Berkas Ditolak Jaksa, Orang Tua Minta Kepastian Hukum

by -141 views

METROPOLITAN Isak tangis Rahmawati (30) tak terbendung lagi ketika harus mengingat apa yang telah terjadi kepada anaknya, FAN (8). FAN diperkosa dan dibunuh H (23) di kontrakannya, Desa Cipayunggirang, Kecamatan Megamendung, Juni lalu.

Setelah dua bulan menunggu kepastian hukum, Rahmawati dan suaminya harus bersabar. Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Bogor mengembalikan berkas perkara tersebut ke penyidik Polres Bogor karena dinilai masih kekurangan saksi. Kelu­arga pun akhirnya meminta bantuan kantor Hukum Sem­bilan Bintang & Partners.

“Saya ke sini hanya minta bantuan untuk mendapatkan kepastian hukum. Nyawa ha­rus dibalas nyawa,” katanya . Ia masih ingat betul keluarga menceritakan bagaimana me­nemukan anaknya yang hilang tiga hari namun akhirnya di­temukan tak bernyawa dengan cara yang tragis. “Sakit hati saya jika harus mengingat apa yang sudah dilakukan tersangka,” imbuhnya.

Soal berkas yang ditolak jaksa, Kuasa hukum R Anggi Triana Ismail beranggapan hal itu merupakan lelucon dan ter­kesan jaksa tidak peka terhadap kebenaran materiil yang sudah ada. Apabila merujuk pada hukum pembuktian pidana sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 184 KUHP, se­perti adanya pengakuan ter­sangka/terdakwa, serta pe­tunjuk & surat seperti visum et repertum, seharusnya ke­jari cibinong tidak perlu me­minta saksi baru. Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Bo­gor AKP Benny Cahyadi mem­benarkan berkas yang disera­hkan ke kejaksaan P19, atau dikembalikan ke penyidik polres. “Penyidik sudah se­maksimal mungkin mengum­pulkan data. Sudah ada peng­akuan pelaku. Tapi jaksa be­ranggapan masih ada bebe­rapa hal yang kurang,” pung­kasnya. (cr2/b/els/run)

Loading...