Jadi Dosen, Kejar Doktor hingga Inggris

by -180 views
BANGGA: Raeni diantarkan ayahnya saat mengikuti prosesi wisuda di Unnes, beberapa waktu lalu.

METROPOLITAN – Masih ingat dengan Raeni? Putri seorang tukang becak yang berhasil jadi wisudawati terbaik di Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96. Kini perjalanan hidupnya sangat menginspirasi.

Raeni dikenal masyarakat saat di­antar wisuda oleh bapaknya meng­gunakan becak dari Kendal ke Sema­rang pada 2014 lalu. Kisah Raeni menjadi wisudawati terbaik, meski ayahnya seorang tukang becak, me­narik perhatian banyak orang. Tak terkecuali Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. Kini cerita haru itu sudah menjadi masa lalu. Cerita tentang Raeni telah berganti menjadi kisah penuh inspiratif.

Raeni asal Langenharjo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, itu kini telah menamatkan pendidikan master di University of Birmingham Inggris. Ia kembali mendapat bea­siswa untuk meneruskan pendidikan doktor.

Ia menamatkan studinya di Inggris pada Desember 2016.

Sejak itu, Raeni mengabdikan dirinya menjadi dosen di alitu, Raeni mengabdikan
dirinya menjadi dosen di almamaternya, Fakultas Ekonomi Unnes. Tak cukup hanya sampai pendidikan master, Raeni mengejar cita-citanya meraih doktor. ­

Perjuangannya mulai me­nampakkan hasil. September tahun ini ia akan berangkat ke Inggris. Direncanakan pada 1 Oktober 2018, Raeni akan mu­lai kuliah dengan beasiswa lanjutan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Pengumuman penerimaannya diketahui pada 19 Januari 2018.

“Tahun ini sebagian cita-cita saya sudah tercapai, tapi tetap harus berjuang dan ber­semangat lagi. Cita-cita terse­but adalah memberangkatkan orang tua umrah pada Fe­bruari lalu serta mendapat beasiswa untuk program dok­tor,” kata Raeni dengan sem­ringah menceritakan kisahnya.

Untuk pendidikan doktornya, Raeni kembali memilih Uni­versity of Birmingham. Alasan­nya agar tidak terlalu beradap­tasi serta sudah mengenal budaya di Inggris. “Yang pasti kan sudah kenal dengan kampusnya, termasuk komu­nikasi dengan pengajarnya. Kendala awal itu soal bahasa, nulis susah, culture, jadi tidak perlu lagi language support dari lembaga kampus,” ucap­nya.

Sebelum diterima, Raeni sudah melalui serangkaian tes dan wawancara dengan calon profesor dan program director S3 hingga akhirnya menda­patkan Unconditional Offer Letter. “Awalnya saya dinomi­nasikan dalam shortlist bea­siswa dari kampus, namun untuk international student tidak meng-cover semua biaya. Jadi saya menyampaikan ke kampus bahwa saya tidak bisa menerima hanya parti­cally funded,” paparnya.

Raeni pun mengaku sudah menyiapkan diri sehubungan dengan masa depan pendidi­kannya. Selain mental, ia juga mulai memperbanyak peng­etahuan riset, literasi dan jur­nal.

“Saya juga mencoba mem­buka jaringan lagi, agar semua dimudahkan saat berada di Inggris nanti. Termasuk jika kangen keluarga,” ujarnya sembari tersenyum. Untuk mengobati kangen, Raeni membekali ayahnya dengan gawai dan mengajarinya meng­gunakan WhatsApp agar bisa video call. (lip/rez/run)