Aku Menyesal Telah Berselingkuh! (2)

by -1.4K views

METROPOLITAN – Aku menganggap itu semua sekadar hiburan kala aku kesepian. Sampai akhirnya aku terbawa suasana dan jatuh hati pada seorang lelaki bernama Yusuf. Aku merasa nyaman berbicara dengannya. Aku yang selalu kesepian dan kurang perhatian, sementara dia yang belum mempunyai pasangan. Perhatian yang dia berikan setiap hari, membuat aku berani melangkah lebih jauh lagi.

Akhirnya kami sering bertemu, setelah aku selesai bekerja tanpa sepengetahuan suamiku. Kami sering janjian untuk bertemu dan makan malam bersama. Bahkan, kami sering berjalan-jalan. Bisa dikatakan kami seperti sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara.

Kami selalu bersenang-senang, bercanda dan berbagi cerita layaknya sepasang kekasih tanpa terpikirkan bahwa aku sudah bersuami dan mempunyai anak. Kami bahkan terlalu berani untuk melakukan hubungan suami istri sampai beberapa kali di hotel.

Aku selalu menganggap itu semua terjadi karena sikap suamiku yang selalu cuek dan tidak memperhatikanku. Itu semua pun aku lakukan sebagai ajang balas dendam atas perlakuan suamiku terhadapku. Balas dendam atas kecurigaanku bahwa suamiku mempunyai WIL. Hubunganku dengan Yusuf berjalan sampai delapan bulan.

Hingga suatu saat suamiku menyadari tingkahku yang aneh dan sikapku yang berbeda. Benar kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Suamiku akhirnya mengetahui perselingkuhanku. Tanpa aku tahu,  suamiku ternyata mem-backup data handphone-ku dan melihat semua foto-fotoku bersama Yusuf, termasuk foto di hotel.

Malam itu dia sangat marah dan menyalahkan semuanya kepadaku tanpa mau mendengar alasanku. Aku hanya bisa menangis dan berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Saat itu juga aku bersujud di kaki suamiku untuk meminta maaf. Tanpa panjang lebar, tiba-tiba entah karena iba atau sayang suamiku membantuku berdiri dan memelukku.

Dia berkata, “Ini semua salahku. Aku yang tidak bertanggung jawab kepadamu.” Kami saling berpelukan dan menangis malam itu. Di hari berikutnya, suamiku selalu menangis dan menangisi apa yang telah terjadi. Bahkan dia berusaha bunuh diri.

Ia seolah kehilangan kesadarannya dan setiap hari dia menangis, memelukku, menciumku sembari berkata, “Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku, aku tak bisa hidup tanpamu. Aku sangat mencintaimu, aku takut kehilanganmu. Sudah jangan sakiti aku lagi.” Hanya kata-kata itu yang selalu dia katakan kepadaku.(bersambung)