Polemik Penolakan Trem Ngaspal di Bogor

by -42 views
BIMA ARYA, Wali Kota Bogor

METROPOLITAN – Ren­cana Pemerintah Kota (Pem­kot) Bogor mengoperasional­kan moda transportasi Trem, rupanya menimbulkan kon­troversi. Sebab, ada penolakan dari Organisasi Angkutan Daerah (Organda) yang me­nuding kehadiran Trem hanya akan membuat sesak jalanan, bahkan mematikan usaha angkot.

Apalagi, rencana ‘trayek’ nantinya akan bersing­gungan langsung dengan berbagai trayek angkot di pusat kota. Meski begitu, itu tak men­gurungkan niat Pem­kot Bogor untuk menghadirkan moda transportasi baru ter­sebut di Kota Hujan.

Wali Kota Bogor, Bima Arya, tidak ambil pusing terkait kontroversi yang ada. Baginya, pengadaan Trem tak ada hu­bungannya dengan kelangs­ungan hidup angkot yang selama ini ngaspal di Kota Bogor.

Menurut Bima, jumlah angkot yang beroperasi semakin lama akan semakin menurun. Sejalan dengan itu, kebi­jakan konversi angkot bakal ber­jalan dengan pola baru yang tengah dimatan­gkan. Sehingga keberadaan Trem tidak untuk menggantikan angkot, melainkan melen­gkapi moda transportasi yang ada.

“Jangan salah paham. Trem tidak meminggirkan angkot, nggak ada hubungannya. Trem tetap jalan. Sedangkan kalau angkot kan sudah ada skema konversi yang masih dikaji dengan pola berbeda. Bukan menggantikan, tapi melen­gkapi bus Transpakuan yang nantinya jalan menggantikan angkot secara bertahap,” ka­tanya kepada Metropolitan di Mal Lippo Keboen Raya, kemarin.

Politisi PAN itu mengklaim saat ini angkot Kota Bogor yang masih operasi jumlahnya tidak sampai 3.412 unit, se­perti data Dinas Perhubung­an (Dishub) Kota Bogor, te­tapi hanya di kisaran 2.400-an unit angkot. Belum lagi, ada 700-800 unit ang­kot yang sudah berusia 20 tahun keatas alias expired, mesti melakukan peremajaan atau menghilang dari peredaran. Artinya, sambung dia, ada sisa 1600-an angkot saja yang akan operasi tahun de­pan.­

“Saya fikir angkot sudah pasti hilang, paling 2022 itu sudah hilang. Makanya kita upayakan konversi, kita fikir­kan nasib mereka (pengu­saha angkot, red) kemana? Konversi bakal diterapkan dengan pola berbeda, karena sekarang kita kembalikan ke titik nol, kita sedang upayakan skema baru, dimana badan hukum yang akan lobi inves­tor dengan cara sendiri untuk pengadaan atau operasional,” papar Bima.

Meskipun sudah gembar-gembor soal pengadaan Trem, nyatanya Pemkot Bogor sen­diri masih berkutat di kajian layak tidaknya Trem, yang rencananya hibah dari Be­landa itu ngaspal di Kota Bo­gor, oleh pihak ketiga konsul­tan transportasi dengan ang­garan sekitar Rp200 juta. Selain itu, dalam waktu dekat ia juga akan mengutus Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim untuk perrgi ke Ut­recht, Belanda, untuk ber­komunikasi dengan pemberi hibah itu.

“Tapi yang penting kajiannya dulu, layak atau tidak di Kota Bogor. Kalau cocok dengan Trem dari Utrecht, ya bisa. Kalau nggak, ya bisa Trem dari mana saja. Selain itu, hasil kajian juga jadi dasar siapa yang nanti pengelola, trayeknya kemana saja, perlu penyesuaian atau tidak di lintasannya. Rencana jalurnya Kebun Raya Bogor, Stasiun Bogor, Jalan Suryakencana, hingga Jalan Pajajaran. Itu juga kita kaji, cocok atau ng­gak, jalur itu ada biaya (per­baikan) tidak, berapa lama, dari mana (anggarannya),” jelas suami Yane Ardian.

Sebelumnya, keberadaan trem, diyakini hanya akan menambah masalah di jalanan kota yang ’cuma segitu-gitu­nya’. Belum lagi ’trayek’ jalan trem yang bersinggungan dengan banyak trayek angkot yang juga lewat jalanan yang sama. Sehingga ada kekha­watiran nantinya trem bisa membunuh perlahan pada pengusaha angkot.

”Rencana pengadaan Trem itu nggak melihat kondisi ek­sisting jalanan Kota Bogor loh. Apalagi rencananya ngaspal di sekitaran Kebun Raya Bo­gor. Sedangkan kapasitas jalan cuma segitu-gitunya, nggak ada penambahan. Se­karang saja macet, apalagi kalau ada trem?” kata Ketua DPC Organda Kota Bogor Moch Ischak.

Ischak pun berkaca pada pengalaman DKI Jakarta yang pernah mengadakan moda transportasi Trem di jalanan ibukota pada tahun 1960, namun pada akhirnya harus menghilang dari peredaran jalanan. ”Segitu ibukota, yang punya sarpras jalan lebih be­sar. Kita mah luasnya nggak berubah. Badan jalan hilang oleh Trem nantinya. Otista sekarang saja masih macet, apalagi kalau ada trem,” pung­kasnya. (ryn/c/yok)