Temukan Obat Kanker, Sabet Emas di Korea

by -56 views
GENIUS: Aysa Aurealya dan Anggina Rafitri meraih medali emas pada ajang WICO di Seoul, Korea Selatan, lantaran menemukan obat kanker.

METROPOLITAN – Baru-baru ini, dua gadis suku Dayak dari Kalimantan Tengah (Kalteng) berhasil membawa harum nama Indonesia di kancah internasional. Mereka berhasil meraih medali emas di Seoul, Korea Selatan.

Keduanya adalah Aysa Aurealya dan Anggina Rafitri, penemu obat kanker payudara. DUA siswi SMAN 2 Kota Palangka Raya itu berhasil membuktikan bahwa generasi muda Kalteng memiliki kualitas. Mereka berhasil meraih Gold Medals pada ajang World Invention Creativity (WICO) di Seoul, Korea Selatan.

Keduanya mengenalkan akar bajakah tunggal yang tumbuh di tanah Kalteng. Obat tradisional itu memang terkenal mampu menyembuhkan tumor ganas seperti kanker payudara. ”Akar bajakah tunggal ini ada di tanah Kalteng, bisa menyembuhkan kanker payudara. Tidak diketahui banyak mayarakat secara luas,” kata Aysa.

Penemuan mereka juga sudah dibuktikan dengan melakukan uji laboratorium di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kota Banjarmasin.

Hasil lab membuktikan kandungan akar bajakah antara lain saponin, alkoloid, steroid, terpenoid, flavonoid, tanin dan phenolic yang dapat menyembuhkan tumor ganas.

”Kandungan dalam akar bajakah tersebut membuktikan bahwa akar bajakah ini dapat menyembuhkan kanker payudara,” ucapnya.

”Orang-orang pedalaman ini meyakinkan bahwa akar bajakah bisa menyembuhkan kanker payudara, banyak orang-orang terdahulu membuktikan,” sambungnya.

Proses pembuatannya pun tidak sulit, akar bajakah dikeringkan terlebih dahulu. Dapat secara manual dengan sinar matahari ataupun dikeringkan melalui oven. Selanjutnya ditumbuk menggunakan alat tumbuk manual atau bisa juga menggunakan blender.

”Kami menggunakan alat manual. Karena belum memiliki alat,” singkat gadis berkulit cerah itu. Penelitian tim tersebut dilakukan selama kurang lebih tiga bulan. Uji coba yang dilakukan Aysa dan Anggina pertama kali dilakukan pada tikus putih.

Ternyata selama sekitar dua minggu, sel tumor yang ada pada tikus putih menghilang.

”Bahkan tikus tersebut dapat tumbuh besar dan berkembang biak. Sel tumor yang sebelumnya positif menjadi nol sentimeter,” jelas Anggi.

Hasil itulah yang akhirnya dikemas menjadi sebuah karya ilmiah dan ikut lomba pada ajang Youth National Science Fair 2019 (YNSF) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung. Dengan capaian tersebut, mereka berhasil membuktikan bahwa generasi muda suku Dayak Kalteng juga memiliki kualitas. (tib/rez/run)

Loading...