KNPI Sarankan UAS Minta Maaf

by -2,587 views
Ustad Abdul Somad (UAS)

METROPOLITAN.ID – Maraknya protes masyarakat terhadap isi ceramah Ustadz Abdul Somad alias UAS karena mengolok-olok simbol agama lain terus menjadi polemik. Fenomena ini mendapatkan tanggapan dari Sekretaris Jendral (Sekjen) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Addin Jauharudin. Menurut Adin, maraknya protes tersebut tergolong wajar karena keyakinan beragama adalah hak setiap individu warga negara yang dilindungi UUD 45.

“Baik secara agama maupun Undang-undang dilarang untuk mengolok-olok simbol agama lain, baik di forum internal umat beragama maupun di forum umum. Mengolok-olok simbol agama lain, hanya akan menimbulkan reaksi yang serupa dan bisa memecah belah masyarakat. Tokoh sekaliber UAS semestinya memberikan pesan-pesan keagamaan yang sejuk, bukan justru meradikalisasi umat melalui candaan atau olok-olok simbol agama lain,” tegasnya.

Masih kata dia, Agama Islam mengajarkan kasih sayang dan memiliki nilai yang bersifat universal. Oleh karena itu, hal ini harus menjadi pelajaran agar tidak terulang kembali dan memohon kepada seluruh pemuka agama untuk bisa menahan diri, dikarenakan kejadian ini bersifat personal UAS dan bukan menjadi representasi umat Islam secara keseluruhan.

“Sudah 74 tahun Indonesia merdeka dibangun dengan pondasi kebhinekaan, gotong royong, tolong menolong, saling menghargai dan saling menjaga, jangan sampai hal ini dirusak oleh sebagian orang atau golongan. Karena Republik Indonesia ini didirikan oleh banyak kelompok suku, agama, dan golongan,” tambahnya lagi.

Addin menambahkan, seharusnya UAS segera melakukan permohonan maaf. UAS adalah sosok figur yang sadar dan selama ini mampu mengelola media sosial secara baik, dan tentu pengikutnya sangat banyak, jika tidak melakukan permohonan maaf, maka dakwah tersebut akan dianggap benar murid dan simpatisannya.

Addin bahkan mencontohkan, kasus penodaan agama yang pernah menjerat Ahok, cukup menjadi pembelajaran untuk bijak dalam bertutur kata atau menyampaikan pendapat dimuka umum. Terlebih dengan adanya pasal 156 tentang penodaan agama yang akan membuat siapapun berkedudukan sama di mata hukum.

“Siapapun tanpa pandang bulu, orang yang terbukti melakukan penodaan agama maka akan berhadapan dengan hukum yang berlaku. Maka sebaiknya hal ini menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat agar kasus penodaan agama tidak boleh terulang kembali,” imbuhnya.

Sebagai masyarakat Indonesia, masih kata dia, yang hidup dalam kemajemukan Nusantara, sebaiknya semua masyarakat khususnya publik figur, tokoh masyarakat dan pemuka agama bisa saling menjaga keharmonisan dalam hidup beragama, menumbuhkan sikap toleransi, dan saling melindungi satu sama lain.(suf)