Ade Yasin Gelar Karpet Hijau untuk Investor

by -18 views

METROPOLITAN – Demi mendongkrak investasi, Bupati Bogor, Ade Yasin langsung bergerak cepat mengeluarkan kebijakan untuk memberikan karpet hijau untuk menarik para investor. Menurut dia, saat ini para penanam modal itu sedang hibernasi karena dampak dari Pemilu 2019. Ia juga berharap adanya kolaborasi antara investor dan juga Pemerintah Kabupaten Bogor. “Kita akan memberikan insentif kepada para investor, nanti akan kita berlakukan saat kita mengundang para investor dengan niat supaya Bogor ramah terhadap investor,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Ia juga tidak segan-segan menggelar karpet hijau untuk menyambut para investor yang ingin masuk ke Kabupaten Bogor, asalkan para investor tersebut mau mengikuti semua peraturan yang ada. Yaitu harus mengikuti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang sudah disiapkan oleh Pemkab Bogor. Politisi partai berlambang Ka’bah itu juga menginginkan dipermudahnya izin untuk para investor. “Kami akan ramah terhadap mereka yang memenuhi atau mematuhi regulasi. Yang penting everybody happy,” ujarnya.

Terkait menurunnya nilai investasi dari sektor industri, ia menjanjikan kepada para investor bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Kabupaten Bogor memiliki keterampilan yang cukup untuk mengembangkan bisnis apapun. Ade Yasin berharap para pemodal yang masuk ke Kabupaten Bogor bisa memberdayakan SDM yang saat ini sudah ada di Bumi Tegar Beriman. “Saat nantinya kita berikan insentif perijinan akan kita syaratkan pekerjanya nanti warga Kabupaten Bogor, kecuali untuk posisi tenaga ahli,” terangnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Pengolahan Data, Judi Rachmat memang nilai investasi yang masuk ke Kabupaten Bogor dari 2015 sampai dengan sekarang masih fluktuatif. Tercatat data investasi di Kabupaten Bogor sendiri pada tahun 2015 itu sebesar Rp13,8 triliun dan mengalami penurunan pada 2016 menjadi Rp11,1 triliun. Tren penurunan itu berlanjut hingga ke 2017 menjadi Rp7,2 triliun dan terakhir pada 2018 bisa naik sedikit menyentuh angka Rp8,2 triliun.

Walau nilai investasi menurun, tapi untuk investasi di sektor pariwsata sendiri mengalami peningkatan. Dengan potensi investasi terlengkap, yakni terdiri dari investasi primer yang meliputi tambang, persawahan dan peternakan, lalu ada investasi sekunder yaitu dari sektor industri serta investasi tersier yang terdiri dari hotel, wisata, kuliner dan sebagainya. Menurut Judi, malah terjadi trend pergeseran investasi yang masuk. “Nilai investasi yang masuk itu berubah dari yang beberapa tahun lalu investasi sekunder, sekarang menjadi tersier. Karena jika dibandingkan nilai investasi sebuah pabrik dengan hotel itu kan sudah berbeda nilai invesnya,” pungkasnya. (cr2/b/els)