Aku Menyesal Telah Berselingkuh!(1)

by -17.6K views

METROPOLITAN – Ini kisahku, berawal dari miss comunication, salah paham, dan kurangnya quality time antara aku dan suamiku. Umurku 25 tahun, aku seorang pekerja dengan jabatan Accounting di sebuah pabrik yang cukup besar di kota tempat aku tinggal. Sedangkan suamiku umur 28 tahun bekerja sebagai karyawan tidak tetap di sebuah instansi sekolah yang tidak jauh dari rumah kami.

Rumah tangga kami sekarang sudah terjalin cukup lama yaitu sekitar 8 tahun dan kami mempunyai seorang putra yang berumur 7 tahun, karena kami menikah muda. Entah kami merasa bosan atau kurangnya quality time,di tahun ke-7 pernikahan kami, kami mengalami kejadian hebat yang kami anggap sebagai sebuah pelajaran berharga.

Awal mula, suamiku lebih sering berada di luar rumah bersama teman-temannya sampai larut malam bahkan terkadang sampai pagi dia baru pulang ke rumah. Dia lebih suka melakukan aktivitas bersama teman-temannya dibandingkan denganku yang berstatus sebagai istrinya, bahkan aku tidak tahu mereka di mana dan apa yang mereka lakukan di luar sana sampai pagi.

Itu semua membuat aku cemburu dan menaruh curiga terhadap suamiku. Apalagi jarang sekali dia mau menemaniku dan anakku untuk sekadar mencari hiburan atau berlibur. Dia tidak peduli dengan aktivitasku sehari-hari di kantor ataupun di luar kantor. Situasi itulah yang membuat aku merasa seperti tidak diperhatikan lagi, bosan, merasa lelah sampai aku berpikir bahwa suamiku sudah tidak mencintaiku lagi dan berpikir dia mempunyai wanita idaman lain (WIL) seperti yang rekan kerjanya katakan padaku. Setiap malam aku merasa kesepian dan pikiranku kacau. Aku hanya bisa menangisi keadaan itu, karena aku tergolong wanita yang berhati lemah dan sensitif.

Entah mengapa di saat suamiku tidak peduli terhadapku dan tidak memperhatikanku, banyak lelaki yang mendekatiku dan ingin menjalin hubungan denganku walaupun mereka tahu aku bersuami, termasuk rekan kerja suamiku yang berusaha mendekatiku. Sampai pada suatu ketika aku berkenalan dengan seorang lelaki bernama Yusuf yang tidak lain adalah teman dari rekan kantorku, kami bertukar PIN BBM dan nomor What’s App untuk suatu urusan pekerjaan. Ya, karena kesepianku dan perasan kacau yang aku rasakan akhirnya setiap hari aku chatting dengan banyak teman lelakiku termasuk Yusuf.

Aku menganggap itu semua sekadar hiburan di kala aku kesepian. Sampai pada akhirnya aku terbawa suasana dan jatuh hati pada seorang lelaki yang bernama Yusuf, aku merasa nyaman bicara dengannya. Aku yang selalu kesepian dan kurang perhatian dan dia yang belum mempunyai seorang pasangan. Perhatian yang dia berikan setiap hari membuat aku berani untuk melangkah lebih jauh lagi, akhirnya kami sering melakukan pertemuan di luar setelah aku selesai bekerja tanpa sepengetahuan suamiku.