Aku Dimadu kemudian Dibuang! (Habis)

by -

METROPOLITAN –  Suatu hari, tiba-tiba aku dipertemukan dengan seorang hamba Allah. Beliau mengajarkan aku tentang dunia bisnis kecantikan. Mula-mula aku cuma jadi sales sambil bekerja di pabrik dan menjual produk kecantikan secara online. Perlahan hidupku berubah. Aku berhasil mengumpulkan uang yang tak pernah aku lihat sebanyak itu saat masih bersama suamiku.

Kini aku mampu memilikinya sen­diri dan menciptakan produk sen­diri hasil usahaku selama ini serta selalu tawakal. Alhamdulillah, hidup­ku jauh lebih berubah. Sejak usiaku 25 tahun, aku sudah terkenal dengan produk kecantikan keluaranku sen­diri. Aku kemudian pindah tempat ke Kuala Lumpur untuk memudahkan kerjaku sebagai stokis product yang banyak berada di Kuala Lumpur.

Sekarang aku mampu membeli apartemen hasil kerja kerasku selama ini. Aku mampu membeli mobil, walau dengan cara kredit via bank. Yang terpenting, ibu dan ayah aku bawa tinggal bersamaku.

Setelah tahu aku sukses, mantan suamiku hampir setiap malam mene­lepon dan SMS, merayu dan memohon maaf serta menyesal karena telah menyia-nyiakan aku dulu. Alasannya, ia merindukan anaknya. Padahal saat Naufal lahir, dia tak pernah ambil pusing, baik dari segi uang maupun segalanya. Alasan anak juga dia gunakan untuk meminta rujuk denganku, ditambah istrinya tak pernah mau tahu tentang makan dan minumnya ketika dia masuk rumah sakit karena kecelaka­an saat pulang dari kantor.

Rumah seperti kapal pecah, sering keluar berfoya-foya bersama kawan-kawan dan sering melawan apabila ditegur mantan suamiku. Istrinya juga tidak pandai memasak. Semua itu aku ketahui dari mantan mertua­ku yang menghubungiku.

Aku sudah tak mau ikut campur lagi dengan urusan rumah tangga mereka. Insya Allah, aku akan mem­buka lembaran baru. Pihak manajer bank tempat saya meminjam telah menyetujui bahwa akhirnya saya akan membuka cabang baru di negara lain. Hasil produk saya akan saya kembang­kan di seluruh negara, itu cita-citaku, si gadis kampung janda anak dua. Saya yakin dengan hikmah yang telah Allah susun untuk kita.

Allah takkan menguji manusia diluar batas kemampuannya. Anakku Raudah dan Naufal yang tersayang sebagai pen­guat tekad semangatku. Untuk wanita di luar sana, buktikan kepada kaum laki-laki bahwa kita juga mampu ber­diri di kaki kita sendiri. Kita harus yakin dengan rezeki Allah.

Untuk mantan suamiku, maaf, ludah yang sudah terjatuh takkan kujilat lagi. Saya sudah bergelar janda. Jan­da bukan sembarang janda, tapi janda yang tidak mengganggu suami orang. (tib/suf/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *