DKI Jakarta Krisis Air Bersih, 12 Tahun Konsumsi Air Bau Amis

by -60 views
ANTRE: Sejumlah warga Jakarta antre membeli air bersih di pedagang air keliling sejak 12 tahun lalu lantaran kesulitan air bersih.

METROPOLITAN – Megah dan kokohnya gedung-gedung di DKI Jakarta mampu mengalihkan semua perhatian orang yang melihatnya. Namun, di balik menterengnya gedung-gedung itu tak sedikit masyarakatnya yang sengsara. Di antaranya kesulitan mendapatkan air bersih.

Seperti yang dialami Yanti, yang sudah tinggal selama 12 tahun di Muara Baru, Kampung Kembanglestari, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Ia mengaku dari awal tinggal di sana sudah membeli air ber­sih.

Sebab, air yang diguna­kannya sehari-hari berasal dari air tanah. Karena itu, ia hanya menggunakannya un­tuk mencuci pakaian. ”Beli air bersih untuk mandi, buat air bersih dan masak juga,” katanya.

Wanita yang sehari-hari ber­jualan minuman olahan dan gorengan itu juga mengaku harus mengeluarkan uang cu­kup besar untuk membeli air bersih. Sehari-hari ia dan kelu­arganya membeli air bersih sekitar Rp4.000 per pikul.

Satu pikulnya terdapat dua jeriken. Sedangkan ia dan keluarganya menggunakan air bersih tujuh pikul dalam satu minggu. Jika dihitung, berarti dalam satu minggu ia menghabiskan Rp28.000 atau Rp112.000 per bulan. ”Tujuh pikul itu harus dicukup-cukupi untuk satu minggu,” ujarnya.

Sementara penjual air ber­sih gerobakan, Tono, menga­ku air bersih yang dijualnya berasal dari penampungan. ”Saya juga beli ke tukang ledeng (penampungan air, red), se­telah itu saya jual lagi ke warga,” katanya.

Dari penampungan air, Tono membelinya seharga Rp15 ribu sekali isi untuk 16 jeriken atau delapan pikul. Ia kem­bali menjualnya ke warga seharga Rp4.000 per satu pikul. Para pelanggan, tutur Tono, merupakan warga perantau yang tinggal di kontrakan. Sebab, kebanyakan rumah kontrakan tidak memiliki pompa air sehingga harus membeli air bersih.

Namun, Tono mengaku me­miliki jumlah pelanggan yang sedikit. Bahkan, dirinya per­nah mengantarkan tiga pikul saja dalam satu hari atau mendapatkan penghasilan sebesar Rp12 ribu saja.

Di balik jerih payahnya se­lama ini, Yanti dan Tono ber­harap ada kehadiran pemerin­tah untuk mengatasi persoa­lan air bersih di wilayah tempat tinggalnya. Terlebih Yanti, mengaku sangat senang mendengar wacana Pemerin­tah Provinsi DKI Jakarta yang ingin membuatkan depo air bersih selama musim kema­rau seperti sekarang ini.

”Saya juga dengar kalau pemerintah mau kasih air bersih, cuma sampai sekarang belum ada. Nggak tahu kenapanya,” imbuh Yanti.

Ia pun mengaku belum mengetahui tata cara men­jadi pelanggan PD PAM Jaya yang notabene menjadi ke­panjangan tangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meny­ediakan air bersih.

Kota yang kerap dibilang se­gala sesuatu bisa menjadi ke­untungan pun memang benar adanya. Salah satu contohnya adalah mengenai fasilitas toilet umum, sering terlihat di fasi­litas itu terdapat seorang pen­jaga yang meminta uang dengan dalil modal untuk kebersihan fasilitas. Begitu juga dengan pemanfaatan air bersih yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah, kini seba­gian masyarakat DKI Jakarta masih ada yang kesulitan air bersih.

Bahkan untuk menikmati air bersih, warga harus mem­belinya. Sungguh ironis bukan? Di tengah perputaran eko­nomi yang begitu pesat di ibu kota, namun sebagian war­ganya masih kesulitan air bersih.

Wilayah Muara Baru, Kam­pung Kembanglestari, Keca­matan Penjaringan, Jakarta Utara, merupakan wilayah padat penduduk. Bahkan ter­lihat jelas hampir seluruh rumah warga membeli air bersih. Pasalnya, terlihat jelas di depan rumah warga selalu ada tumpukan jeriken air.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tampaknya tidak ting­gal diam melihat fenomena akses air bersih untuk seba­gian warganya. Melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) dan PD PAM Jaya, Anies segera mengatasi permasalahan air bersih, khususnya untuk ma­syarakat tidak mampu.

Kepala Dinas (Kadis) SDA Provinsi Jakarta Juaini men­gatakan, ada beberapa upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ke depan­nya dengan membuat depo air bersih di wilayah yang kesulitan air bersih, khususnya di musim kemarau.

”Itu nan­ti kita kerja sama dengan PD PAM untuk menyalurkan air bersih. Kemarin sudah dira­patkan dengan wali kota Ja­karta Utara dan Jakarta Barat, di mana di daerah kekeringan itu yang akan disuplai,” kata Juaini.

Juaini menargetkan PD PAM Jaya harus bisa merealisasikan program jangka pendek ini di akhir Agustus 2019. Saat ini, pihaknya sudah meminta data wilayah kekeringan air kepada wali kota Jakarta Pu­sat dan Jakarta Barat. Nantinya, warga yang kesulitan air ber­sih bisa mendapatkannya secara gratis. Sebab, PD PAM Jaya akan menyuplai melalui tangki setiap harinya.

Sedangkan jangka menengah panjang yang akan dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Ja­karta adalah menerapkan teknologi penyulingan air di waduk. Namun, program ter­sebut baru bisa diimplemen­tasikan pada tahun depan.

Juaini mengatakan, waduk yang sudah tertata baik akan menjadi sumber air baku un­tuk wilayah Jakarta yang kesu­litan air bersih. ”Tahun depan­nya kita baru benar-benar memprogramkan untuk meng­gunakan waduk sebagai peny­ediaan air baku,” jelasnya.

Dinas SDA pun tidak memun­gkiri terjadi kebocoran peng­awasan terhadap fenomena tukang penampungan air alias ledeng yang menjual air kepada masyarakat. Karena itu, beberapa upaya menga­tasi persoalan tersebut akan masuk program prioritas di Dinas SDA. (dtk/mam/run)