Noda Hitam si Wakil Rakyat

by -17 views

METROPOLITAN – Sebanyak 45 anggota DPRD Kota Bogor periode 2014-2019 rupanya memiliki banyak cata­tan hitam. Berbagai kasus kerap menerpa wakil rakyat yang duduk di kursi parlemen itu. Mulai dari kasus peni­puan hingga lecehkan profesi wartawan.

Anggota DPRD Kota Bogor yang tersandung serangkai­an kasus menjadi noda hitam bagi lembaga institusi le­gislatif Kota Bogor. Direktur Centre for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai idealnya seorang wa­kil rakyat jauh dari perkara yang dapat memberikan citra buruk kepada DPR. “Jika wakil rakyatnya memiliki ba­nyak catatan hitam, apakah masih pantas jadi wakil ra­kyat?” ujarnya kepada Metropolitan.

Catatan Harian Metropolitan, pada periode 2014-2019 setidaknya ada tiga anggota dewan yang pernah bermasalah. Seperti K yang terjerat kasus penipuan kegiatan fiktif, R yang pernah melecehkan profesi wartawan, U yang diduga me­langgar kode etik karena me­mimpin sidang paripurna menggunakan atribut ormas dan mabuk di tempat hiburan malam. ­

Belum lagi soal hak interpe­lasi dewan soal kasus pembe­basan lahan Jambu Dua, hak angket dugaan penyalahgu­naan wewenang yang dilaku­kan wakil wali kota Bogor mengenai proses lelang ULP. Kedua hal itu tidak menemui titik terang dan seolah stak di tengah jalan.

“Itu memperlihatkan wajah anggota dewan kita banyak persoalan dalam dirinya sen­diri. Harusnya mereka itu memecahkan permasalahan, mencari solusi,” imbuhnya. ”Ternyata mereka malah mem­buat persoalan. Akibatnya dan dampaknya tentu kepada ki­nerja mereka, untuk mem­bawa dan mengawal aspirasi masyarakat terabaikan,” sam­bungnya.

Jika dilihat secara umum, sam­bung Uchok, masyarakat hanya dimanfaakan saja selama ini. Kurang lebih seperti kacang lupa kulitnya. “Anggota DPRD bisa duduk dan menikmati ja­batannya, itu semua karena masyarakat. Jadi ketika mereka menjabat, yang harusnya dip­erjuangkan adalah masyarakat. Bukan malah fokus mengem­balikan modal,” ungkapnya. (ogi/b/mam/run)