Transportasi Mewah pada Masa Kolonial ‘Kereta Jaladara’

by -

METROPOLITAN – Moda transportasi di Indonesia memang sudah mengalami banyak sekali perkembangan. Makin cepat, makin nyaman, dan makin beragam. Inilah yang mempermudah kita untuk berpindah tempat dengan praktis. Tapi, apakah pernah terbayang bagaimana orang-orang terdahulu berpindah tempat?

Saat mengunjungi Kota Solo, seolah saya masuk dalam lorong waktu ke masa lampau. Terlebih saat saya berkesempatan untuk naik kereta uap Jaladara. Kereta uap Jaladara ini ditarik oleh lokomotif bertenaga uap buatan Jerman tahun 1896.

Lokomotif dengan nomor seri C 1218 ini memang sudah tua. Ditambah lagi, dua gerbongnya yang terbuat dari kayu jati itu hanya bisa menampung sekitar 72 orang saja. Meski kereta ini masih beroperasi di zaman modern ini, jangan pernah membayangkan bahwa fasilitas di dalam gerbongnya eksklusif, ya.

Kereta ini adalah kereta tua, bentuknya jadul, staminanya pun sudah menandakan usianya dengan perawatan yang super mahal. Kereta ini beroperasi jika ada orang yang menyewa saja. Satu bulan hanya dibatasi enam kali penggunaan dengan harga sewa yang terbilang mahal dengan prosedur perizinan dari PT KAI dan Dinas Perhubungan setempat. Harga sewanya pun cukup mahal untuk sekali trip, yaitu sekitar Rp 5 juta.

Itulah sebabnya, kenapa saya merasa beruntung bisa mencoba keliling kota Solo naik kereta Jaladara yang dulunya digunakan sebagai alat transportasi oleh masyarakat. Saat naik ke dalam gerbong kayu tua bertuliskan ‘Jaladara’ saya seolah masuk kedalam lorong waktu pada masa kolonial Belanda.

Membayangkan apakah begini rasanya menggunakan moda transportasi kereta yang dulu tentu dianggap mewah. Bangku kayu yang keras, kecepatan yang sangat pelan dan suara bising seolah kompak membawa saya kembali ke zaman tersebut. Belum lagi mbok jamu dan para pesinden yang ada di dalam kereta. Lengkap lah sudah.

Kereta ini memang sangat jauh dari kata nyaman pada masa sekarang. Namun, saya rasa kereta ini sangat mewah pada masanya. Kendati demikian, teman saya masih bisa tertidur pulas di atas bangku jati yang keras dan suara bising yang membuat telinga menjadi pengang.

Perjalanan dimulai dari Stasiun Purwosari hingga menuju Stasiun Solo Kota dengan melewati Jalan Protokol Slamet Riyadi. Kereta Jaladara seolah jalan di tengah kota bersama dengan kendaraan lain seperti trem.

Saya sangat menikmati perjalanan ini. Canda dan tawa para penumpang yang merupakan teman satu rombongan, hiburan musik Jawa dan jamu tradisional lengkap dengan kudapan khas Solo, serabi notosuman. Kereta Jaladara bisa berhenti kapan saja dan di mana saja. Sesuai dengan dengan permintaan penumpang. Laju kereta yang tidak terlalu cepat itu tidaklah sulit untuk membuat masinis menghentikan kereta dan istirahat.

Pemberhentian pertama kami ada di depan rumah dinas wali kota yang dikenal dengan Loji Gandrung. Rumah dinas ini sangat istimewa karena dulu pada tahun 1946 Presiden Soekarno sering menginap di rumah tersebut, tepatnya di kamar depan. Uniknya lagi, semua perabotnya masih asli keluaran zaman dulu dan tidak ada yang berani mengubahnya. Pasalnya, tempat ini sudah ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya.

Sedikit cerita mistis yang pernah saya dengan dari para petugas rumah dinas, katanya pada malam-malam tertentu sering ada bekas bercak kaki basah di lantai, padahal kamar tersebut tidak pernah dihuni siapa pun.

Dari sejumlah cerita mistis di Loji Gandrung, perjalanan masih berlanjut untuk menuju stasiun Solo Kota. Di Stasiun Solo Kota lokomotif mengisi air untuk bahan bakar uap, setelah selesai maka kereta jalan kembali dan membawa kami pulang ke Stasiun Purwosari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *