Cermat di Setiap Proses

by -43 views

METROPOLITAN – Raut wajah Adinda Fatihah tampak serius saat memperhatikan jarum timbangan. Dia sedang menimbang adonan pie susu. Ya, Adinda dan adiknya, Athaya, mengikuti eksperimen singkat dalam membuat kue bareng komunitas Yippie Yay! di Festival Anak Bertanya 2019 beberapa waktu lalu di Bandung, Jawa Barat.

Setiap anak yang ingin menjadi chef di Yippie Yay! hanya perlu membayar Rp 15 ribu. Setelah membayar, peserta akan diberi adonan yang siap dibentuk. Adonan dicubit, kemudian ditimbang 15 gram. Tidak boleh lebih dari 15 gram, ya.

Sebab, kalau kelebihan, pie susunya bisa gendut dan keras. Nah, ketika cubitan pertama dari adonan yang siap dibentuk ternyata masih 12 gram, Adinda mencubit lagi dan menaruhnya di atas timbangan. ”Kurang 3 gram,’’ katanya.

Nah, kalau beratnya sudah 15 gram, peserta diberi cetakan pie. Cetakan itu bakal membentuk pinggiran pie yang bergelombang. Jadi, kalian nggak perlu membentuk secara manual dengan tangan. Meski begitu, kalian bisa saja membuatnya tanpa cetakan di rumah. Tentu, membentuk tepian pie pakai tangan. Di setiap sesi pembuatan pie, ada dua kakak yang mendampingi peserta.

Untuk isian pie, kakak-kakak dari Yippie Yay! menyediakan dua varian. Cokelat dan matcha. Adinda memilih rasa matcha. Pelan-pelan ya saat menuangnya. Jangan terlalu penuh. Hal itu dipatuhi Adinda. Tangan kanannya menuangkan cairan matcha di pie-nya dari teko kecil. Dengan perlahan, cairan matcha memenuhi bagian tengah pie.

Adinda enggan berpaling ke kanan atau kiri. Bahkan, dia tidak menoleh saat Athaya mencolek bahunya. ”Ini dituang di sini ya, Kak?” tanya Athaya kepada kakaknya dengan volume suara pelan. Langkah terakhir, masukkan pie ke oven. ’’Pas memasukkan ke oven, kami dari Yippie Yay! bakal membantu. Kan takut panasnya oven kena kulit adik-adik,” ujar founder Yippie Yay! Arini Candraputri.

Sementara itu, psikolog anak Apfia Ticollin menjelaskan, orang tua tidak perlu takut melibatkan anak di dapur. Berikan ruang berekspresi kepada anak di dapur. Salah satunya, pemilihan bahan masakan. ”Kalau bikin kue, coba ditanyain, ’Adik, enaknya kuenya dibentuk bintang atau apa, ya?’,” tuturnya saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/8).

Meski begitu, Bunda harus memberikan batasan. Misalnya, tidak boleh menyalakan kompor atau memotong bahan makanan bertekstur yang membahayakan anak. Apfia lantas mencontohkan aktivitas yang bisa dilakukan anak ketika memasak bareng orang tua di dapur.

Mulai membereskan perlengkapan memasak, memilih warna atau bentuk makanan dan minuman, hingga menentukan rasa masakan. ’’Jika anak salah, jangan dibentak atau dimarahi. Kalau bisa, justru sisipkan wawasan baru. Misalnya, tentang gizi atau vitamin,” paparnya. (sam/c18/nda)