Warga Bogor Ciptakan Lukisan di Atas Daun

by -22 views
KREATIF: Teddy Arte membuat berbagai lukisan di atas daun kering dan kopi sebagai pewarnanya.

METROPOLITAN –  Tidak ada akar, rotan pun jadi. Perumpamaan itu menggambarkan kreativitas Teddy Arte (37), pria asal Cipanas yang kini tinggal di Wangun, Kelurahan Tajur, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor. Ia berhasil menyulap daun kering sebagai karya seni yang memiliki nilai tinggi.

Pemilik nama asli Tedi Asmara itu mampu melukis di atas daun kering. Keunikan dari lukisan tersebut adalah ukuran daun yang dipakai sebagai kanvas itu berukuran kecil. Selain itu, ia tidak hanya memakai cat air untuk melukis tapi juga meng­gunakan kopi instan untuk membuat lukisan retro monochrome.

Awal mula tercetusnya seni lukis itu berawal dari Tedi ingin memberi hadiah untuk atasannya yang tengah berulang tahun. Waktu itu ia tidak memiliki media kanvas dan kertas yang bisa di­pakai untuk melukis. Tak kehabisan akal, di situ ia melihat sebuah daun jambu  yang permukaannya rata.­ Dicobalah daun itu sebagai kan­vas.

“Saya coba lukis potret wajah dia, terus saya bingkai. Ter­nyata dia senang dan suka hasilnya. Malah saya dikasih uang. Padahal itu hadiah. Lalu atasan saya bilang skill dan kreativitas ini bisa di­kembangkan. Di situlah saya berpikir daun kering ini bisa dimanfaatkan sebagai media lukis dan saya tekuni hingga saat ini,” katanya.

Dalam sebulan, Teddy menda­pat orderan sebanyak dua hingga tiga buah lukisan. Pes­anan kebanyakan dari luar Bogor. Paling jauh NTT dan Yogyakarta. Kebanyakan luki­san yang dipesan adalah potret satu wajah dan dua wajah.

“Yang satu wajah umumnya menggunakan daun karet ku­ning berukuran telapak tangan. Lama pembuatan tiga sampai lima hari. Sedangkan lukisan dua wajah memakai daun awar-awar yang ukurannya sedikit lebih besar, lama pembuatan bisa seminggu. Selain itu, me­lukis di daun berukuran kecil pun bisa,” ucapnya.

“Untuk harga mulai dari Rp1- 3 juta. Kebanyakan pesanan pribadi yakni membuat potret wajah. Biasanya buat hadiah ulang tahun atau wedding. Penghasilan yang didapat pun cukup ngebantu untuk kehidu­pan sehari-hari. Dan ini sudah menjadi pekerjaan tetap saya,” sambung pria yang memiliki cita-cita dapat menggelar pa­meran tunggal itu.

Di sisi lain, ide kreativitasnya ini juga sempat menjadi mas kawin pernikahannya dengan sang istri, Erna Winarsih Wi­yono. Mahar lukisan di daun kering tersebut adalah syarat yang diminta mertuanya.

“Jadi untuk meringankan, orang tua istri (mertua, red) yang minta sebagai peng­ganti mahar (uang panai, red). Kalau pakai syarat lain mun­gkin saya nggak sanggup. Akhirnya saya menyanggupi (lukisan, red). Lalu saya coba buat dan hasilnya diterima,” pungkasnya. (mb/rez/run)