am­bruk. ”Alhamdulillah kalau di kantor nggak ada kerusakan apa pun,” ucapnya. Ia juga menyebut bahwa munculnya getaran sudah berlangsung terus-menerus dengan kekua­tan relatif kecil. ”Iya, sering banget kerasa gempanya di sini (Kecamatan Nanggung, red),” ujarnya.

Sementara itu, Danramil Nang­gung Kapten Armed Khudho­rim membenarkan bahwa gempa dirasakan sekitar pukul 11:00 WIB. Selain itu, gempa juga sempat terasa pada Senin (19/8) sebanyak lima kali dengan berbagai variasi magnitudo dan kedalaman. ”Iya, tadi ada dan dari hari Senin sebenarnya itu ada lima kali getaran. Masy­arakat kan juga sudah mulai resah takut,” ungkapnya.

Khudhorim mengaku pi­haknya bersama unsur mus­pika sudah melakukan peng­ecekan ke sejumlah permuki­man untuk mengantisipasi gempa susulan yang lebih besar. Antisipasi itu yakni dari pihak BPBD Kabupaten Bogor telah mendirikan tenda daru­rat bagi masyarakat yang belum berani tidur di rumah lantaran khawatir gempa susulan.

”Kemarin juga sudah ke sana dan BPBD mendirikan tenda, cuma hanya antisipasi kalau ada susulan lebih di Desa Ci­talahab karena takut juga ada anak-anak,” terangnya. “Hing­ga kini tenda pengungsian yang terbuat dari terpal itu masih berdiri di tengah perkebunan teh,” sambungnya.

Terpisah, Kepala Bagian Tata Usaha Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) I Gede Suantika me­nyebut gempa di Kabupaten Bogor tidak berbahaya. ”Tidak berbahaya, karena gempanya kecil-kecil,” kata Gede.

Ia menjelaskan, gempa-gem­pa kecil tersebut dianggap se­bagai gempa rintisan (fore shock). Namun setelahnya bisa saja terjadi gempa besar. ”Kalau gempa-gempa kecil ini dianggap sebagai gempa rintisan (fore shock), maka nanti datang gempa utama (main shock) yang magnitudonya paling besar. Nah, ini yang berbahaya,” ucap Gede. Meski begitu, dirinya meyakini di wilayah Kabupaten Bogor itu sangat kecil kemungkinan akan terjadi gempa utama yang besar.

Sementara itu, Kepala Sta­siun Geofisika Badan Meteo­rologi, Klimatologi dan Geofi­sika (BMKG) Bandung, Tony Agus Wijaya, menjelaskan tak hanya Bogor Raya, sebagian wilayah Jawa Barat juga turut merasakannya.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, gempa bumi berke­kuatan 4.0 skala richter tersebut terletak pada koordinat 6.7 Lintang Selatan-106.51 Bujur Timur, tepatnya berada di wi­layah Kabupaten Bogor, dengan posisi kedalaman gempa ter­letak pada 5 kilomter di dalam permukaan tanah.

Jika mengacu kepada epicen­ter atau titik di permukaan bumi, yang berada tepat di atas atau di bawah kejadian lokal yang memengaruhi permu­kaan bumi dan hiposenter atau pusat gempa, guncangan ter­sebut terjadi lantaran aktivitas sesar (Patahan Bumi, red) Ci­tarik.(kom/ogi/c/rez/run)