Awalnya Untung Ratusan Ribu, Kini Sebulan Beromzet Rp500 Juta

by -11.5K views

METROPOLITAN – Orang akan berdecak kagum melihat usaha dan kegigihannya di bidang pertanian. Betapa tidak, di usianya yang relatif masih muda, lulusan S2 IPB, penggerak 373 petani, dan mengelola lahan seluas 120 hektare lahan sayuran. Dengan sederat usahanya itu, lelaki berkacamata bernama len­gkap Sandi Octa Susila ini juga membawahi 50 karyawan untuk mengelola usahannya itu.

Pemuda kelahiran Cianjur 26 tahun lalu menetapkan jalur profesi dan bisnisnya di dunia pertanian. Hal yang teramat jarang digeluti anak muda pada usianya. Bahkan dia memulai usaha sejak du­duk di semester lima. Awal terjun di dunia bisnis, Sandi melihat banyak hasil panen kebun sayur tidak maksimal diperjualbelikan.

Bermodalkan salah satu website jual beli, Sandi men­dokumentasikan satu per satu hasil produksi ayahnya. Dari situlah dia mendapat pengalaman pertama. “Saya memulai usaha pada 2015. Saat itu masih semester lima. Saya ambil wortel, lettuce, beras, daun bawang, dan ken­tang dari lahan ayah saya sendiri. Klien pertama saya sebuah perusahaan cepat saji. Omzet yang saya terima Rp3 juta dengan keuntungan Rp500 ribu per minggu. Ang­ka segitu cukup besar bagi seorang mahasiswa,” cerita Sandi.

Sementara ayanhnya mengambil jalur retail sayur, Sandi bergerak pada bisnis horeka. Bisnisnya juga tidak selancar dugaan orang. San­di pernah menjadi korban penipuan dan mengalami depresi cukup berat. Berkat dukungan keluarga dan orang terdekat, Sandi kembali bang­kit dan merintis usahanya. Dalam kurun waktu empat tahun, sayur – mayur di bawah binaannya berhasil memasok 25 hotel di Jawa Barat. Ber­perilaku santun, rendah hati, akrab dengan para pegawai­nya adalah ciri khasnya.

Selain usaha budidaya lahan, Sandi juga membina Pusat Pelatihan Pertanian dan Pe­desaan (P4S) yang terbuka bagi siapa saja. Pada level bisnis, dirinya mengembang­kan PT Mitra Tani Parahyang sebagai perusahaan pemasok bahan baku hotel. Dalam menerapkan harga jual, pe­muda berusia 26 tahun ini menawarkan harga bagus untuk petani.

Kepiawaiannya merangkul petani, meyakinkan perusa­haan dan membangun team work adalah kunci sukses Sandi. Tidak hanya berorien­tasi profit, Sandi membantu petani sekitar dalam permo­dalan benih atau pestisida. “Misal, harga kentang petani Rp4 ribu, kami beli Rp8 ribu lalu kami jual ke perusahaan Rp11 ribu. Kenapa petani mau? Ini karena dari sisi value kita tambah, dari sisi pasar ada kejelasan,” ujarnya.

Berpenghasilan rata-rata Rp500 juta per bulan, Sandi bertekad meningkatkan lahan miliknya hingga 1.000 hek­tare. Bahkan dalam waktu dekat, Sandi tengah mengembangkan buah-bu­ahan dan agrowisata. Tidak hanya itu, Sandi tengah men­jalin bisnis ekspor ke Timur Tengah. Sandi menyebutkan, sejauh ini, Kementerian Per­tanian berperan banyak bagi kemajuan para petani. Dirinya meyakini, bisnis pertanian tidak akan mati dan senan­tiasa prospektif. Berhasil dengan bisnisnya ini, dia ber­harap, akan banyak figur muda pertanian sepertinya.

“Ada yang menanyakan ke­napa S2 terjun ke pertanian balik ke daerah. Di sini saya tekankan bahwa saya ingin jadi bagian dari perubahan paradigma. Banyak yang menganggap petani itu lecek, kucel dan rugi terus. Ketika kita bisa memanej dengan baik, dipadukan dengan keil­muan, Insya Allah akselerasi itu akan cepat. Saya berharap ada Sand Sandi yang lain. Disertai dukungan Kemente­rian Pertanian, bisnis ini akan makin seksi,” ucap Sandi.

Mengetahui sosok Sandi, Di­rektur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto berbangga hati dan turut senang. Kebera­daan anak muda yang berhasil di bidang pertanian patut di­tiru dan merupakan harapan keberlangsungan pertanian. ”Ini sangat luar bisa. Di usia 26 tahun menjadi miliarder di bidang pertanian patut menda­pat penghargaan tinggi. Dia bisa membuktikan dengan bertani bisa sejahtera. Bisa maju dan membangun negeri ini. Tentunya harapan kami bisa lahir anak-anak muda yang bergerak di bidang pertanian demi kedaulatan pangan,” ujar Anton. (rol/els)